Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS brgerak menguat pada perdagangan Senin (12/10/2026). Mata uang Garuda 5 poin bergerak Rp17.894 per dolar AS atau menguat 5 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.899 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan Senin ini mata uang Garuda bergerak fluktuatif namun ditutup melemah pada rentang Rp17.890 - Rp17.950 per dolar AS.
"Sedangkan perdagangan dalam sepekan ini rupiah bergerak di rentang Rp17.780 - Rp18.060," kata Ibrahim kepada wartawan.
Ibrahim menyampaikan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi oleh sejumlah sentimen dari dalam maupun luar negeri. Namun, faktor spesifik yang mendorong penguatan rupiah pada perdagangan kali ini masih perlu dikonfirmasi.
Di sisi lain, perkembangan kondisi fiskal turut menjadi perhatian pasar. Kementerian Keuangan mencatat defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir September 2026 mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Pendapatan negara mencatatkan kenaikan 25% dan belanja negara naik 19%, tercatat senilai Rp2.341,5 triliun per September 2026, realisasinya 74,2% dari target pendapatan negara tahun ini senilai Rp3.153,6 triliun.
Pendapatan negara juga tercatat naik 25,5% (YoY) dan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun per September 2026, realisasinya 69,2% dari target belanja negara tahun ini sebesar Rp3.842,7 triliun.
Belanja negara tercatat naik 19,0% (YoY). Belanja negara yang lebih banyak dari pendapatan negara menyebabkan defisit APBN mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24% dari PDB. Defisit di bulan lalu, (Agustus 2026) 0,9%. Hari ini, per akhir September 1,2%.
Baca Juga: Mengendalikan Rupiah di Tengah Tekanan Dolar
Baca Juga: Menutup Pekan, Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.899 per Dolar AS
Sedangkan target defisit di akhir tahun 2,8%. Beban APBN bertambah Rp6 Triliun setiap harga minyak naik US$1 per barel keseimbangan primer tercatat mencapai Rp125,5 triliun.
Sementara itu, target keseimbangan primer sepanjang tahun didesain defisit sebesar Rp89,7 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu maka tampak penurunan cukup tajam defisit APBN.
Pada akhir Agustus 2025, defisit APBN mencapai Rp321,6 triliun atau setara 1,35% dari PDB. Artinya, defisit APBN September 2026 yang sebesar Rp319 triliun turun 14,13% dibandingkan realisasi APBN September 2025 (Rp371,5 triliun). Sebagai informasi, pemerintah mendesain defisit APBN 2026 setahun penuh sebesar rRp689,1 triliun atau setara 2,68% terhadap PDB.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra
Tag Terkait: