Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
Akses listrik dinilai perlu diikuti dengan program pemberdayaan agar manfaatnya tidak berhenti pada tersambungnya rumah tangga ke jaringan listrik.
Program Light Up the Dream (LUTD) PLN UID Jawa Barat dinilai memiliki peluang untuk menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas dan aktivitas ekonomi masyarakat penerima manfaat.
Pengamat Kebijakan Publik Universitas Padjadjaran (Unpad), Bonti Wiradinata, mengatakan keberadaan listrik merupakan tahap awal yang dapat membuka peluang lebih besar bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf ekonomi.
“Stabilitas listrik adalah sebuah output, pintu awal untuk mendorong initial outcome dan ultimate outcome,” kata Bonti, Senin (5/10/2026)
Menurutnya, akses listrik memberikan fondasi bagi keluarga untuk menjalankan berbagai aktivitas yang sebelumnya terbatas. Selain mendukung kegiatan belajar dan kebutuhan rumah tangga, listrik dapat dimanfaatkan untuk menyimpan makanan, menggunakan perangkat digital, hingga mengembangkan usaha rumahan.
Karena itu, Bonti menilai keberhasilan LUTD sebaiknya tidak hanya dilihat dari jumlah rumah tangga yang mendapatkan sambungan listrik. Indikator yang lebih luas seperti peningkatan produktivitas, pendapatan, dan kemandirian ekonomi masyarakat juga perlu menjadi perhatian.
“Ketika listrik hadir di suatu daerah, harus ada program lanjutan untuk membangun ekosistem yang integratif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ekosistem tersebut dapat mencakup pengembangan UMKM, penyediaan alat produksi, akses pembiayaan, digitalisasi, pelatihan keterampilan, hingga pembukaan akses pasar.
Dengan dukungan tersebut, masyarakat penerima manfaat memiliki peluang lebih besar untuk mengubah akses energi menjadi aktivitas ekonomi. Pelaku usaha rumahan, misalnya, dapat memanfaatkan peralatan listrik untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus memperluas jenis produk yang dihasilkan.
Menurut Bonti, penguatan akses internet dan teknologi digital juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Konektivitas dapat membuka akses masyarakat terhadap informasi, pasar, layanan keuangan, serta peluang usaha yang lebih luas.
Namun, pemanfaatan teknologi perlu dibarengi dengan peningkatan literasi digital. Tanpa kemampuan yang memadai, akses digital berpotensi lebih banyak digunakan untuk konsumsi dibandingkan mendukung kegiatan produktif.
Bonti menilai LUTD PLN UID Jawa Barat dapat menjadi pintu masuk untuk menghubungkan akses listrik dengan program pemberdayaan masyarakat berdasarkan potensi ekonomi masing-masing daerah.
Baca Juga: PLN EPI Uji Coba Co-Firing Amonia di PLTU Labuan pada 2027
Baca Juga: AHY Akui Partai Demokrat Butuh Influencer Seperti Aldi Taher: Sebetulnya Kami Ingin Terus Menyapa...
Program lanjutan dapat diarahkan pada pelatihan, penyediaan fasilitas produksi, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan UMKM. Pemerintah daerah juga dinilai perlu dilibatkan karena memiliki pemetaan mengenai kebutuhan serta potensi ekonomi masyarakat di wilayahnya.
Pendekatan tersebut, kata Bonti, dapat mengubah orientasi program dari sekadar memastikan “listrik masuk” menjadi bagaimana “listrik menghasilkan”.
"Dengan pola tersebut, akses energi tidak hanya menjadi fasilitas dasar rumah tangga, tetapi dapat berkembang menjadi salah satu fondasi rantai ekonomi masyarakat, mulai dari peningkatan produktivitas dan pendapatan, pengembangan usaha, hingga berpotensi mendorong investasi serta penciptaan lapangan kerja,"pungkasnya
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: