Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Manuver Rocky Minta Gibran Mundur Dikritik GPS: Ibarat Kerupuk Terendam Air Kekuasaan

        Manuver Rocky Minta Gibran Mundur Dikritik GPS: Ibarat Kerupuk Terendam Air Kekuasaan Kredit Foto: Istihanah
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Politikus senior sekaligus pendiri Partai Kebangkitan Nusantara (PKN), Gede Pasek Suardika (GPS), memberikan analisis tajam terkait langkah Rocky Gerung yang kini merapat ke lingkaran kekuasaan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).

        Gede Pasek menilai, manuver awal Rocky yang meminta Gibran Rakabuming Raka mundur dari jabatan Wakil Presiden membuktikan bahwa ia adalah politisi murni, bukan sekadar akademisi pengkritik.

        Dalam pandangannya, Gede Pasek mengakui kehebatan Presiden Prabowo Subianto yang mampu menjinakkan dan merangkul Rocky Gerung, sosok yang selama satu dekade terakhir dikenal sebagai oposisi paling keras di era pemerintahan Joko Widodo.

        Namun, Pasek menyoroti ironi dari pernyataan perdana Rocky setelah menduduki jabatan setingkat menteri tersebut, yakni meminta Gibran mundur agar Prabowo tidak terbebani polemik putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

        Menurut Pasek, serangan langsung kepada Gibran adalah sebuah manuver politik kekuasaan tingkat tinggi, namun sekaligus menunjukkan kelemahan fatal.

        "Manuver awal meminta Gibran mundur adalah manuver 'ilmu kedunguannya' yang sedang dicoba. Rocky Gerung lupa jika Wantimpres itu bukan hanya untuk Presiden tetapi juga untuk Wapres. Yang lebih parah lagi, dirinya tidak akan pernah jadi Wantimpres jika tidak ada pemenang Pilpres yaitu pasangan Prabowo-Gibran, bukan Prabowo sendiri," ungkap Gede Pasek.

        Ia menilai manuver tersebut kental dengan muatan politik praktis dan justru sangat menguntungkan kelompok-kelompok tertentu yang memang berhasrat menggantikan posisi Gibran di tengah jalan.

        Bagi Gede Pasek, publik tidak perlu lagi memandang Rocky Gerung sebagai kritikus atau akademisi murni.

        Rekam jejak Rocky yang pernah menjadi motor pendiri Partai Serikat Rakyat Indonesia (SRI) demi memuluskan jalan Sri Mulyani sebagai presiden menjadi bukti sahih bahwa orientasi utamanya adalah jabatan politik.

        "Jiwa dan bangunan sosok Rocky Gerung adalah politisi. Setelah gagal lewat jalur membuat partai politik yang tunasnya mati tanpa kelanjutan, ia masuk ke dunia politictainment untuk berkarir secara politik," jelas mantan politisi Demokrat tersebut.

        Pasek pun tak segan membandingkan pencapaian politiknya dengan Rocky. Ia membanggakan keberhasilannya membangun PKN dalam waktu singkat hingga bisa mengikuti Pemilu dan tetap eksis, dibandingkan Partai SRI besutan Rocky yang layu sebelum berkembang.

        "Paling tidak satu poin saya unggul dengan Rocky Gerung sebagai politisi, ha ha ha," candanya.

        Meski mengkritik manuvernya, Gede Pasek mengaku tetap mengagumi pilihan kata dan kecerdasan Rocky Gerung selama berada di luar pemerintahan yang dinilainya berada di atas rata-rata.

        Namun, ia menyayangkan bahwa tajamnya kritik Rocky dipastikan akan mereda seiring masuknya ia ke dalam pusaran Istana.

        "Sayang ke depan 'politik dungu' tidak bisa saya nikmati lagi. Lagunya akan nyaring dan enak dinikmati jika berada di luar kekuasaan. Kalau di dalam kekuasaan sudah tidak renyah lagi, karena ibarat kerupuk terendam air kekuasaan," pungkas Gede Pasek.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ferry Hidayat
        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: