Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Prabowo Reshuffle Kabinet, Pakar: Matahari Baru Mulai Bersinar, Kekuatan Lama Makin Tenggelam

        Prabowo Reshuffle Kabinet, Pakar: Matahari Baru Mulai Bersinar, Kekuatan Lama Makin Tenggelam Kredit Foto: Youtube Sekretariat Presiden
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Perombakan Kabinet Merah Putih yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto pada awal Oktober 2026 masih terus menjadi bahan perbincangan. Meski sebagian perubahan disebut hanya berupa pergeseran posisi, langkah tersebut dinilai dapat menjadi sinyal awal perubahan peta kekuatan politik nasional.

        Pakar Komunikasi Politik Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Henri Subiakto, turut membaca arah perubahan tersebut. Menurutnya, reshuffle kali ini belum bisa disebut sebagai pemutusan total dengan kekuatan lama, tetapi tanda-tanda munculnya kekuatan baru mulai terlihat.

        "Walau belum terang benderang, karena masih berwujud pergeseran-pergeseran. Belum berarti adanya pemutusan total dengan kekuatan lama," kata Henri Subiakto.

        Baca Juga: 'Kalau Gak Masuk Kasihan', Syahganda Disebut Masuk Istana Bukan Tanda Prabowo-Jokowi Retak

        Namun, Henri melihat perubahan tersebut berpotensi semakin nyata ke depan. Ia menggunakan perumpamaan matahari untuk menggambarkan pergeseran pengaruh antara kekuatan lama dan kekuatan baru dalam politik nasional.

        "Tapi tanda-tanda matahari baru lebih bersinar terang dari pada matahari yang kemarin sudah tenggelam, maka perubahan itu akan makin terasa dan makin nyata," ujarnya.

        Menurut Henri, perubahan peta kekuatan politik biasanya akan diikuti oleh penyesuaian sikap dari para elite. Mereka dinilai cenderung mendekat kepada kekuatan yang dianggap lebih kuat dibandingkan bertahan bersama kekuatan yang pengaruhnya mulai melemah.

        "Biasanya masyarakat dan elit itu akan menyesuaikan diri dengan cara lebih mendekat pada penguasa baru, atau kekuatan baru yang sinarnya lebih terang, dari pada Matahari yang sudah tenggelam," ungkap dia.

        Baca Juga: Sindir Pendidikan Gibran, Ahmad Khozinudin: Jangankan Jabatan Wapres, Ketua RT Saja Tidak Sah

        Ia menjelaskan, secara natural kekuatan yang lebih kuat dan dianggap lebih pasti akan memiliki gravitasi politik yang lebih besar. Kondisi itu membuat dukungan lebih mudah bergeser dari penguasa yang dinilai sudah melemah struktur kekuasaannya.

        Henri juga menyinggung dinamika loyalitas dalam politik. Menurutnya, hubungan antarelite tidak selalu bersifat permanen karena kepentingan dan kekuasaan menjadi faktor yang ikut menentukan arah dukungan.

        "Makna politiknya, adalah tidak ada teman abadi. Tidak ada pula patron politik abadi. Yang ada hanyalah kepentingan untuk mendapat keuntungan dan posisi yang lebih aman," jelasnya.

        Perubahan loyalitas politik, lanjut Henri, juga dapat terjadi ketika seseorang melihat pengaruh kelompok yang selama ini didukung mulai berkurang. Perhitungan mengenai kepentingan dan posisi masa depan kemudian menjadi pertimbangan untuk menentukan arah politik berikutnya.

        "Di situlah mengapa orang sering pindah loyalitas. Sering berubah haluan politik jadi ikut kelompok, atau pihak penguasa baru. Karena tak lain didasari kalkulasi-kalkulasi kepentingan tertentu untuk masa depan," lanjut dia.

        Meski begitu, Henri menyebut tetap ada tokoh yang memilih bertahan bersama kelompok atau kekuatan politik sebelumnya. Menurut dia, sebagian tokoh dapat sulit mengubah posisi karena alasan politik maupun garis kepartaian.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Bagikan Artikel: