Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Tembus ke Level Rp18.000 per Dolar AS, Tertekan Evaluasi MSCI

        Rupiah Tembus ke Level Rp18.000 per Dolar AS, Tertekan Evaluasi MSCI Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Mata uang Garuda tembus ke level psikologis di Rp18.021 per dolar AS atau melemah 83 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS.

        Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan perdagangan rupiah hari ini bergersk fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.930 - Rp17.990. Sedangkan perdagangan dalam minggu ini direntang Rp17.780 - Rp18.060.

        Ibrahim menyampaikan pelemahan ini dipicu beberapa faktor. Pasar saham indonesia menghadapi tekanan menjelang evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada November 2026.

        Bobot Indonesia dalam MSCI Emerging Markets diperkirakan hanya sekitar 0,43% pada akhir September, sementara investor mencermati risiko penurunan klasifikasi pasar, kelanjutan pembekuan saham, dan perkembangan reformasi pasar modal.

        "Keputusan ini akan bergantung pada bukti bahwa reformasi pasar modal Indonesia berjalan efektif," kata Ibrhaim kepada wartawan.

        Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp17.938 per Dolar AS, Tertekan Isu Evaluasi MSCI

        Baca Juga: BI Klaim Pelemahan Rupiah Masih Sejalan dengan Pergerakan Mata Uang Regional

        Selain itu, implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dinilai belum memberikan hasil yang memuaskan. Di sisi lain, biaya dan risikonya justru dikhawatirkan semakin mengancam keuangan negara.

        "Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai lembaga pengelola MBG maupun pihak terkait lain, tidak mempublikasikan data kepada publik mengenai dampak MBG terhadap penurunan stunting, sebagaimana tujuan utamanya," terang dia.

        Alih-alih membuktikan melalui penelitian sendiri, pemerintah memilih meminjam penelitian-penelitian lain untuk meyakinkan bahwa skema memberikan makan gratis mampu menurunkan angka stunting. "Pemerintah mungkin kesulitan melakukan evaluasi terhadap gizi anak-anak yang mengonsumsi MBG. Namun, saat bersamaan, terdapat biaya dan risiko yang harus dibayar mahal," ujar dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: