Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Anies: Demokrasi Kita dalam Bahaya

        Anies: Demokrasi Kita dalam Bahaya Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menyoroti kondisi demokrasi Indonesia setelah gagal melanjutkan persaingan politik pada dua kontestasi berbeda.

        Usai kalah dalam Pilpres 2024, Anies juga tidak dapat maju dalam Pilkada 2024. Namun, ia menegaskan pengalaman tersebut bukan sekadar persoalan kekalahan atau kekecewaan pribadi.

        Pandangan itu disampaikan Anies saat berbincang dengan motivator Merry Riana dalam sebuah podcast yang diunggah melalui kanal YouTube. Merry sempat menanyakan pengalaman mana yang lebih menyakitkan bagi Anies, kalah dalam pemilihan presiden atau tidak mendapat kesempatan bertanding dalam pemilihan kepala daerah.

        Baca Juga: Pilpres 2029: Tiga Poros Dinilai Siap Berebut Panggung

        Alih-alih menjawab dari sudut pandang pribadi, Anies justru menekankan pentingnya melihat persoalan tersebut sebagai peringatan bagi demokrasi. Menurutnya, pengalaman politik yang dialami seseorang tidak boleh mengaburkan persoalan yang lebih besar, yakni bagaimana demokrasi tetap terjaga.

        “Kalau buat saya, tidak ada soal sakit atau tidak. Ini adalah warning tentang demokrasi kita. Ini bukan tentang pribadi, demokrasi ini harus dijaga,” jawab Anies.

        Ia kemudian memaparkan tiga kondisi yang menurutnya menjadi tanda demokrasi berada dalam bahaya. Salah satunya ketika lembaga atau pihak yang seharusnya menjaga jalannya kompetisi politik justru berada di bawah kendali pihak tertentu.

        “Kalau wasit dikendalikan, penyangga dikendalikan,” ungkap Anies.

        Baca Juga: Alasan Rocky Gerung Masuk Istana: Bantuin Presiden Nangkep Koruptor

        Selain persoalan independensi pihak yang bertugas menjaga proses demokrasi, Anies menyoroti hilangnya ruang bagi lawan politik untuk berkompetisi. Baginya, kompetisi yang sehat membutuhkan kesempatan yang terbuka bagi setiap pihak untuk ikut bertarung.

        “Yang kedua, lawan ditiadakan,” katanya.

        Poin ketiga yang disoroti Anies adalah perubahan aturan main. Ia mengingatkan bahwa perubahan aturan dapat menjadi persoalan serius ketika memengaruhi jalannya persaingan politik.

        “Yang ketiga, aturan main diubah-ubah berarti ini demokrasi kita dalam bahaya,” ujar Anies.

        Anies menegaskan bahwa pernyataannya bukan semata-mata untuk membicarakan nasib politiknya sendiri. Ia menilai hal yang lebih penting adalah memastikan demokrasi berjalan secara adil, dengan pihak penjaga yang independen, kesempatan berkompetisi yang terbuka, serta aturan yang tidak berubah-ubah demi kepentingan tertentu.

        “Ketika salah, kejadian-kejadian yang terjadi, maka yang dalam bahaya demokrasi kita, ini bukan soal Anies,” imbuh Anies.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Belinda Safitri
        Editor: Belinda Safitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: