Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ada Reshuffle dan Rilis Data BPS, Rupiah Tertekan Dekati Level Rp18.000 per USD

        Ada Reshuffle dan Rilis Data BPS, Rupiah Tertekan Dekati Level Rp18.000 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.965 atau melemah 71 poin dimandikan penutupan sebelumnya di Rp17.894 per dolar AS.

        Pelemahan rupiah dipicu beberapa sentimen. Salah satunya perombakan susunan Kabinet Merah Putih. Sejumlah posisi menteri, wakil menteri, kepala badan, hingga pimpinan Ombudsman mengalami pergantian untuk melanjutkan sisa masa jabatan periode 2024–2029.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyampaikan pelemahan rupiah juga dipicu aktivitas manufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansi pada September 2026 setelah mengalami kontraksi di Agustus. 

        Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global hari ini, menunjukkan PMI Indonesia berada di 52,4 di September 2026 atau mengalami ekspansi. PMI berbalik arah dari sebelumnya fase kontraksi 49,8 di Agustus 2026. Indeks PMI di September yang mencapai 52,4 adalah yang tertinggi sejak Februari 2026 atau tujuh bulan.

        Secara bersamaan, Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami suplus US$ 3,55 miliar per Agustus 2026. Surplus ini ditopang oleh kinerja ekspor Indonesia yang mencapai US$ 26,61 miliar melampaui nilai impor US$ 23,06 miliar per Agustus 2026. 

        "Adapun, BPS mencatat nilai ekspor RI mencapai US$ 26,61 miliar atau naik 6,72% secara tahunan pada Agustus 2026," kata Ibrhaim kepada wartawan.

        Sementara itu, impor Indonesia tercatat sebesar US$23,06 miliar, naik 19,09 persen dibandingkan Agustus 2025. Demikian pula dengan impor nonmigas naik 17,20 persen menjadi US$19,53 miliar. 

        Baca Juga: Awal Perdagangan, Rupiah Kembali Tertekan di Level Rp17.908 per USD

        Baca Juga: BI Proyeksi Kebutuhan Valas Mulai Melemah di Akhir Tahun, Rupiah Bakal Menguat?

        "Menurut data BPS, ekspor Indonesia meningkat terutama didorong oleh sejumlah komoditas nikel yang naik 51,67% secara tahunan dan alumunium yang meroket hingga 206,78% secara tahunan pada Agustus 2026," kata dia.

        Kemudian, Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali meningkat pada September 2026. Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi dan sejumlah bahan pangan menjadi salah satu sumber tekanan terbesar.

        "IHK tercatat mengalami inflasi sebesar 0,30% secara bulanan (mtm) pada September 2026. Adapun, secara year on year, inflasi sebesar 3,28%," jelas dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: