Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Jatuh ke 6.071, 360 Saham Ditutup Merah

        IHSG Jatuh ke 6.071, 360 Saham Ditutup Merah Kredit Foto: Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Berdasarkan data BEI, IHSG berakhir di level 6.071,13, turun 50,56 poin atau 0,83% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya.

        Pada awal perdagangan, IHSG dibuka di level 6.187,04. Lalu, indeks sempat lama bertengger di zona hijau, hingga akhirnya menyentuh level terendah 6.071. 

        Dari keseluruhan saham yang diperdagangkan, sebanyak 360 saham melemah, sementara 308 saham menguat dan 125 saham lainnya bergerak stagnan.

        Aktivitas perdagangan juga cukup tinggi. Total volume transaksi mencapai 30,12 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp14,03 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,80 juta kali.

        Gerak IHSG Dihantam Sentimen Global dan Data Kuartal III

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak konsolidasi pada perdagangan Rabu (30/9/2026), seiring meningkatnya perhatian investor terhadap sentimen global dan penutupan kuartal III 2026.

        Berdasarkan riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 6.050-6.200. Investor juga diminta mewaspadai potensi peningkatan fluktuasi pasar karena perdagangan hari ini bertepatan dengan penutupan kuartal III 2026.

        Sentimen eksternal masih menjadi perhatian setelah bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Selasa (29/9). Pelemahan tersebut terjadi di tengah kenaikan imbal hasil atau yield US Treasury tenor panjang yang sempat menyentuh level tertinggi sejak Juni 2002.

        Tekanan terhadap pasar saham AS juga datang dari memburuknya sejumlah indikator ekonomi. Indeks kepercayaan konsumen AS turun ke level terendah dalam lebih dari 12 tahun pada 29 September 2026.

        Di pasar tenaga kerja, jumlah lowongan pekerjaan di AS pada Agustus 2026 turun sebanyak 256.000 menjadi 7,08 juta. Data tersebut menjadi salah satu indikator yang menunjukkan adanya pelemahan permintaan tenaga kerja di Negeri Paman Sam.

        Investor selanjutnya akan mencermati rilis indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) AS yang diperkirakan stabil di kisaran 3,7% secara tahunan (YoY) pada Agustus 2026. Data inflasi tersebut menjadi salah satu indikator yang diperhatikan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter AS.

        Baca Juga: IHSG Dibuka Menguat 0,27 Persen, Naik ke Level 6.121,70

        Baca Juga: 3 Saham Short Selling Ambruk, BRPT Paling Tertekan

        Baca Juga: Laba BRI Tumbuh Paling Mini di Antara Bank BUMN, NPL juga Tertinggi

        Dari dalam negeri, sentimen fiskal turut menjadi perhatian. DPR RI pada Selasa (29/9) resmi menetapkan RUU APBN 2027 menjadi undang-undang dengan target defisit sebesar 2,4% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

        Sementara itu, pergerakan sejumlah aset global juga menunjukkan dinamika yang beragam. Harga minyak mentah Brent melemah 2,6% ke level US$102 per barel pada perdagangan 29 September 2026.

        Di sisi lain, yield US Treasury 10 tahun naik lebih dari 1 basis poin ke level 5,235%. Kenaikan yield obligasi AS tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati karena dapat memengaruhi arus dana investor di pasar saham.

        Harga emas justru menguat 1,1% ke level US$4.157 per troy ounce.

        Dengan berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan cenderung bergerak konsolidasi di kisaran 6.050-6.200 pada perdagangan hari ini. Volatilitas juga berpotensi meningkat seiring aksi investor menjelang penutupan kuartal III 2026.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: