Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pansus CSR DPRD DKI Apresiasi Biodigester Bank Jakarta: Ubah Sampah Organik Rusunawa Rorotan Jadi Biogas

        Pansus CSR DPRD DKI Apresiasi Biodigester Bank Jakarta: Ubah Sampah Organik Rusunawa Rorotan Jadi Biogas Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Panitia Khusus Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Perusahaan (Pansus CSR/TJSL) DPRD Provinsi DKI Jakarta mengapresiasi inovasi pengolahan sampah organik berbasis biodigester komunal yang digagas oleh Bank Jakarta.

        Apresiasi tersebut disampaikan langsung oleh Ketua Pansus CSR/TJSL DPRD DKI Jakarta, Ghozi Zulazmi, saat memimpin kunjungan kerja meninjau fasilitas pengolahan sampah di Rusunawa Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

        Ghozi menilai langkah konkret ini sangat berdampak positif bagi masyarakat di kawasan pemukiman padat penduduk, terutama dalam mengatasi permasalahan timbunan sampah rumah tangga.

        "Sekitar 60 persen sampah kita itu organik dari dapur atau rumah tangga yang memang butuh pengolahan khusus. Kami berharap dengan adanya biodigester ini, sampah bisa terolah langsung di tempat dan dihasilkan menjadi energi terbarukan berupa biogas yang bisa digunakan kembali oleh para penghuni rusun untuk memasak," ujar Ghozi di lokasi.

        Peninjauan lapangan ini turut dihadiri oleh Kepala Pokja Pengembangan Ekonomi Sirkular Direktorat Pengurangan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Asep Setiawan serta Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Edy Mulyanto.

        Ghozi menjelaskan, agenda ini merupakan bagian dari fungsi pengawasan legislatif terhadap pelaksanaan program TJSL Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Selain itu, DPRD DKI saat ini juga tengah mendorong pembentukan Peraturan Daerah (Perda) khusus mengenai CSR agar memiliki payung hukum yang kuat.

        "Mindset selama ini CSR adalah bentuk sukarela atau hadiah, padahal sebenarnya TJSL ini adalah bentuk kewajiban yang dilakukan oleh perusahaan, termasuk BUMD. Kami berharap program ini tidak berhenti di Jakarta Utara saja, tetapi juga dilebarkan ke wilayah lain seperti Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dan kawasan padat penduduk lainnya," kata Ghozi.

        Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H Widodo, menyatakan bahwa pembangunan fasilitas biodigester merupakan wujud komitmen perseroan dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di DKI Jakarta.

        "Bagi Bank Jakarta, program lingkungan ini bukan hanya sekadar instalasi, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih dekat dengan masyarakat dan memiliki manfaat langsung. Pengolahan sampah menjadi energi terbarukan saat ini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sudah menjadi satu kebutuhan bagi Jakarta," jelas Agus.

        Ia memaparkan, instalasi biodigester di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Kelurahan Rawa Badak Utara menggunakan digester berbahan *fiberglass* yang didukung mesin pembubur sampah organik berkapasitas 250 kg per jam.

        Fasilitas komunal ini memberikan multi-manfaat, di antaranya:

        • Pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 154,4 ton CO2e per tahun
        • Produksi biogas pengganti LPG untuk memasak warga
        • Menghasilkan 400 hingga 450 liter pupuk organik cair per hari.
        • Menghasilkan 50 hingga 100 kg pupuk padat per hari untuk mendukung program urban farming warga.

        Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara, Edy Mulyanto, menyambut baik kolaborasi sinergis antara perbankan daerah, Pemprov DKI, dan kementerian dalam menangani sampah langsung dari sumbernya. Terlebih, Jakarta Utara telah ditetapkan sebagai wilayah *pilot project road map* Pengelolaan Sampah di Indonesia.

        "Di Rusunawa Rorotan ini ada empat tower dengan sekitar 300 hingga 400 KK. Dengan estimasi timbunan sampah rata-rata, fasilitas biodigester berkapasitas pengolahan hingga 1,2 ton per hari ini akan sangat optimal menyerap sampah organik dari sisa olahan dapur warga," ujar Edy.

        Ia menambahkan, kehadiran sarana pengolahan di tingkat lokal terbukti berhasil mengubah kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Berdasarkan data di lokasi percontohan, tingkat pemilahan sampah warga melonjak drastis dari sebelumnya hanya 5 persen kini mencapai hampir 90 persen.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: