Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Danantara Siap Masuk Pasar Saham Saat Krisis, Asal Valuasinya Menarik

        Danantara Siap Masuk Pasar Saham Saat Krisis, Asal Valuasinya Menarik Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) membuka peluang untuk masuk ke pasar saham domestik saat terjadi tekanan atau krisis. Namun, aksi borong saham tersebut tidak otomatis dilakukan karena keputusan investasi akan bergantung pada valuasi aset dan potensi keuntungan yang bisa diperoleh.

        Dilansir dari Reuters, Head of Public Investment Danantara, Rani Piputri mengatakan siap membeli saham di pasar domestik apabila koreksi dipicu sentimen negatif eksternal yang bersifat sementara.

        "Jika terjadi krisis di pasar dan kami menilai hal itu hanya didasarkan pada sentiment eksternal sementara, kami akan masuk," ujar Rani dalam keterangannya, Jumat (9/10/2026).

        Peluang tersebut menjadi perhatian di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham Indonesia, terutama menjelang pengumuman hasil evaluasi klasifikasi pasar oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) bulan depan. 

        Jika evaluasi itu memicu aksi jual lanjutan, Danantara membuka kemungkinan memanfaatkan koreksi pasar untuk membeli aset dengan valuasi menarik.

        Meski demikian, Rani menegaskan bahwa keputusan untuk masuk ke pasar membutuhkan pertimbangan matang dan proses uji tuntas atau due diligence.

        “Kami mungkin akan masuk. Kami mungkin melakukannya, tetapi ada banyak uji tuntas yang harus kami lakukan,” ujarnya.

        Rani menjelaskan, investasi Danantara di pasar saham domestik telah dilakukan secara bertahap sejak akhir 2025. Pembelian saham juga tetap berlangsung ketika pasar mengalami aksi jual besar-besaran pada Januari 2026, setelah MSCI memperingatkan kemungkinan menurunkan status Indonesia dari kategori emerging market atau pasar berkembang menjadi frontier market atau pasar perintis.

        Menurut Rani, pembelian saham tersebut didasarkan pada peluang investasi, bukan semata-mata untuk menopang atau menstabilkan pasar.

        “Kami membeli karena melihat adanya nilai. Tujuannya bukan untuk menstabilkan pasar. Justru bagus ketika orang-orang tidak menyukai sesuatu, sementara kami melihat ada nilai di dalamnya. Dengan begitu, kami bisa mendapatkannya dengan harga yang bagus. Kemudian, ketika mereka kembali menyukainya, kami bisa menjualnya kepada mereka,” kata Rani.

        Dari sisi dana, divisi investasi publik Danantara telah menempatkan sekitar US$3 miliar pada instrumen saham dan obligasi di pasar domestik maupun internasional. Danantara juga berencana menambah investasi hingga US$1 miliar sampai akhir 2026, dengan realisasi yang bergantung pada kondisi pasar.

        Baca Juga: Danantara Tersandera Masalah WIKA-Waskita, Restrukturisasi BUMN Karya Berlarut

        Baca Juga: Danantara Lebur 4 BUMN Karya Jadi 2, Target November Selesai

        Dalam alokasi portofolionya, sekitar 65% dana ditempatkan pada instrumen saham, 30% pada instrumen pendapatan tetap (fixed income), dan 5% pada hedge fund. Sekitar seperempat dari keseluruhan portofolio global tersebut dialokasikan ke pasar keuangan Indonesia.

        Danantara sendiri diluncurkan pada awal 2025 dengan mandat mengelola aset negara senilai sekitar US$900 miliar yang tersebar di 1.000 perusahaan. Lembaga ini bertanggung jawab langsung kepada Presiden Prabowo Subianto dan bertujuan memaksimalkan hasil investasi dari aset yang dikelolanya.

        Meski berpeluang membeli saham ketika pasar terkoreksi, Danantara menegaskan tidak memiliki mandat khusus untuk menstabilkan pasar keuangan. 

        Untuk itu, potensi masuknya dana tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan investasi dan pencarian aset dengan valuasi yang dinilai menarik, bukan sebagai jaminan bahwa Danantara akan melakukan intervensi setiap kali IHSG mengalami tekanan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: