Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menargetkan investasi hilirisasi dalam empat tahun ke depan mencapai Rp3.800 triliun. Investasi tersebut akan diarahkan ke 28 komoditas yang tersebar di delapan sektor.
"Investasi ke depan ditargetkan bisa Rp3.800 triliun dalam empat tahun ke depan," kata Airlangga dalam acara Bisnis Indonesia Group: Downstream Insight 2026, Selasa (6/10/2026).
Airlangga mengatakan pemerintah terus memperluas agenda hilirisasi melalui peta jalan yang mencakup 28 komoditas dalam delapan sektor.
Secara keseluruhan, kebutuhan investasi untuk mengembangkan berbagai komoditas tersebut diperkirakan mencapai US$618 miliar. Pemerintah menargetkan investasi itu mampu mendorong nilai ekspor Indonesia hingga US$857 miliar, dengan nilai tambah yang dihasilkan sekitar US$235,9 miliar.
Airlangga mengatakan hilirisasi berpotensi menjadi salah satu penggerak utama peningkatan ekspor nasional. Saat ini, nilai ekspor Indonesia telah mendekati US$500 miliar.
“Kalau dengan hilirisasi ini nambah, maka ekspor kita bisa double dari angka tersebut,” ujar Airlangga.
Menurut dia, agenda hilirisasi tidak hanya diarahkan pada komoditas mineral dan batu bara. Pemerintah juga memperluas pengembangan industri berbasis sumber daya alam terbarukan, mulai dari perkebunan, pertanian, kehutanan, hingga perikanan.
Kelapa sawit, misalnya, telah memiliki lebih dari 200 produk turunan. Sementara karet tidak lagi hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi telah dikembangkan menjadi berbagai produk seperti ban yang memiliki pasar ekspor.
“Jadi hilirisasi bukan hanya mineral, tetapi komoditas-komoditas sumber daya yang renewable juga,” kata Airlangga.
Di sektor mineral, nikel menjadi salah satu contoh keberhasilan hilirisasi dalam meningkatkan nilai ekspor. Airlangga menyebut nilai ekspor produk berbasis nikel melonjak dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi sekitar US$34 miliar pada tahun lalu.
Hilirisasi juga dinilai berdampak terhadap persebaran investasi dan aktivitas ekonomi di luar Pulau Jawa. Porsi investasi di luar Jawa kini mencapai 75,7%, sejalan dengan lokasi sumber bahan baku mineral dan sumber daya alam yang sebagian besar berada di luar Jawa.
“Di Jawa itu manufaktur, di luar Jawa itu sumber daya mineral atau sumber daya alam base,” ujarnya.
Perkembangan tersebut turut mendorong pertumbuhan ekonomi di sejumlah wilayah, terutama Sulawesi, Maluku, dan Papua. Airlangga mencontohkan investasi berbasis nikel di Sulawesi Tengah yang telah mencapai Rp56,1 triliun, sementara investasi di Maluku mencapai Rp53,9 triliun.
Meski demikian, Airlangga menegaskan hilirisasi tidak dapat disamakan dengan industrialisasi. Hilirisasi merupakan salah satu bagian dari pembangunan industri nasional.
“Hilirisasi tidak sama dengan industrialisasi. Hilirisasi salah satu daripada industri,” katanya.
Karena itu, pemerintah juga terus mendorong pengembangan sektor manufaktur lain, seperti otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast-moving consumer goods (FMCG), serta sektor strategis lainnya.
Baca Juga: Airlangga Tegaskan Tiket Pesawat Tak Masuk dalam Paket Stimulus Ekonomi
Baca Juga: Airlangga Hadir di Istana Naik Maung, Sebut Baru Mulai Digunakan Hari Ini
Pemerintah menargetkan kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional dapat ditingkatkan hingga di atas 20%.
Di sisi lain, agenda hilirisasi masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku dan energi. Pemerintah perlu memastikan kebutuhan energi industri semakin dipenuhi dari sumber energi hijau agar produk Indonesia mampu memenuhi tuntutan pasar global.
Ke depan, Airlangga juga mendorong agar hilirisasi semakin mengandalkan teknologi. Pemanfaatan artificial intelligence (AI), machine learning, Internet of Things (IoT), dan otomatisasi dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperkuat daya saing industri nasional.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: