Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Kamis (8/10/2026). IHSG berakhir di level 6.031,28, turun 115,44 poin atau 1,88% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Tekanan jual sudah terlihat setelah pembukaan. IHSG memang sempat menguat ke level 6.154,97, tetapi penguatan tersebut tidak bertahan lama. Indeks kemudian berbalik arah hingga menyentuh level terendah sekaligus level penutupannya di 6.031,28.
Pergerakan mayoritas saham turut menekan IHSG. Sebanyak 497 saham melemah, sedangkan hanya 171 saham yang menguat dan 119 saham lainnya bergerak stagnan.
Meski IHSG tertekan, aktivitas perdagangan tetap ramai. Total volume transaksi mencapai 60,49 miliar saham, dengan nilai transaksi sebesar Rp12,68 triliun.
Sepanjang perdagangan, frekuensi transaksi tercatat mencapai sekitar 1,95 juta kali.
IHSG Dipengaruhi Sentimen The Fed dan Cadangan Devisa
Berdasarkan riset hariannya, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk kembali menguji level 6.200–6.230 pada perdagangan Kamis (8/10/2026).
Phintraco Sekuritas menilai peluang tersebut masih terbuka meski sejumlah sentimen global berpotensi memberikan tekanan terhadap pasar.
Dari global, indeks di Wall Street ditutup melemah pada Rabu (7/10/2026). Tekanan juga datang dari hasil risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan para pejabat The Fed memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
"Pertemuan FOMC berikutnya dijadwalkan pada 27–28 Oktober dan 8–9 Desember 2026," tulis riset Phintraco Sekuritas.
Sentimen lainnya datang dari pasar komoditas. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah hingga US$88 per barel, sementara harga emas spot turun 0,98% ke US$4.122 per troy ounce. Di pasar obligasi, imbal hasil US Treasury 10 tahun naik 1 basis poin ke level 5,286%.
Baca Juga: IHSG Naik Tipis ke 6.154, Sebanyak 198 Saham Menguat
Baca Juga: IHSG Diprediksi Uji 6.200, Sentimen Fed dan Cadangan Devisa Jadi Sorotan
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,3 miliar pada September 2026, turun tipis dari US$146,5 miliar pada Agustus. Meski menurun, posisi tersebut masih setara dengan 5,3 bulan impor dan dinilai memadai untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia.
Sementara itu, indeks keyakinan konsumen Indonesia diperkirakan berada di level 118 pada September.
"Data tersebut menjadi salah satu indikator domestik yang akan diperhatikan investor dalam mencermati arah pergerakan IHSG," ungkap Phintraco Sekuritas.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih berpotensi menguji area 6.200–6.230. Sebelumnya, IHSG ditutup melemah 0,75% ke level 6.146,72 pada Rabu (7/10/2026), setelah sempat menguat hingga 6.210 sebelum berbalik tertekan aksi profit taking.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: