Kredit Foto: Istimewa
Praktisi hukum tata negara sekaligus aktivis Syukur Mandar menyampaikan pesan kepada mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tengah mencuatnya wacana pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menyarankan Jokowi menahan diri dari manuver politik dan tetap berada di Solo.
Pernyataan itu disampaikan Syukur dalam diskusi publik yang ditayangkan kanal YouTube Sinkos Indonesia pada 9 Oktober 2026. Forum tersebut membahas polemik putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait dokumen kelulusan Gibran yang disebut “tidak ditemukan” serta dampaknya terhadap dinamika politik.
"Pesan saya, supaya (Gibran) tidak terancam dimakzulkan, Presiden Jokowi berhenti aja di Solo, jangan ke mana-mana," tegas Syukur di akhir diskusi.
Menurut Syukur, pertimbangan dalam putusan MK berpotensi menjadi celah bagi partai-partai politik untuk bermanuver dan memperebutkan posisi wakil presiden. Ia mengibaratkan situasi tersebut sebagai “racun tikus” yang dapat memancing persaingan di antara elite politik.
Syukur menilai manuver politik yang terlalu agresif justru berpotensi memperbesar ancaman terhadap posisi Gibran. Ia juga memperkirakan partai-partai yang tidak terlalu dekat dengan Presiden Prabowo Subianto dapat memanfaatkan situasi tersebut untuk memperjuangkan kepentingannya.
Dalam diskusi itu, Syukur turut menyoroti konfigurasi politik di parlemen. Ia menyebut koalisi pendukung Prabowo menguasai sekitar 74 persen kursi parlemen. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhitungkan dalam membaca kemungkinan langkah politik terhadap Gibran.
Tokoh pergerakan Hatta Taliwang dan pakar komunikasi Prof. Henri Subiakto juga disebut turut membahas dinamika politik di sekitar isu tersebut. Diskusi menyoroti kemungkinan terjadinya tawar-menawar di antara elite partai di DPR serta peran Presiden Prabowo dalam perkembangan politik selanjutnya.
Di tengah polemik itu, perhatian elite politik turut menjadi sorotan. Syukur dan para pembicara mengkritik kecenderungan elite yang dinilai lebih sibuk membicarakan perebutan jabatan dan persiapan Pemilu 2029 daripada mencari solusi atas persoalan ekonomi.
Penurunan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi nasional menjadi sejumlah persoalan yang dinilai membutuhkan perhatian lebih besar. Sementara itu, perkembangan wacana pemakzulan Gibran masih bergantung pada dinamika politik dan langkah yang ditempuh para pihak terkait.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: