Kredit Foto: BPMI
Pakar ilmu pemerintahan, Muhammad Ryaas Rasyid, menilai Presiden Prabowo Subianto merupakan sosok yang baik karena selalu mengingat utang budi kepada orang-orang yang berjasa dalam perjalanan politiknya.
Salah satunya, menurut Ryaas, adalah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan mantan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo, yang dinilai memiliki peran dalam kemenangan Prabowo pada Pilpres 2024.
Baca Juga: Dokter Tifa Sebut Perombakan Besar-Besaran Polri Berkaitan dengan Kasus Ijazah Jokowi
Ryaas menilai Jokowi dan Prabowo hingga kini masih merupakan satu kesatuan secara politik. Karena itu, ia menganggap reshuffle kabinet yang dilakukan baru-baru ini tidak bisa serta-merta dimaknai sebagai upaya 'dejokowisasi'.
Meski dicopot dari jabatan Kapolri, Listyo Sigit justru mendapat posisi baru dalam pemerintahan. Pada perombakan kabinet Kamis (1/10/2026), Prabowo melantiknya sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).
"Jokowi dengan Prabowo masih satu kesatuan. Jangan kita tertipu oleh berbagai macam spekulasi di luar. Mereka satu kesatuan. Jadi Prabowo tetap utang budi kepada Jokowi. Kepada Listyo saja dia utang budi, apalagi kepada Jokowi, Listyo kan melaksanakan perintah Jokowi," ujarnya dalam kanal YouTube Forum Keadilan TV, dikutip Selasa (6/10).
Ryaas menilai Prabowo sebagai pribadi merupakan sosok yang menghargai jasa orang lain.
"Jadi Prabowo ini sebagai pribadi ya dia baik. Orang yang selalu merasa utang budi itu sebenarnya orang baik loh. Dia menghargai jasa orang kan," katanya.
Namun, menurut Ryaas, persoalannya menjadi berbeda ketika dikaitkan dengan kepentingan negara dan publik.
"Nah, cuma dalam konteks kenegaraan menjadi pertanyaan buat kita karena ketika bicara mengenai kepentingan publik, kepentingan masa depan bangsa, maka semua pertimbangan pribadi, utang budi dan segala macam bisa disingkirkan.Kalau kita sebagai negara. Cuma memang belum jadi negarawan sih," ujarnya.
Baca Juga: Pakar Singgung Utusan Prabowo ke MK, Putusan Spektakuler soal Gibran Bisa Terjadi
Ryaas kemudian menilai Prabowo belum dapat disebut sebagai negarawan.
"Karena seorang jadi negarawan itu kan perjalanannya panjang membentuk suatu kesadaran. Belum jadi negarawan. Mungkin dia berjuang nanti satu waktu. tapi sampai sekarang belum bisa dikatakan negarawan," tandasnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
Tag Terkait: