Retailer Sidiq HP Catat Pre-Order iPhone 18 Pro Turun, Konsumen Premium Dinilai Makin Rasional
Kredit Foto: Istimewa
Harga yang semakin tinggi membuat konsumen smartphone premium lebih berhati-hati sebelum membeli perangkat terbaru. Kondisi ini terlihat pada peluncuran iPhone 18 Pro Series di Indonesia, ketika jumlah pemesanan awal yang diterima retailer Sidiq HP turun sekitar 80 persen dibandingkan generasi sebelumnya.
Founder Sidiq HP, Anwar Sidiq, mengatakan perusahaan menerima sekitar 100 unit pre-order iPhone 18 Pro Series pada peluncuran tahun ini. Jumlah tersebut lebih rendah dibandingkan sekitar 500 unit pada peluncuran generasi iPhone sebelumnya.
Meski demikian, Anwar menilai penurunan tersebut tidak bisa langsung diartikan sebagai merosotnya minat konsumen terhadap produk Apple. Menurut dia, pilihan model yang tersedia pada tahap awal peluncuran tahun ini lebih terbatas.
Pada peluncuran sebelumnya, konsumen memiliki lebih banyak pilihan model. Sementara itu, pada tahap awal peluncuran tahun ini, perangkat yang tersedia baru iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max.
Saat ini, iPhone 18 Pro dipasarkan mulai Rp27,499 juta, sedangkan iPhone 18 Pro Max mulai Rp29,499 juta. Keduanya telah memasuki periode pre-order di Indonesia.
Anwar mengatakan harga yang lebih tinggi membuat konsumen membutuhkan waktu lebih panjang untuk memutuskan pembelian. Mereka tidak lagi otomatis mengganti perangkat setiap kali Apple meluncurkan generasi baru.
Konsumen kini cenderung membandingkan peningkatan fitur dengan selisih harga yang harus dibayar. Masa pakai perangkat lama dan kebutuhan penggunaan juga menjadi pertimbangan sebelum melakukan upgrade.
Perubahan perilaku konsumen tersebut terjadi di tengah meningkatnya biaya komponen smartphone di pasar global, terutama untuk memory.
Counterpoint Research mencatat harga memory smartphone meningkat lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026. Di segmen premium, kenaikan biaya komponen turut mendorong biaya Bill of Materials (BoM) naik hampir 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam riset terpisah, Counterpoint menyebut kenaikan biaya memory menjadi salah satu faktor yang mendorong harga smartphone global sepanjang 2026. Harga ritel smartphone yang telah beredar di pasar global tercatat meningkat rata-rata sekitar 15 persen sepanjang tahun ini.
Sementara itu, perangkat baru cenderung diluncurkan dengan harga lebih tinggi dibandingkan pendahulunya.
TrendForce juga memperkirakan harga rata-rata LPDDR5X pada kuartal II 2026 meningkat sekitar 78-83 persen secara kuartalan. Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap biaya produksi produsen smartphone.
Meski terdapat tren kenaikan biaya komponen secara global, belum ada pernyataan resmi Apple yang menyebut bahwa kenaikan harga iPhone 18 Pro Series di Indonesia secara langsung disebabkan oleh kenaikan harga memory.
Anwar menilai perubahan tersebut menunjukkan adanya pergeseran dalam perilaku konsumen smartphone premium. Pasar tetap tersedia, tetapi pembeli semakin kritis dalam menilai manfaat yang diperoleh dari perangkat baru.
Kondisi ini juga menjadi tantangan bagi retailer gadget yang selama ini mengandalkan momentum peluncuran produk terbaru untuk mendorong penjualan.
Menurut Anwar, retailer perlu memahami kebutuhan konsumen dan memberikan pertimbangan yang relevan dalam proses pembelian. Perubahan yang terjadi bukan hanya menyangkut harga perangkat, melainkan juga cara konsumen mengambil keputusan.
Dengan semakin selektifnya pembeli, keputusan untuk mengganti smartphone kini lebih bergantung pada kebutuhan, peningkatan fitur, masa pakai perangkat sebelumnya, dan kemampuan konsumen menilai manfaat dibandingkan biaya yang dikeluarkan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: