Kredit Foto: Ilham Nurul Karim
Perakitan mobil listrik di Indonesia belum otomatis membuat kendaraan tersebut memenuhi target tingkat komponen dalam negeri (TKDN) sebesar 60%. Penggunaan komponen lokal, terutama baterai, menjadi salah satu faktor yang dapat membantu produsen mengejar ambang kandungan lokal tersebut.
Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Setia Diarta mengatakan, berdasarkan simulasi pemerintah, target TKDN 60% dapat dicapai ketika baterai kendaraan listrik sudah dirakit atau diproduksi di Indonesia.
“Sebenarnya TKDN 60% di simulasi kita, ketika mereka sudah merakit baterai, di full rakit baterai di Indonesia atau produksi Indonesia, sebenarnya 60% itu bisa dicapai,” ujar Setia saat ditemui di Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, produsen kendaraan listrik tidak harus memiliki pabrik baterai sendiri untuk meningkatkan kandungan lokal. Pemanfaatan baterai yang diproduksi industri dalam negeri juga dapat menjadi pilihan bagi produsen yang merakit kendaraan di Indonesia.
“Jadi mau punya pabrik atau tidak itu sebenarnya bisa,” katanya.
Setia mencontohkan, terdapat merek kendaraan yang masih dirakit di Indonesia, tetapi baterainya sudah menggunakan produk yang dibuat di dalam negeri.
“Ada pabrik baterai di kita, baterainya sudah dibuat di sana. Itu sebenarnya gap 60 persen itu sudah bisa dikejar ketika semua baterai itu sudah dikerjakan di Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pemenuhan TKDN tidak hanya berkaitan dengan lokasi perakitan kendaraan, tetapi juga sumber komponen yang digunakan dalam proses produksinya.
Perakitan Lokal Belum Menjamin Kandungan Lokal Tinggi
Dalam industri otomotif, kegiatan perakitan di dalam negeri tidak selalu berarti seluruh komponen kendaraan berasal dari pemasok lokal. Apabila komponen yang digunakan masih bergantung pada impor, kontribusi produksi domestik terhadap kandungan lokal kendaraan tetap menjadi persoalan.
Karena itu, pengembangan industri komponen menjadi bagian penting dalam upaya memperdalam struktur industri otomotif nasional. Bagi kendaraan listrik, baterai menjadi salah satu komponen strategis yang dapat mendukung upaya tersebut.
Baca Juga: Mobil Listrik Mulai Geser Peta Persaingan Pasar Mobil RI
Baca Juga: Mobil Listrik Terlaris di Indonesia hingga Agustus 2026, Bukan dari BYD
Baca Juga: 26 Merek Mobil Berdarah-darah pada September, Penjualan Mitsubishi Terparah
Produksi baterai di Indonesia membuka peluang bagi produsen kendaraan untuk memanfaatkan pasokan domestik tanpa harus membangun seluruh fasilitas produksi komponen secara mandiri. Model ini juga memungkinkan produsen memanfaatkan ekosistem pemasok yang sudah tersedia.
Meski demikian, penggunaan baterai produksi dalam negeri tidak serta-merta menjamin setiap kendaraan mencapai TKDN 60%. Besaran kandungan lokal tetap bergantung pada metode penghitungan yang berlaku dan komponen lain yang digunakan dalam kendaraan.
Setia belum merinci besaran kontribusi baterai terhadap persentase TKDN maupun tahapan produksi baterai yang menjadi dasar simulasi pemerintah tersebut.
Dengan demikian, tantangan pengembangan industri kendaraan listrik tidak berhenti pada peningkatan kapasitas perakitan. Pemerintah dan pelaku industri juga perlu memperkuat rantai pasok komponen agar investasi kendaraan listrik memberikan kontribusi lebih besar terhadap aktivitas manufaktur di dalam negeri.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Dian Ihsan