Kredit Foto: Istimewa
Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) hingga Agustus 2026 masih menghadapi tekanan. Pertumbuhan laba bersih BRI menjadi yang paling rendah dibandingkan empat bank pembanding lainnya. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) BRI juga berada di level tinggi.
Berdasarkan laporan keuangan publikasi per Agustus 2026, BRI mencatat laba bersih Rp34,77 triliun. Secara nominal, angka tersebut merupakan yang terbesar kedua setelah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang membukukan laba Rp37,48 triliun.
Namun, pertumbuhan laba BRI hanya mencapai 6,63% secara tahunan atau year on year (yoy). Laju pertumbuhan tersebut menjadi yang paling rendah di antara lima bank yang dibandingkan.
Bank Mandiri mencatat pertumbuhan laba sebesar 22,30% menjadi Rp37,48 triliun. Sementara itu, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 35,89%, dengan laba Rp2,71 triliun.
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) membukukan pertumbuhan laba 10,07% menjadi Rp5,30 triliun. Adapun PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatat pertumbuhan laba 6,89% menjadi Rp14,32 triliun.
Dengan demikian, pertumbuhan laba BRI sebesar 6,63% menjadi yang paling rendah di antara lima bank tersebut.
NPL BRI Masih Tinggi
Tekanan terhadap kinerja BRI juga terlihat dari kualitas kredit. NPL gross BRI tercatat sekitar 2,9% pada semester I-2026. Rasio tersebut berada di level tertinggi dalam kelompok bank pembanding, meski sangat berdekatan dengan BTN.
BTN mencatat NPL gross sebesar 2,99%. Sementara itu, NPL BNI berada di kisaran 1,90%-1,93%.
Bank Mandiri mencatat NPL sekitar 0,98% pada Juni 2026 dan meningkat menjadi 1% pada Agustus 2026. Adapun BSI menggunakan indikator Non-Performing Financing (NPF), yang berada di kisaran 1,75%-1,80%.
Tingginya NPL membuat BRI harus tetap menjaga pencadangan untuk mengantisipasi risiko kredit bermasalah. Kondisi tersebut dapat menekan pertumbuhan laba, meskipun BRI masih memiliki margin bunga yang relatif tinggi.
BRI mencatat Net Interest Margin (NIM) sekitar 6,4%. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Bank Mandiri sebesar 4,37%, BSI di kisaran 5,01%-5,4%, BTN 3,5%, dan BNI 3,55%.
Namun, NIM yang tinggi juga perlu diimbangi dengan biaya kredit atau cost of credit yang memadai. Hal ini penting untuk mengantisipasi risiko penurunan kualitas kredit, terutama pada portofolio kredit mikro yang menjadi salah satu bisnis utama BRI.
Di tengah tekanan terhadap pertumbuhan laba, skala bisnis BRI masih sangat besar. Total kredit yang disalurkan mencapai sekitar Rp1.655 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat Rp1.655,84 triliun atau tumbuh 12,59% yoy.
Dari sisi aset, BRI memiliki total aset sekitar Rp2.127 triliun. Namun, posisi tersebut masih berada di bawah Bank Mandiri yang mencatat aset Rp2.358,54 triliun atau tumbuh 20,72% yoy.
Baca Juga: Pertumbuhan Laba 3 Bank BUMN, BRI Paling Lemah Cuma 6,63%
Baca Juga: Emiten Tambang Sinar Mas (GEMS) Gapai Kredit US$42 Juta dari Bank Mandiri
Baca Juga: Emiten Boy Thohir (MGLV) Utang Rp10,75 Triliun ke BNI, Dana untuk Ekspansi Data Center
BNI mencatat total aset Rp1.434,11 triliun atau tumbuh 23,61%. Sementara itu, aset BTN mencapai Rp561,84 triliun atau naik 16,60%, sedangkan BSI mencatat aset Rp464,50 triliun.
Meski pertumbuhan laba BRI menjadi yang paling rendah, tingkat pengembalian ekuitas atau Return on Equity (ROE) masih berada di level 19,8%.
ROE BRI memang masih di bawah Bank Mandiri yang mencapai sekitar 21,5%. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan BSI sekitar 16,5%, BNI 13,5%, dan BTN 11,5%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya skala bisnis dan margin bunga masih menjadi penopang profitabilitas BRI. Namun, kualitas kredit tetap menjadi tantangan, terutama pada segmen mikro.
Karena itu, perbaikan kualitas kredit menjadi salah satu faktor penting bagi BRI untuk menjaga sekaligus mendorong kembali pertumbuhan laba. Hingga Agustus 2026, besarnya skala bisnis dan NIM yang relatif tinggi belum sepenuhnya mampu mengimbangi tekanan dari kredit bermasalah.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: