Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kementan Perkuat Keberlanjutan Pertanian Dataran Tinggi

        Kementan Perkuat Keberlanjutan Pertanian Dataran Tinggi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP), resmi menggelar Workshop Nasional Exit Strategy Proyek The Development of Integrated Farming System in Upland Areas (UPLAND) di Avenzel Hotel and Convention Cibubur, Kota Bekasi, Jawa Barat. 

        Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari (14–16 Oktober 2026) ini mempertemukan jajaran pemerintah pusat, 14 bupati pengampu wilayah sasaran, serta lembaga pendanaan internasional seperti International Fund for Agricultural Development (IFAD) dan Islamic Development Bank (IsDB). Forum ini menjadi tonggak penting dalam mengawal transisi dan keberlanjutan hasil pembangunan pertanian berbasis sistem terpadu (integrated farming system) di wilayah dataran tinggi Indonesia. 

        Melalui pendekatan sistem pertanian terpadu (integrated farming system), Proyek UPLAND telah mendorong pengembangan ekosistem agribisnis dataran tinggi yang menghubungkan kegiatan produksi di tingkat usaha tani (on-farm) dengan penanganan pascapanen, pengolahan hasil, penguatan kelembagaan ekonomi petani, akses pembiayaan, dan pemasaran (off-farm).

        Integrasi tersebut didukung oleh pembangunan dan rehabilitasi infrastruktur pertanian, penyediaan alat dan mesin pertanian, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan koperasi dan korporasi petani. Pendekatan ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah, daya saing komoditas, dan pendapatan petani secara berkelanjutan.

        Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek UPLAND, Ibu Risda Sinaga, menyampaikan laporan panitia mengenai capaian serta kerangka kerja konsolidasi exit strategy. Dalam laporkannya, ditegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan kelompok tani untuk memastikan seluruh aset infrastruktur, alat mesin pertanian (alsintan), kelembagaan ekonomi petani, serta akses pembiayaan mikro yang telah dibangun dapat terus beroperasi secara mandiri pascaproyek berakhir. 

        Sementara itu, Muhammad Ikhwan selaku Project Manager UPLAND di Kementerian Pertanian Republik Indonesia, menegaskan harapan agar seluruh elemen pemerintah daerah hingga tingkat desa dapat menjaga serta meneruskan keberhasilan program ini. 

        Sebagai pimpinan teknis pengelola irigasi dan prasarana lahan, Dr. Liferdi Lukman, S.P., M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Direktur Irigasi Pertanian di bawah Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian, menyampaikan pemaparannya terkait progres pencapaian akhir serta pengelolaan infrastruktur pendukung pertanian dataran tinggi. 

        Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Dr. Ir. Hermanto, M.P., menekankan bahwa pengakhiran masa proyek bukan berarti berhentinya intervensi pembangunan, melainkan awal dari fase kemandirian daerah. 

        "Keberlanjutan Proyek UPLAND merupakan kunci utama dalam menjaga ketahanan pangan nasional di dataran tinggi. Kami mengharapkan keberlanjutan program ini dapat terus dikawal secara konsisten melalui komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga aset, kelembagaan, serta inovasi yang telah ditanamkan memberikan dampak ekonomi yang berkesinambungan bagi kesejahteraan petani," ujar Dr. Ir. Hermanto, M.P. dalam arahannya.

        Puncak sesi pembukaan diwarnai dengan penandatanganan Naskah Komitmen Bersama Pengembangan Sistem Pertanian Terpadu 2027–2029 antara Dirjen LIP dan para Bupati dari 14 kabupaten lokasi UPLAND, dilanjutkan dengan penyerahan dokumen strategis Roadmap UPLAND. 

        “Kita membuat kesepakatan dalam hal ini adalah komitmen untuk memastikan bahwa project ini betul-betul kita bisa kita pastikan akan terus berkelanjutan. Artinya, karena project ini melibatkan banyak pihak sebelum ini, sehingga ini perlu kita menyamakan persepsi langkah kita ke depan untuk memastikan bagaimana project UPLAND yang sudah kita bangun dengan investasi yang tidak sedikit, kemudian dengan program-program yang cukup banyak ini bisa terus berkelanjutan. Sehingga apa yang menjadi sasaran akhir UPLAND untuk bisa meningkatkan produksi, meningkatkan pendapatan, kemudian bahkan sampai kepada sasaran akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani” tegas Dr. Ir. Hermanto, M.P.

        Baca Juga: Ditinjau DPR dan Kementan, Koperasi Peternak di Pasuruan Bawa Harapan Kemandirian Susu Nasional

        Sebagai bentuk apresiasi atas komitmen dan capaian Pemda dalam mendukung pengembangan sistem pertanian terpadu, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian memberikan penghargaan UPLAND Award 2026 kepada tiga kabupaten yang menunjukkan keunggulan dalam pengembangan komoditas unggulan daerah.

        Penghargaan tersebut diberikan kepada Kabupaten Magelang untuk kategori Pengembangan Agribisnis Padi Organik Berkelanjutan, Kabupaten Garut untuk kategori Agribisnis Kentang Berdaya Saing, serta Kabupaten Banjarnegara untuk kategori Peternakan Domba Batur Terintegrasi. Penganugerahan ini menjadi bentuk pengakuan atas kontribusi Pemda dalam memperkuat produktivitas, nilai tambah, kelembagaan, keberlanjutan usaha pertanian, sekaligus mendorong replikasi praktik baik pengembangan agribisnis terpadu.

        Melalui pelaksanaan Workshop Exit Strategy ini, Kementerian Pertanian optimistis bahwa investasi dan penguatan kapasitas yang telah dilakukan akan terus menjadi motor penggerak ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat tani secara inklusif dan berkelanjutan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Fajar Sulaiman
        Editor: Fajar Sulaiman

        Bagikan Artikel: