Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Ekspor Listrik Hijau RI ke Singapura Tertahan, APLSI Minta Kepastian Kontrak

        Ekspor Listrik Hijau RI ke Singapura Tertahan, APLSI Minta Kepastian Kontrak Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rencana ekspor listrik hijau Indonesia ke Singapura masih menghadapi sejumlah pembahasan dalam proses negosiasi. Di tengah peluang pengembangan energi bersih dan investasi baru, Asosiasi Produsen Listrik Swasta Indonesia (APLSI) menilai kepastian kontrak, infrastruktur transmisi, dan iklim investasi menjadi faktor penting agar kerja sama tersebut dapat terealisasi.

        Dewan Kehormatan APLSI, Adrian Lembong, mengatakan ekspor listrik dapat menjadi salah satu instrumen untuk menarik investasi ke sektor energi Indonesia. Menurut dia, permintaan listrik bersih dari negara lain dapat membuka peluang pembiayaan baru bagi pengembangan proyek energi di dalam negeri.

        “Karena kita bisa memompa dana ke dalam bisnis dan kegiatan energi di Indonesia tanpa kita harus bayar sendiri. Karena kita dibantu oleh Singapura ataupun oleh Malaysia ataupun oleh Thailand atau siapapun yang mau membeli listrik ekspor kita,” ujar Adrian dalam diskusi transisi energi di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

        Menurut Adrian, ekspor listrik juga dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mengoptimalkan potensi sumber daya energi yang dimiliki sekaligus memperkuat industri domestik.

        “Kita dalam ekspor migas itu juga ada cross subsidy, ada tarif domestik dan ada tarif luar negeri. Hal yang sama kita juga bisa lakukan juga dalam kelistrikan. Bagaimana kita menggunakan sumber daya atau kelimpahan pada sumber daya Indonesia untuk membantu industri di Indonesia,” katanya.

        Peluang Ekspor Listrik dari Sumatera

        Adrian melihat Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan ekspor listrik, termasuk dari wilayah yang memiliki potensi energi terbarukan seperti Sumatera.

        Menurut dia, pengembangan sumber listrik di wilayah tersebut dapat diarahkan untuk mendukung kebutuhan energi regional, termasuk negara-negara yang membutuhkan pasokan listrik bersih.

        Potensi tersebut menjadi bagian dari peluang Indonesia dalam membangun ekosistem perdagangan listrik lintas negara, seiring meningkatnya kebutuhan energi bersih di kawasan.

        Meski memiliki potensi besar, Adrian menilai realisasi ekspor listrik membutuhkan kepastian skema bisnis jangka panjang. Menurut dia, investor membutuhkan kejelasan kontrak antara pengembang listrik swasta (Independent Power Producer/IPP), PLN, dan pembeli listrik.

        “Jenis kontrak yang disepakati antara pembeli sama penjual, antara IPP, PLN dan IPP. Di mana ini juga setiap kali ada tender baru dokumen ini agak cenderung selalu diperbaiki terus diperbaiki terus,” lanjut Adrian.

        Menurut dia, proses perubahan dokumen kontrak yang berlangsung berulang dapat memengaruhi kecepatan realisasi investasi.

        “Kita paham bahwa ini untuk memperbaiki kontraknya, tetapi di pihak lain ini membuat proses jadi lebih lambat karena sampai sekarang belum pernah benar-benar selesai,” sambungnya.

        Selain kepastian kontrak, Adrian menilai kesiapan infrastruktur transmisi menjadi tantangan penting dalam pengembangan listrik bersih dan ekspor listrik.

        Menurut dia, tantangan pembangunan kapasitas listrik bukan hanya terkait kemampuan membangun pembangkit, tetapi juga memastikan listrik tersebut dapat tersalurkan ke pusat permintaan.

        “100 GW itu not necessarily masalah harga. Lahannya ada, alat bisa dapat, tapi menyambung ke demand-nya ini gimana caranya. Itu yang paling susah,” tandas Adrian.

        Ia menambahkan, jaringan transmisi yang kuat akan memungkinkan Indonesia mengintegrasikan lebih banyak energi terbarukan ke dalam sistem kelistrikan nasional.

        “Kalau misalnya kita punya jaringan listrik yang kuat dan transmisi yang fleksibel, itu akan memungkinkan kita meng-introduce lebih banyak energi-energi yang murah walaupun sifatnya intermiten,” katanya.

        Sementara itu, Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah menilai ekspor listrik tidak hanya berkaitan dengan perdagangan energi, tetapi juga peluang membangun industri baru di dalam negeri.

        Baca Juga: Listrik Padam, Sinyal Hilang, Air Terganggu, Meutya Hafid Buka Suara Soal Blackout Batam

        Baca Juga: Sinergi BUMD: Pemprov DKI Targetkan Seluruh Armada TransJakarta Berbasis Listrik pada 2029

        Menurut dia, pengembangan kapasitas listrik harus diikuti dengan pembangunan industri pendukung agar memberikan dampak lebih besar terhadap perekonomian.

        “Betul memang ekspor listrik ini membuka banyak peluang, tapi juga yang perlu penting adalah bagaimana membangun industri di sekitarnya,” ujar Imaduddin.

        Ia menilai kepastian kebijakan menjadi faktor penting dalam menarik investasi karena sektor energi memiliki karakter proyek jangka panjang.

        “Investasi jangka panjang, mungkin 5 tahun dan 20 tahun itu sinyalnya berbeda,” tutupnya.

        Menurut Imaduddin, keberhasilan pengembangan listrik bersih akan menentukan daya saing Indonesia dalam menarik investasi energi dan industri hijau di kawasan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: