Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pupuk Indonesia Ungkap Peluang Ekspor Urea 2027, Sejumlah Negara Mulai Dekati RI

        Pupuk Indonesia Ungkap Peluang Ekspor Urea 2027, Sejumlah Negara Mulai Dekati RI Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Pupuk Indonesia menyebut telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara terkait kerja sama penjualan pupuk. Tak hanya Australia, sejumlah negara lain juga disebut berminat mengambil pupuk urea produksi dalam negeri.

        VP Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia, Cindy Systiarani, menyebut proyeksi ekspor pada tahun depan masih terbuka, seiring dengan produksi urea dalam negeri yang melebihi kebutuhan domestik.

        Adapun untuk pupuk urea, kapasitas produksi PT Pupuk Indonesia mencapai 9,4 juta ton. Tahun ini, perusahaan menargetkan produksi urea sebesar 7,8 juta ton. Sementara itu, kebutuhan dalam negeri berada di kisaran 6,3 juta ton, sehingga masih terdapat sekitar 1,5 juta ton yang berpotensi untuk diekspor.

        ”Komunikasi tentu ada dengan negara-negara tertentu pasti ada komunikasi gitu,” ucap Cindy dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

        ”Kemungkinan tahun depan ekspor sangat mungkin... Negaranya kita belum tahu sih nanti tergantung pemerintah karena kan kayak seperti Australia kemarin mendekati pemerintah kemudian kita diberikan mandat oleh pemerintah untuk tolong untuk di,” tambahnya.

        Meski demikian, Pupuk Indonesia tidak serta-merta melakukan ekspor. Perusahaan tetap memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pupuk dalam negeri. Apabila pemerintah memberikan izin, maka ekspor akan dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

        Adapun regulasi yang memungkinkan PT Pupuk Indonesia melakukan ekspor tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 113.

        ”Tapi kita tentu dengan undang-undang pasti menunggu persetujuan dari pemerintah untuk kita bisa melakukan ekspor karena mandat dari pemerintah ketahanan pangan domestik dulu yang jadi prioritas baru setelah itu kita bisa melakukan ekspor,” tandasnya.

        Sebagai informasi, pada tahun ini PT Pupuk Indonesia untuk pertama kalinya melakukan ekspor pupuk urea ke Australia melalui skema Government-to-Government (G2G). Langkah tersebut menjadi tonggak baru dalam memperkuat diplomasi pangan serta ketahanan pangan di kawasan Asia-Pasifik.

        Pelepasan kapal pengangkut urea tersebut dilakukan langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Dermaga BSL PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang, pada Kamis (14/5/2026). Pengiriman perdana tersebut mencakup volume sebesar 47.250 ton urea.

        Amran menyatakan ekspor tersebut merupakan tindak lanjut dari pembicaraan antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Kerja sama ini ditargetkan terus meningkat hingga mencapai volume 500.000 ton.

        Baca Juga: Ekonomi Desa Digenjot, Pupuk Kaltim Integrasikan Pertanian, Peternakan hingga Energi

        Baca Juga: Pupuk Kaltim Serahkan Mini ICU ke Kodam, Perkuat Penanganan Pasien RS TNI AD Balikpapan

        “Ini mencetak sejarah, karena (kita) akan mengekspor pupuk ke beberapa negara termasuk Australia. Rencana kita mengekspor ke Australia sesuai dengan pembicaraan Perdana menteri Australia dan Bapak Presiden yaitu 250.000 ton, tapi akan ditingkatkan menjadi 500.000 ton, nilainya kurang lebih Rp7 triliun,” ujar Amran saat pelepasan. 

        Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan bahwa momentum tersebut menegaskan posisi strategis Indonesia dalam rantai pasok pupuk global. Menurutnya, ekspor ini bukan sekadar transaksi bisnis, melainkan juga menjadi instrumen diplomasi negara.

        “Pengiriman urea ke Australia hari ini bukan sekadar aktivitas perdagangan, tetapi juga bagian dari diplomasi pangan Indonesia dalam memperkuat ketahanan pangan kawasan Asia-Pasifik,” pungkas Rahmad.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: