Dibangun Pengusaha Indonesia, Capital Value Kembangkan Hunian Premium di Sydney
Kredit Foto: Capital Value
Perusahaan pengembang properti berbasis Australia, Capital Value International Group (CVIG), terus mengembangkan hunian premium di Sydney dengan mengedepankan kualitas desain, kelapangan ruang, privasi, dan efisiensi penggunaan lahan. Perusahaan yang didirikan pengusaha kelahiran Jakarta, Chandra Leonardi, pada 2013 ini telah membukukan total nilai pengembangan lebih dari Rp400 miliar.
CVIG mengawali kiprahnya sebagai agensi properti yang meraih berbagai penghargaan melalui kerja sama dengan sejumlah pengembang. Seiring perkembangan bisnis, perusahaan bertransformasi menjadi pengembang dengan proyek sendiri dan berfokus pada hunian tapak premium di Sydney.
Dalam mengembangkan proyek, CVIG mengedepankan lokasi strategis, kualitas desain berstandar Australia, serta strategi pengembangan yang berorientasi pada pertumbuhan nilai properti dalam jangka panjang bagi investor maupun pemilik hunian.
Salah satu proyek yang dikembangkan perusahaan adalah Highgrove, kompleks luxury townhouse di Roselands, New South Wales (NSW). Proyek ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pasar terhadap hunian yang menawarkan ruang luas, privasi, dan kenyamanan rumah tapak, tetapi dengan penggunaan lahan yang lebih efisien.
Pengembangan Highgrove berangkat dari perubahan pasar properti Sydney. Keterbatasan lahan, pertumbuhan populasi, dan meningkatnya biaya konstruksi membuat rumah tapak di kawasan metropolitan semakin sulit dijangkau, terutama di lokasi dengan akses yang baik menuju pusat aktivitas kota.
Laporan State of the Housing System 2025 yang dirilis National Housing Supply and Affordability Council (NHSAC) memproyeksikan pembangunan 938.000 rumah baru hingga 2029, lebih rendah dibandingkan target pemerintah Australia sebesar 1,2 juta rumah. Proyeksi tersebut menunjukkan potensi kesenjangan pasokan sekitar 262.000 unit.
Selain keterbatasan lahan, pasokan hunian juga menghadapi tantangan berupa ketersediaan tenaga kerja terampil, produktivitas sektor konstruksi, dan kompleksitas perizinan. Kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap harga dan keterjangkauan rumah.
Di tengah situasi itu, townhouse generasi baru mulai mendapat tempat sebagai alternatif hunian di antara rumah tapak konvensional dan apartemen bertingkat tinggi. Kategori ini dikenal sebagai missing middle housing, yakni hunian yang mengoptimalkan penggunaan lahan tanpa sepenuhnya meninggalkan karakter rumah tapak.
CEO Capital Value International Group Chandra Leonardi mengatakan, perubahan kondisi pasar turut menggeser cara konsumen memandang hunian premium. Ukuran tanah tidak lagi menjadi satu-satunya indikator kemewahan karena pembeli semakin mempertimbangkan ruang, privasi, lokasi, kualitas konstruksi, dan efisiensi bangunan.
“Kami melihat ada perubahan yang cukup fundamental dalam cara pasar memandang properti landed. Dulu, ukuran lahan sering menjadi indikator utama kemewahan. Namun, ketika lahan semakin terbatas dan harga terus meningkat, definisi tersebut mulai bergeser,” ujar Chandra.
Menurut dia, konsumen kini semakin memperhatikan manfaat yang diperoleh dari sebuah properti, mulai dari kelapangan ruang, privasi lingkungan, aksesibilitas, hingga kemampuan aset mempertahankan nilainya dalam jangka panjang.
Perubahan tersebut mendorong CVIG mengembangkan Highgrove dengan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada jumlah unit, tetapi juga kualitas pengalaman tinggal.
“Highgrove kami rancang dari perspektif tersebut. Kami tidak ingin sekadar memaksimalkan jumlah hunian, melainkan mempertahankan pengalaman landed living yang sesungguhnya melalui proporsi bangunan yang lapang, kepemilikan double garage, privasi tinggi, posisi elevated, serta lingkungan yang tenang,” kata Chandra.
Mengutamakan Ruang, Privasi, dan Efisiensi Energi
Dirancang oleh M.A.R.S Architecture & Interior Design Australia dengan konsep Contemporary Modern, Highgrove menawarkan strata area sekitar 240–340 meter persegi per unit. Luas tersebut dirancang untuk mendukung kebutuhan keluarga modern sekaligus memberikan keleluasaan ruang dan privasi.
Proyek ini berada di kawasan cul-de-sac atau jalan buntu, sehingga memiliki intensitas lalu lintas lebih rendah dibandingkan jalan utama. Posisi bangunan yang berada di area lebih tinggi juga memberikan perspektif terbuka menuju cakrawala Sydney.
Setiap unit dilengkapi double garage untuk menunjang kebutuhan parkir dan memberikan keleluasaan akses kendaraan. Fitur tersebut sekaligus mempertahankan salah satu karakter rumah tapak yang banyak dicari konsumen.
Selain desain dan ruang, CVIG turut memperhatikan efisiensi energi. Highgrove mengintegrasikan standar Energy Efficiency Rating 7-Star melalui sejumlah elemen, antara lain desain pasif, pencahayaan alami, skylight, lampu hemat energi, dan sistem pemanas berefisiensi tinggi.
Pendekatan ini ditujukan untuk mendukung kenyamanan termal dan membantu mengoptimalkan penggunaan energi. Bagi pemilik rumah, efisiensi tersebut berkaitan dengan biaya operasional sehari-hari. Sementara bagi investor, karakteristik bangunan dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam menilai daya tarik properti untuk jangka panjang.
Highgrove juga dilengkapi sistem pengelolaan air hujan melalui On-Site Detention (OSD) Tank yang ditempatkan di bawah area driveway. Sistem ini dirancang untuk membantu mengendalikan limpasan air hujan di lingkungan proyek.
“Bagi investor maupun pemilik hunian, aspek keberlanjutan dan perlindungan pascapembelian bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan bagian integral dari efisiensi biaya operasional sehari-hari dan penentu nilai aset dalam jangka panjang,” ujar Chandra.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Sufri Yuliardi
Editor: Sufri Yuliardi
Tag Terkait: