Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Lingkar Prabowo: Gua di Dalam untuk Menghentikan Surplus Kekuasaan!

        Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Lingkar Prabowo: Gua di Dalam untuk Menghentikan Surplus Kekuasaan! Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pengamat Politik Rocky Gerung akhirnya buka suara mengenai keputusannya berada di lingkungan kekuasaan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dikenal sebagai sosok yang selama ini kerap melontarkan kritik terhadap pemerintah, ia menjelaskan bahwa kehadirannya di lingkar pemerintah tidak otomatis membuat sikap kritisnya berubah.

        Rocky justru menyebut keberadaannya di dalam lingkungan kekuasaan sebagai bagian dari upaya mengendalikan kekuasaan agar tidak berkembang secara berlebihan.

        Baca Juga: Loyalis Jokowi Soal Isu Mundurnya Gibran: Jangan Percaya Hanya dari Tangkapan Layar...

        Ia menggunakan istilah “surplus kekuasaan” untuk menggambarkan kondisi ketika kekuasaan menjadi terlalu besar atau eksesif. Menurut Rocky, kekuasaan yang berlebihan perlu dikendalikan karena berpotensi membuka ruang terjadinya penyalahgunaan kekuasaan.

        “Orang yang anti kekuasaan dia akan terus kasih kritik, nah gua masuk di dalam kan sama aja kan, saya anti power yang obsesif, anti surplus kekuasaan,” kata Rocky, Kamis (8/10/2026).

        Rocky menjelaskan bahwa sikap menentang kekuasaan yang berlebihan tidak selalu harus dilakukan dari luar pemerintahan.

        Menurut dia, seseorang yang memiliki pandangan kritis terhadap kekuasaan juga dapat mengambil posisi di dalam lingkungan pemerintahan untuk ikut mengawasi sekaligus mengendalikan penggunaan kekuasaan tersebut.

        “Jadi gua di dalam untuk menghentikan surplus kekuasaan, apa bedanya coba. Kekuasaan yang eksesif yang mestinya kita kendalikan, karena kekuasaan yang eksesif itu sumber dari korupsi,” ujarnya.

        Selama ini, Rocky lebih banyak dikenal publik sebagai pengamat dan akademisi yang menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan serta praktik kekuasaan.

        Namun, ia menilai keberadaannya di dalam pemerintahan tidak bertentangan dengan sikap antikekuasaan yang selama ini ia suarakan. Bagi dia, yang menjadi persoalan bukan semata-mata keberadaan kekuasaan, melainkan ketika kekuasaan tersebut menjadi obsesif dan berlebihan.

        Rocky juga menanggapi kritik yang mengaitkan posisinya di Istana dengan sikapnya yang selama ini dikenal berbicara mengenai pemberantasan korupsi.

        Ia menyebut dirinya justru ingin berada di lingkungan tersebut untuk melihat persoalan kekuasaan dari dekat.

        “Makanya ada yang bilang loh lu Rock ngomong soal anti korupsi tapi kok lu masuk istana, loh istana itu sarang korupsi. Nah gua masuk di situ ya untuk memberantas maling-maling yang sembunyi di bawah meja istana, yang ngumpet di bawah-bawah pohon beringin,” tegasnya.

        Baca Juga: PDIP Soal Penurunan Foto Gibran: Wapres Ini Status, Indonesia Negara Status atau Negara Hukum?

        Bagi Rocky, berada di dalam lingkungan kekuasaan dan tetap bersikap kritis bukan dua hal yang harus selalu dipertentangkan. Ia justru menganggap posisi tersebut dapat digunakan untuk menjalankan prinsip yang sama: membatasi kekuasaan ketika dinilai mulai berlebihan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: