Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terjun bebas saat pembukaan perdagangan Jumat (16/10/2026). IHSG anjlok 469,85 poin atau 8,01% ke level 5.393,92.
Penurunan tajam tersebut memicu trading halt atau penghentian sementara perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada awal perdagangan, volume transaksi tercatat mencapai 53,6 juta lot dengan nilai sebesar Rp905,15 miliar. Tekanan jual mendominasi pasar, dengan 595 saham melemah, hanya 14 saham menguat, dan 33 saham bergerak stagnan.
Salah satu sentimen utama yang membayangi pasar adalah pengumuman terbaru Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Selain itu, investor juga mencermati inflasi Amerika Serikat (AS), klaim pengangguran AS, arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed, serta perkembangan konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Usulan MSCI Jadi Sorotan
MSCI mengusulkan perubahan status pasar saham Indonesia dari Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market atau pasar mandiri. Usulan tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar hingga 30 April 2027.
Keputusan akhir dijadwalkan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027. MSCI juga membuka kemungkinan untuk menyampaikan pembaruan sebelum tenggat tersebut.
“MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi,” tulis MSCI, dikutip Jumat (16/10/2026).
MSCI menilai klasifikasi pasar saham Indonesia perlu ditinjau kembali karena masih terdapat persoalan terkait transparansi dan kemudahan investor dalam mengakses pasar.
Sejumlah perhatian utama mencakup keterbukaan informasi kepemilikan saham, dugaan perdagangan yang terkoordinasi, serta belum terlihatnya bukti kuat bahwa penegakan aturan dan reformasi yang dilakukan telah memberikan perbaikan signifikan terhadap fungsi pasar.
Baca Juga: MSCI Ancam Turunkan Status Pasar Saham RI, Ini Respons BEI
Baca Juga: MSCI Pertimbangkan Ubah Status Pasar Saham RI, dari Emerging Market Jadi Standalone
Dalam evaluasi pada Juni 2026, sejumlah pelaku pasar juga mempertanyakan apakah saham-saham Indonesia dapat diperdagangkan secara transparan dan efisien.
BEI Tegaskan Komitmen Perbaikan Pasar Modal
Menanggapi langkah MSCI tersebut, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan bahwa pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah menjalankan berbagai langkah konkret untuk meningkatkan transparansi, integritas, dan kualitas pasar modal Indonesia.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, mengatakan upaya pembenahan yang dilakukan telah memperoleh apresiasi dan respons positif dari investor global maupun penyedia indeks internasional.
Menurutnya, respons tersebut mencerminkan komitmen berkelanjutan otoritas dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kredibilitas serta daya saing pasar modal Indonesia.
Meski demikian, BEI tetap menghormati independensi MSCI dalam mengevaluasi dan menentukan klasifikasi pasar berdasarkan metodologi yang digunakan lembaga tersebut.
“Meski demikian, BEI menghormati independensi MSCI dalam menilai dan menentukan klasifikasi pasar berdasarkan metodologi yang digunakan lembaga tersebut,” kata Jeffrey dalam keterangan resminya, Jumat (16/10/2026).
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan