Kredit Foto: Istimewa
Belajar keterampilan digital tidak harus berhenti pada latihan di dalam kelas. Di Papanggo, Jakarta Utara, sekelompok anak menggunakan keterampilan desain yang baru mereka pelajari untuk membantu seorang pedagang sate di lingkungan mereka.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Skill for Good, program yang dikembangkan Warong Digital untuk menghubungkan pembelajaran keterampilan digital dengan persoalan nyata di masyarakat.
Peserta yang sebelumnya belum mengenal dasar-dasar desain diperkenalkan pada sejumlah prinsip komunikasi visual menggunakan Canva, mulai dari pemilihan warna dan tipografi, penggunaan foto, visual hierarchy, hingga penyusunan informasi.
Namun, setelah sesi pembelajaran, mereka tidak diberikan studi kasus fiktif. Peserta diperkenalkan kepada Pak Iskandar, seorang pedagang sate, dan diminta menggunakan keterampilan yang baru dipelajari untuk membuat materi visual yang dapat digunakan dalam usahanya.
Dalam proses tersebut, peserta harus mempertimbangkan bukan hanya aspek visual, tetapi juga fungsi desain. Mereka belajar menentukan informasi yang perlu dilihat pelanggan terlebih dahulu, bagaimana produk ditampilkan, ukuran tulisan yang mudah dibaca, hingga bagaimana sebuah desain akan berfungsi ketika ditempatkan pada gerobak. Hasil karya peserta kemudian dicetak dan dipasang langsung pada gerobak sate Pak Iskandar.
Menurut Audrey Tjahjadi, Founder Warong Digital, penggunaan kasus nyata sengaja menjadi bagian dari proses pembelajaran.
“Saya tidak ingin kegiatan ini berhenti pada belajar menggunakan Canva. Ketika anak-anak harus membuat sesuatu untuk orang yang benar-benar akan menggunakannya, mereka mulai memahami bahwa desain bukan hanya soal membuat sesuatu terlihat menarik, tetapi juga bagaimana menyampaikan informasi dan menyelesaikan kebutuhan, ” ujar Audrey.
Pendekatan tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat seluruh proses dari pembelajaran hingga penerapan. Apa yang awalnya dibuat di layar akhirnya menjadi materi yang digunakan dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Keterampilan yang Dapat Digunakan Kembali Manfaat program tidak hanya terlihat dari hasil desain yang dipasang pada gerobak. Setelah memperoleh dasar keterampilan desain, peserta memiliki kemampuan yang dapat digunakan kembali secara mandiri. Dari yang sebelumnya belum memahami desain, mereka mulai mampu membuat materi visual sederhana untuk kebutuhan lain, termasuk membantu usaha keluarga mereka sendiri.
Bagi Warong Digital, kemampuan untuk menerapkan kembali keterampilan tersebut menjadi salah satu bagian penting dari program. “Tujuannya bukan membuat mereka menjadi desainer dalam satu kali kegiatan. Kami ingin memberikan dasar keterampilan dan pengalaman menggunakannya pada persoalan nyata. Ketika setelah itu mereka bisa menggunakan kemampuan tersebut kembali untuk membantu orang di sekitar mereka, proses belajarnya menjadi lebih relevan, ” kata Audrey.
Program tersebut dikembangkan di tengah semakin dekatnya generasi muda dengan teknologi digital. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan 72,78 persen penduduk Indonesia telah mengakses internet pada 2024. Namun, akses terhadap teknologi tidak selalu berjalan beriringan dengan kemampuan untuk menggunakannya secara produktif.
Melalui Skill for Good, Warong Digital mencoba memperkenalkan pendekatan learn, create, and give back: mempelajari keterampilan, menerapkannya untuk membuat sesuatu, kemudian menggunakannya untuk menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
Baca Juga: Mulai Transformasi Bisnis, Repower Asia Bidik Sektor Data Center dan Infrastruktur Digital
Baca Juga: GoPay Raih Dua Apresiasi Pemerintah, dari Digitalisasi hingga Investasi
Program ini juga membuka kemungkinan hubungan yang berbeda antara kegiatan edukasi dan usaha mikro. Kebutuhan nyata pedagang dapat menjadi kasus pembelajaran bagi peserta. Pada saat yang sama, hasil pembelajaran tersebut dapat menghasilkan sesuatu yang dapat digunakan oleh pelaku usaha.
Ke depan, Warong Digital berencana mengembangkan kegiatan serupa melalui edukasi digital, kegiatan komunitas, pembelajaran bersama praktisi, serta program yang mempertemukan keterampilan digital dengan kebutuhan usaha mikro dan kecil.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya bertanya bagaimana cara menggunakan teknologi, tetapi juga mulai berpikir tentang apa yang bisa mereka ciptakan dengan teknologi dan masalah apa yang bisa mereka bantu selesaikan” ujar Audrey.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: