Pengamat: Harapan Politik Keluarga Jokowi Tinggal di Kaesang, tapi Gibran Rela Menepi?
Kredit Foto: Istimewa
Keluarga Joko Widodo (Jokowi) harus mulai menentukan langkah politiknya ke depan karena mereka dinilai tengah memasuki persimpangan baru menyusul polemik ijazah dari Gibran Rakabuming Raka di Mahkamah Konstitusi (MK).
Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio melihat bahwa sosok politikus muda itu bisa digantikan sodaranya, yakni Kaesang Pangarep. Ia berpotensi semakin penting dalam menjaga keberlanjutan pengaruh politik keluarga Jokowi.
Baca Juga: MK Ungkap Fakta Ijazah Gibran, Jokowi Diprediksi Bakal Andalkan Kaesang
“Kalau harapan politik dia sekarang tinggal di Kaesang. Tapi pertanyaannya, memangnya sodaranya rela? Dia sudah menjadi wakil presiden, belum tentu ingin perjalanan politiknya berhenti sampai di situ,” ujar Hensa, dikutip Rabu (7/10/2026).
Perkara Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 baru-baru ini menghasilkan putusan yang menyatakan permohonan para pemohon tidak dapat diterima karena mereka tidak memiliki kedudukan hukum. Dengan demikian, mereka tidak membatalkan atau mendiskualifikasi Gibran.
Namun, pertimbangan hukum pengadilan memberikan catatan yang cukup signifikan mengenai dokumen pendidikan Gibran. Mahkamah menyatakan tidak menemukan bukti meyakinkan bahwa dia memiliki ijazah, sertifikat, atau diploma dari luar negeri yang dapat menjadi dasar penyetaraan dengan pendidikan minimal SMA. MK juga menyatakan dokumen seperti certificate of attendance, academic records, dan explanation of grades bukan merupakan bukti kelulusan atau tamat pendidikan.
Catatan tersebut tidak mengubah posisi atau jabatan dari Gibran. Namun Hensa melihat persoalan terkait ijazah berpotensi kembali muncul apabila dia mengambil langkah politik berikutnya.
“Persoalan yang muncul dalam pertimbangan ini berpotensi kembali menjadi pembicaraan ketika dia mengambil langkah politik berikutnya,” kata Hensa.
Kaesang dalam situasi ini dinilai memiliki peluang membangun jalur politiknya sendiri. Ia memiliki kendaraan politik melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Sementara Jokowi telah bergabung dengan partai tersebut.
Kaesang dengan ini memang memiliki kesempatan membangun dukungan melalui partai, tetapi hubungan keluarga dengan ayahnya tidak otomatis membuatnya memiliki kekuatan politik yang mandiri.
“Kaesang memiliki kesempatan membangun dukungan melalui partai, dan keberadaan ayahnya tentu menjadi modal politik. Tetapi, kedekatan dengan Jokowi dan penerimaan pemilih terhadap Kaesang merupakan dua hal yang berbeda,” ujarnya.
Karena itu, muncul situasi yang cukup unik. Jika Kaesang semakin diandalkan sebagai jalur keberlanjutan pengaruh politik keluarganya, maka sodaranya tetap memiliki kepentingan politiknya sendiri. Bahkan, posisinya sebagai wakil presiden memberikan modal politik yang berbeda dengan Kaesang.
Baca Juga: Rocky Gerung Akui Dagangkan Reputasinya ke Prabowo: Saya Enggak Pernah Tukar-tambah...
“Jadi, ketika adiknya lebih diandalkan untuk meneruskan pengaruh politik keluarga, kita belum tahu apakah dia bersedia menepi atau tetap ingin menjadi orang yang membawa harapan itu,” pungkas Hensa.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: