Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Perubahan Struktural Politik-Ekonomi Eropa: Dari Integrasi ke Kedaulatan

        Perubahan Struktural Politik-Ekonomi Eropa: Dari Integrasi ke Kedaulatan Kredit Foto: Antara/Media Center KTT ASEAN 2023/Zabur Karuru
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pada 5 Oktober 2026, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengumumkan pemilu dipercepat pada 29 November 2026. Keputusan tersebut menambah rangkaian perubahan politik di Eropa. Partai-partai tradisional kehilangan dukungan, sementara kelompok nasionalis, populis, dan antikemapanan menguat. Perubahan tersebut mulai memengaruhi arah kebijakan Uni Eropa (UE).

        Gejala ini lebih luas daripada sekadar pergeseran ke kanan. Setelah puluhan tahun integrasi menjadi arah utama politik-ekonomi Eropa, kepentingan dan kewenangan nasional kembali mendapat tekanan untuk didahulukan. Pergeseran tersebut terjadi ketika tekanan geopolitik dan persaingan ekonomi justru menuntut kerja sama yang lebih erat.

        Kontradiksi inilah yang menjadi persoalan utama Eropa: politik domestik mendorong negara kembali mengambil kendali, sementara keamanan dan daya saing global menuntut skala Eropa.

        Ketidakpuasan terhadap Kemapanan Politik

        Dukungan kepada kelompok antikemapanan tumbuh dari ketidakpuasan terhadap kemampuan pemerintah mengatasi persoalan sehari-hari. Biaya hidup dan perumahan meningkat, sementara migrasi memperuncing perdebatan mengenai pelayanan publik dan identitas nasional. Pertumbuhan ekonomi pun tidak selalu diterjemahkan masyarakat sebagai peningkatan kesejahteraan.

        Spanyol memperlihatkan persoalan tersebut. Meskipun pertumbuhan ekonominya relatif tinggi, masalah perumahan dan kepercayaan terhadap pemerintah tetap menonjol. Keputusan Sánchez menggelar pemilu lebih awal muncul setelah parlemen menolak dua kebijakan perumahan yang diajukan pemerintah. Pemilu November membuka kemungkinan perubahan konfigurasi pemerintahan dan, pada gilirannya, orientasi Spanyol dalam perundingan kebijakan UE.

        Di Jerman, survei INSA pada awal Oktober 2026 menempatkan Alternative für Deutschland (AfD) pada 30 persen, dibandingkan CDU/CSU sebesar 18 persen. Di Prancis, Rassemblement National (RN) menguat menjelang pemilu presiden 2027. Marine Le Pen kembali dapat mencalonkan diri setelah putusan banding Juli 2026 mengurangi masa larangan pencalonannya, meskipun proses kasasi masih berjalan.

        Perkembangan di kedua negara penting mengingat posisi Jerman dan Prancis dalam integrasi Eropa.

        Namun, antikemapanan tidak selalu berarti kanan nasionalis. Viktor Orbán dikalahkan Partai Tisza pimpinan Péter Magyar dalam pemilu Hongaria pada 12 April 2026 setelah 16 tahun berkuasa. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pemilih dapat menghukum pemerintahan tanpa selalu mengubah seluruh pandangan ideologisnya.

        Dukungan kepada partai nasionalis juga tidak otomatis berarti mandat untuk keluar dari UE. Banyak pemilih masih menghendaki manfaat pasar tunggal, peluang kerja lintas negara, dan stabilitas ekonomi, sekaligus menolak kewenangan Brussels yang dianggap terlalu jauh.

        Perbedaan antara tuntutan pemilih dan agenda pemimpin partai menjadi penting, terutama ketika partai tersebut memperoleh kekuasaan.

        Kedaulatan Nasional dan Tekanan Eksternal

        Integrasi Eropa bertumpu pada kesediaan negara anggota menyerahkan sebagian kewenangan kepada institusi bersama karena manfaat ekonomi dan politiknya dianggap lebih besar. Keseimbangan tersebut kini dipersoalkan, terutama dalam kebijakan migrasi, fiskal, dan industri.

        Sebagian kelompok nasionalis memilih mengubah UE dari dalam daripada mengampanyekan keluar seperti dalam Brexit. Belum jelas apakah pilihan tersebut merupakan strategi setelah melihat biaya Brexit atau sekadar taktik untuk memenangkan suara. Kebijakan setelah mereka berkuasa akan menjadi ujian sebenarnya.

        Pada saat yang sama, perang Ukraina, tuntutan peningkatan belanja pertahanan, kebijakan perdagangan Amerika Serikat, dan persaingan industri dengan China memperbesar kebutuhan koordinasi.

        Program Security Action for Europe (SAFE), misalnya, menyediakan pinjaman hingga €150 miliar bagi negara anggota untuk meningkatkan investasi pertahanan melalui pengadaan bersama.

        Laporan Mario Draghi juga memperkirakan kebutuhan tambahan investasi Eropa sebesar €750–800 miliar per tahun untuk meningkatkan produktivitas dan mencapai berbagai sasaran ekonomi, sosial, serta lingkungan. Komisi Eropa sendiri masih menggunakan angka tersebut sebagai salah satu dasar penguatan Savings and Investments Union.

        Di sinilah kontradiksi Eropa semakin jelas. Politik domestik mendorong kewenangan nasional yang lebih besar, sedangkan keamanan, investasi, dan daya saing global menuntut skala serta pembiayaan bersama.

        Ketika Risiko Politik Masuk ke Pasar Keuangan

        Kontradiksi tersebut tidak hanya terlihat dalam politik. Pasar keuangan mulai memberikan harga terhadap ketidakpastian politik dan fiskal.

        Pada awal Oktober 2026, selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman mendekati 150 basis poin setelah meningkat tajam dalam beberapa minggu. Imbal hasil obligasi Prancis bertenor 10 tahun juga mendekati 5 persen ketika pemerintah mengajukan rancangan anggaran 2027 dengan penghematan baru sekitar €43 miliar.

        Dengan demikian, ketidakpastian politik telah masuk ke biaya pembiayaan bahkan sebelum perubahan kebijakan terjadi.

        Persoalan pembiayaan ini tidak terbatas pada Prancis. Komisi Eropa mengusulkan anggaran bersama hampir €2 triliun untuk periode 2028–2034. Proposal tersebut masih harus melalui perundingan dengan Parlemen Eropa dan Dewan UE.

        Pada saat kebutuhan investasi pertahanan dan industri meningkat, perundingan kontribusi anggaran akan menjadi semakin sensitif ketika pemerintah nasional juga menghadapi tekanan untuk mengurangi pengeluaran.

        Nasionalisme ekonomi juga tidak selalu berarti liberalisasi pasar. Subsidi dan perlindungan industri justru dapat meningkat dan memperbesar fragmentasi pasar Eropa.

        Tiga Skenario hingga 2030

        Perkembangan tersebut setidaknya membuka tiga kemungkinan arah Eropa hingga 2030.

        Pertama, integrasi yang disesuaikan.

        Pemerintah nasional memperoleh fleksibilitas domestik lebih besar, tetapi tetap mendukung pembiayaan pertahanan, energi, dan pasar modal bersama. Kesepakatan anggaran 2028–2034 serta kemajuan penyatuan pasar modal akan memperkuat skenario ini.

        Kedua, fragmentasi bertahap.

        UE tetap bertahan secara kelembagaan, tetapi penolakan terhadap tambahan kontribusi anggaran atau pendanaan bersama menghambat pengambilan keputusan. Integrasi formal tetap ada, tetapi efektivitas ekonominya melemah.

        Dalam kondisi tersebut, investor menghadapi kebijakan industri yang tidak seragam dan ketidakpastian mengenai pembiayaan bersama.

        Ketiga, disintegrasi selektif.

        Pemerintahan nasional menolak keputusan UE yang mengikat, menuntut pengecualian yang lebih luas, atau kembali menyerukan referendum keanggotaan.

        Hasil pemilu Spanyol pada November 2026 dan Prancis pada 2027, kebijakan pemerintahan baru Hongaria, serta keputusan mengenai anggaran UE akan menjadi indikator penting untuk melihat arah ketiga skenario tersebut.

        Implikasi bagi Indonesia

        Perubahan politik Eropa berkaitan langsung dengan hubungan ekonomi Indonesia dan UE, termasuk persetujuan dan pelaksanaan Indonesia–EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

        Dari pengalaman saya berunding dengan Uni Eropa, negosiasi sehari-hari berlangsung dengan diplomat dan birokrat di Brussels, tetapi keputusan akhir memerlukan persetujuan politik Dewan UE dan Parlemen Eropa. Kepentingan domestik negara anggota karena itu tidak dapat diabaikan. Perjanjian Perlindungan Investasi (Investment Protection Agreement/IPA) juga memiliki proses persetujuan tersendiri.

        Pengalaman kelapa sawit memperlihatkan bagaimana kepentingan domestik dapat memengaruhi kebijakan lingkungan. Minyak sawit dikategorikan berisiko tinggi terhadap perubahan penggunaan lahan tidak langsung sehingga kontribusinya terhadap target energi terbarukan dibatasi secara bertahap, sedangkan minyak rapa produksi Eropa tidak dikenai pembatasan serupa.

        Dalam kebijakan deforestasi (European Union Deforestation Regulation/EUDR), Indonesia dikategorikan berisiko standar, sedangkan seluruh negara anggota UE berada dalam kategori risiko rendah.

        Perbedaan perlakuan tersebut menunjukkan mengapa Indonesia perlu mencermati proses politik di balik perumusan aturan, bukan hanya tujuan lingkungan yang dinyatakan secara resmi.

        EUDR juga mencakup kopi, kakao, karet, dan produk kayu. Indonesia menghadapi pula Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) dan sengketa kebijakan ekspor nikel.

        Di sisi lain, diversifikasi rantai pasok Eropa membuka peluang bagi Indonesia, terutama dalam mineral kritis dan industri pengolahan. Peluang tersebut perlu dinilai bersama dengan kebijakan subsidi industri UE, standar karbon, serta kepastian akses pasar setelah perjanjian perdagangan berlaku.

        Bagi Indonesia, proses persetujuan IEU-CEPA di Dewan UE dan Parlemen Eropa serta perundingan anggaran UE 2028–2034 merupakan dua perkembangan yang perlu dicermati.

        Keduanya akan memperlihatkan sejauh mana perubahan politik domestik Eropa memengaruhi hubungan ekonomi Indonesia dan Eropa.

        Dari Integrasi ke Kedaulatan

        Perubahan Eropa bukan berarti integrasi telah berakhir. Justru persoalannya lebih kompleks.

        Eropa sedang menghadapi kebutuhan untuk mempertahankan manfaat integrasi sambil merespons tuntutan kedaulatan nasional yang semakin kuat. Pasar tunggal, pembiayaan bersama, pertahanan, energi, dan daya saing industri membutuhkan koordinasi. Namun, pemilih di banyak negara anggota semakin menuntut agar keputusan yang menyentuh kehidupan mereka kembali lebih dekat kepada pemerintah nasional.

        Dengan demikian, pertanyaan bagi Eropa bukan lagi sekadar apakah integrasi akan berlanjut, tetapi berapa banyak integrasi yang masih dapat diterima secara politik ketika biaya dan manfaatnya mulai dipertanyakan di tingkat nasional.

        Bagi Indonesia, perubahan tersebut perlu dibaca bukan sebagai gejolak politik Eropa semata, melainkan sebagai perubahan dalam cara UE mengambil keputusan ekonomi. Karena ketika kedaulatan nasional kembali menguat, kepentingan domestik negara anggota akan semakin menentukan bagaimana Eropa membuka pasar, mengatur industri, membiayai investasi, dan menjalankan hubungan dagangnya dengan mitra seperti Indonesia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: