Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Investasi Data Center AI di Jatiluhur Disorot, Lingkungan Jadi Perhatian

        Investasi Data Center AI di Jatiluhur Disorot, Lingkungan Jadi Perhatian Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Bandung -

        Investasi pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Jawa Barat menjadi perhatian dalam pembahasan antara Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali.

        Proyek data center BDx di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, dinilai memiliki potensi ekonomi, tetapi membutuhkan perhitungan matang agar investasi tidak menimbulkan persoalan baru bagi lingkungan dan masyarakat.

        Pertemuan Dedi dan Rhenald berlangsung di Rumah Perubahan, Kota Bekasi, Minggu (4/10/2026). Salah satu isu yang dibahas adalah arah investasi di Jawa Barat, termasuk pengembangan infrastruktur digital seperti data center.

        Rhenald menilai masuknya investasi tetap penting bagi perekonomian Jawa Barat. Namun, manfaat ekonomi dari investasi perlu dihitung secara menyeluruh dengan mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kebutuhan masyarakat.

        Menurut dia, pemerintah perlu memastikan sebuah proyek tidak hanya menghasilkan aktivitas ekonomi dan lapangan pekerjaan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang bagi daerah.

        "Jangan sampai menyelesaikan satu persoalan menciptakan persoalan-persoalan baru. Seorang pemimpin harus bisa melihat itu secara utuh, terintegrasi. Jangan terburu-buru," ujar Rhenald

        Sorotan tersebut relevan dengan rencana pembangunan data center BDx di Jatiluhur yang memiliki nilai investasi sekitar Rp3,5 triliun. Proyek tersebut menjadi perhatian karena kebutuhan infrastruktur dan sumber daya yang besar, termasuk air untuk operasional pusat data.

        Data yang disampaikan sebelumnya menyebut fasilitas tahap awal data center tersebut memiliki kapasitas 120 megawatt (MW), dengan rencana pengembangan hingga 640 MW.

        Kebutuhan airnya juga diperkirakan dapat mencapai sekitar 384 liter per detik atau sekitar 33 ribu meter kubik per hari.

        Kondisi tersebut membuat pengembangan data center tidak hanya berkaitan dengan investasi sektor teknologi, tetapi juga menyangkut pengelolaan sumber daya yang memiliki fungsi ekonomi bagi masyarakat.

        Waduk Jatiluhur sendiri memiliki sejumlah fungsi, mulai dari irigasi, penyediaan air baku, kebutuhan industri dan pertanian, perikanan hingga pembangkit listrik. Karena itu, Rhenald mengingatkan agar keputusan investasi dilakukan berdasarkan kajian yang terintegrasi.

        Di sisi lain, Dedi menegaskan Pemprov Jawa Barat tetap membuka ruang bagi investasi. Menurut dia, masuknya modal dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sektor digital di Jawa Barat.

        Namun, keterbukaan investasi tetap harus berjalan bersama kepatuhan terhadap regulasi.

        "Investasi harus datang, tapi lingkungan harus dijaga. Tidak boleh rusak," ujar Dedi.

        Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya menghentikan sementara pembangunan data center AI di Jatiluhur karena persyaratan perizinan belum lengkap, termasuk PBG dan dokumen terkait AMDAL.

        Dedi menyatakan proyek dapat dilanjutkan apabila seluruh ketentuan yang dipersyaratkan telah dipenuhi.

        Baca Juga: Proyek Data Center Jatiluhur Disetop, Ekonom: Bisa Ganggu Target Investasi Rp360 Triliun

        Baca Juga: Data Center & AI Mulai Berburu Energi Hijau, Geo Dipa Bidik Peluang Baru

        Persoalan tersebut menempatkan pemerintah pada dua kepentingan yang harus berjalan beriringan, yakni menjaga daya tarik investasi sekaligus memastikan proyek memiliki kepastian regulasi dan tidak menimbulkan biaya sosial maupun lingkungan di kemudian hari.

        Rhenald juga menekankan pentingnya ketegasan pemerintah apabila suatu investasi terbukti melanggar ketentuan lingkungan. Menurutnya, pengawasan dan penegakan aturan menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas investasi.

        Sementara itu, Dedi meminta Rhenald terus memberikan masukan terhadap kebijakan pembangunan di Jawa Barat. Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi digital membutuhkan pertimbangan yang lebih luas, terutama ketika investasi berskala besar bersinggungan dengan sumber daya strategis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Saepulloh
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: