Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ESDM Tak Beri Tambahan Kuota Nikel ke Semua Perusahaan Usai Evaluasi RKAB

        ESDM Tak Beri Tambahan Kuota Nikel ke Semua Perusahaan Usai Evaluasi RKAB Kredit Foto: Vale Indonesia
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, menyatakan pemerintah tidak memberikan tambahan kuota produksi nikel kepada seluruh perusahaan setelah melakukan evaluasi RKAB.

        Cecep mengatakan, tambahan kuota hanya diberikan kepada beberapa perusahaan yang menunjukkan kesesuaian antara realisasi produksi dengan target yang diajukan.

        “Dengan bulan Juli itu kita lihat bahwa dari sisi kebutuhan smelternya terverifikasi sekian, tapi dari performance produksi dari masing-masing perusahaan ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Akhirnya kita bisa memberikan kuota tambahan untuk beberapa perusahaan memang secara performance-nya cukup sesuai dengan yang ditargetkan,” ujar Cecep dalam diskusi di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

        Sebelumnya, Kementerian ESDM menetapkan RKAB produksi bijih nikel tahun 2026 sebesar 260 juta-270 juta ton. Namun, pemerintah kemudian membuka relaksasi terukur pada Juli 2026 setelah melihat perkembangan kebutuhan industri dan realisasi produksi perusahaan.

        Dari hasil evaluasi tersebut, Cecep memperkirakan realisasi produksi bijih nikel tahun ini mencapai sekitar 290 juta ton.

        Baca Juga: ESDM Ungkap Kebutuhan Smelter Nikel Capai 320 Juta Ton

        Baca Juga: Menkeu Suahasil: Anggaran Kemenko ESDM Masih Diproses

        “Forecast-nya tercapai hampir sama dengan yang tahun lalu. Kalau dilihat dari forecast secara ini ya, secara performance masing-masing perusahaan. Hampir sama sih, sekitar di angka 290-an [juta ton],” katanya.

        Cecep menjelaskan, penyesuaian produksi tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pasokan industri hilir. Saat ini, kebutuhan bijih nikel untuk smelter yang telah terverifikasi mencapai sekitar 320 juta ton.

        “Kita juga mematchkan dengan untuk kebutuhan smelter. Smelter saat ini terverifikasi bahwa yang akan terbangun misalnya untuk nikel itu di angka 320 jutaan yang kalau kami dapatkan,” tutu Cecep.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: