Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bukan soal Ijazah, PSI Sebut Kesalahan Gibran Cuma Satu, Prabowo Disinggung

        Bukan soal Ijazah, PSI Sebut Kesalahan Gibran Cuma Satu, Prabowo Disinggung Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Di tengah polemik politik yang terus menyeret Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dedy Nur Palakka memberikan pembelaan. Ia menilai satu-satunya kesalahan Gibran adalah bersedia mendampingi Presiden Prabowo Subianto, meski keputusan itu membawa berbagai risiko politik.

        Ia menilai pilihan Gibran untuk terjun ke panggung politik nasional merupakan bentuk keberanian mengambil tanggung jawab besar, bukan sekadar keputusan untuk menduduki jabatan.

        "Kesalahan Gibran Rakabuming Raka itu cuman satu ia bersedia mendampingi Prabowo Subianto dengan segala jenis resikonya," tulis Dedy di akun X, dikutip Selasa (13/10/2026).

        Baca Juga: Sindir Ijazah Gibran? Anak Amien Rais: Ada Bocoran Fufufafa Minta Timnya untuk...

        Menurut Dedy, Gibran sebenarnya bisa memilih menjalani kehidupan pribadi bersama keluarganya tanpa harus terlibat dalam hiruk-pikuk politik. Namun, putra Presiden ke-7 RI Joko Widodo itu justru mengambil tanggung jawab besar dengan mendampingi Prabowo.

        "Buat saya justru kekuatan terbesar Gibran Rakabuming Raka ada di situ, sebagai anak muda dan juga anak Presiden Republik ia bisa saja memilih menikmati hidupnya sendiri bersama keluarganya, bodoh amat sama politik Indonesia yang acak kadut ini," ujarnya.

        Dedy kemudian menilai keputusan Gibran tersebut memiliki makna lebih luas, terutama bagi generasi muda yang selama ini dinilainya apatis terhadap politik. Ia menganggap kekecewaan anak muda terhadap perilaku elite menjadi salah satu alasan mereka menjauh dari urusan politik.

        "Tapi... Ia memilih mengambil tanggungjawab besar itu secara bersemangat dan dengan lantang di atas panggung sejarah ia bersuara "saya sudah ada di sini" ini bukan sekedar suara, ini adalah panggilan sejarah untuk anak-anak muda yang kita tau mereka apatis sama politik, mereka apatis karena mereka muak dengan perilaku elit politik Indonesia yang memang seringkali lebih sering menebar ranjau konflik antara sesama bangsa dari pada membangkitkan rasa senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa," ungkapnya.

        Baca Juga: Elite Parpol Disindir Imbas Diam soal Gibran: Kalian Bisa Jadi Menteri Karena Dia

        Bagi Dedy, langkah Gibran dapat menjadi simbol keterlibatan anak muda dalam politik. Ia juga menilai pendekatan berbeda yang mungkin dibawa generasi muda berhadapan dengan kritik dari kelompok elite yang dianggapnya masih mempertahankan pola pikir lama.

        "Anak muda bernama Gibran Rakabuming Raka ini mungkin melihat bahwa ini bisa dijawab dengan pendekatan yang beda, tapi apa yang ia dapat? Ia menjadi sasaran tembak dari kelompok-kelompok elite yang otaknya menurut saya sudah tidak bisa diupgrade lagi, ibarat OS lama yang sudah waktunya di buang atau dipajang sebagai barang antik," lanjut Dedy.

        Pernyataan Dedy menjadi bentuk dukungan terbuka kepada Gibran di tengah dinamika politik yang mengiringi posisi Wakil Presiden. Ia menegaskan akan terus menyuarakan dukungannya agar Gibran mampu bertahan menghadapi tekanan politik.

        "Sebagai anak muda yang hampir seumuran dengan Gibran Rakabuming Raka saya akan terus berteriak dan mendukung agar anak muda ini bisa bertahan dalam pusaran politik busuk ala pikiran-pikiran busuk," sebut dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: