Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Anjlok 2%, Ini Biang Keroknya

        IHSG Anjlok 2%, Ini Biang Keroknya Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Pasar saham domestik diterpa gelombang koreksi tajam pada perdagangan Kamis (15/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpuruk hingga berkurang 118,4 poin atau merosot 2,00% ke posisi 5.824 hingga pukul 15.00 WIB, dibandingkan penutupan hari sebelumnya di level 5.943,02.

        Bahkan, IHSG sempat turun 121,71 poin atau 2,22% ke level 5.811,32 di perdagangan sesi I hari ini. Lalu, indeks sempat berada di level terendah 5.804,21.

        Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menjelaskan kejatuhan IHSG dipicu oleh sentimen negatif pasar keuangan global pasca-rilis data Bureau of Labor Statistics. Indeks Harga Konsumen atau Consumer Price Index (CPI) utama Amerika Serikat (AS) naik 0,6% secara bulanan (month-on-month/MoM) dan melonjak 3,7% secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2026, akibat lonjakan harga bensin sebesar 9,1% MoM serta kenaikan sektor energi.

        "Rilis inflasi yang lebih panas dari proyeksi konsensus ini dengan cepat membalikkan ekspektasi kebijakan moneter The Fed, di mana probabilitas kenaikan suku bunga acuan pada pertemuan 28 Oktober 2026 meningkat sekitar 32,7% menurut CME FedWatch tool. Dampaknya langsung terasa di pasar obligasi, di mana US 2-Year Bond Yield saat ini menguat 0,27% di level 4,806%," kata Nafan Aji Gusta dalam keterangannya kepada Warta Ekonomi, Kamis (15/10/2026).

        Selain potensi pengetatan moneter The Fed, pelemahan IHSG makin diperberat oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Serangan balasan antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang menyasar fasilitas energi serta bandara di Riyadh dan Dhahran memicu lonjakan harga komoditas energi.

        Baca Juga: IHSG Melemah 2,22% ke Level 5.811,32, Analis: Tertekan Aksi Jual Seluruh Sektor Saham

        Baca Juga: IHSG Dibuka Melemah, Koreksi Makin Dalam ke Level 5.896

        "Harga minyak mentah jenis Brent menguat 0,45% ke posisi USD106,17 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) melonjak 1,07% ke level USD95,17 per barel," jelas Nafan.

        Nafan memperingatkan perpaduan antara tingginya yield obligasi AS dan reli harga minyak dunia berisiko memicu inflasi impor (imported inflation) bagi Indonesia, sekaligus memperbesar potensi keluarnya arus modal asing (capital outflow) dari bursa berkembang (emerging markets).

        Atas dasar itu, para pelaku pasar diimbau untuk lebih waspada dan menerapkan manajemen risiko terukur saat mencermati saham-saham yang rentan terhadap perubahan suku bunga global dan fluktuasi harga energi mentah.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: