AS Kecewa Berat Tarik Pasukan dari Irak, Iran Sorakkan Kemenangan Bersejarah!
Kredit Foto: Reuters/WANA/Iranian Army
Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Irak mendapat sambutan positif dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dalam pernyataannya, IRGC menyebut berakhirnya misi koalisi pimpinan AS di Irak sebagai "kemenangan bersejarah" dan meminta Washington menarik seluruh pasukannya dari kawasan Timur Tengah.
Misi koalisi pimpinan AS di Irak secara resmi berakhir pada 30 September 2026 setelah lebih dari satu dekade menjalankan operasi melawan kelompok Islamic State (ISIS). Penarikan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan yang sebelumnya dicapai Baghdad dan Washington untuk mengakhiri misi koalisi di Irak.
IRGC menilai berakhirnya kehadiran militer AS membuka jalan bagi negara-negara di kawasan untuk menangani persoalan keamanan mereka sendiri. Dalam pernyataannya, mereka menyerukan agar Amerika tidak lagi mempertahankan kehadiran militernya di Timur Tengah.
"AS harus meninggalkan kawasan ini dan menyerahkan pengelolaan keamanan kepada bangsa-bangsa itu sendiri," kata IRGC.
IRGC juga menyebut keberadaan pasukan Amerika selama bertahun-tahun tidak menghasilkan keamanan di kawasan. Mereka justru menilai kehadiran tersebut sebagai salah satu sumber ketidakamanan, terorisme, dan ketidakstabilan di Asia Barat.
Penarikan pasukan AS dilakukan setelah koalisi internasional yang dibentuk pada 2014 berhasil membantu Irak merebut kembali wilayah yang sebelumnya dikuasai ISIS. Kelompok tersebut kehilangan kendali teritorial utamanya di Irak pada 2017 dan di Suriah pada 2019, meski ancaman dari sisa-sisa ISIS masih menjadi perhatian keamanan.
Bagi Baghdad, berakhirnya misi koalisi juga berkaitan dengan upaya memperkuat kendali pemerintah atas keamanan nasional. Pemerintah Irak sebelumnya menilai keberadaan pasukan asing menjadi salah satu alasan yang digunakan sejumlah faksi bersenjata yang didukung Iran untuk mempertahankan persenjataan mereka.
Di sisi lain, penarikan AS tidak sepenuhnya menghilangkan kekhawatiran mengenai keamanan Irak. Sejumlah laporan menyoroti risiko munculnya ruang yang lebih besar bagi kelompok bersenjata yang memiliki hubungan dengan Iran maupun kembalinya aktivitas ISIS, terutama ketika pasukan Irak harus mengambil alih lebih banyak tanggung jawab keamanan.
Baca Juga: Bandingkan AS dengan Hitler, Iran Bongkar Kelakuan Amerika yang Sundul Perang tapi Merasa Diprotes
Pemerintah Irak juga tengah mendorong agar kepemilikan senjata berada di bawah kendali negara. Dalam perkembangan sebelumnya, Perdana Menteri Ali al-Zaidi menetapkan 30 Juni 2027 sebagai tenggat bagi kelompok-kelompok bersenjata untuk menyerahkan senjata mereka kepada pemerintah.
Dengan berakhirnya misi koalisi, Irak memasuki fase baru dalam pengelolaan keamanan nasional. Sementara itu, Iran menggunakan momentum tersebut untuk kembali menyerukan pengakhiran seluruh kehadiran militer Amerika di Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa penarikan AS dari Irak juga memiliki dampak terhadap dinamika kekuatan regional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: