- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham saat IHSG Terkena Sengatan MSCI
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Pengusaha sekaligus Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jusuf Hamka menyiapkan dana Rp5 triliun bersama sejumlah rekan bisnisnya untuk membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (19/10/2026). Langkah tersebut diambil setelah pasar saham mengalami gejolak tajam, yang menurutnya justru membuka peluang bagi investor untuk mengakumulasi saham berfundamental kuat.
Ia menilai penurunan harga saham yang tajam dapat menjadi momentum untuk masuk ke pasar. Dia menyebut sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip, terutama dari sektor perbankan, menarik untuk dikoleksi karena menawarkan potensi pendapatan dividen.
"Menurut saya, ini adalah kesempatan untuk membeli. It's time to buy," ujar pria yang akrab disapa Babah Alun tersebut, dalam unggahan di instagram pribadinya @jusufhamka, Sabtu (17/10/2026).
Dia mengatakan, pembelian saham tersebut akan dilakukan melalui konsorsium bersama sejumlah rekannya. Total dana yang disiapkan untuk masuk ke pasar saham mencapai Rp5 triliun.
"Pasti hari Senin saya akan belanja dan kita, di kelompok kita, Rp5 triliun kita akan belanja di market untuk hari Senin," katanya.
Babah Alun menyebut sejumlah saham perbankan berkapitalisasi besar yang menjadi perhatiannya, antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Menurutnya, penurunan harga saham perbankan tersebut membuka peluang bagi investor untuk memperoleh imbal hasil dividen yang menarik dibandingkan deposito.
Dia mencontohkan saham Bank Mandiri yang, menurutnya, sempat diperdagangkan pada kisaran Rp6.000–Rp7.000 per saham sebelum turun ke kisaran Rp3.300–Rp3.500 per saham.
Ia juga menyinggung dividen Bank Mandiri yang disebutnya mencapai Rp450 per saham. Dengan asumsi harga saham Rp3.500, dia memperkirakan dividend yield mendekati 12%.
"Kalau harganya sekarang Rp3.500, berarti dia hampir 12% dia punya yield setiap tahun. Ini lebih bagus dari deposito," ujarnya.
Selain Bank Mandiri, Jusuf turut menyebut BRI, BNI, dan BCA sebagai saham yang dinilainya menarik karena potensi pembagian dividen.
Jusuf mengatakan, strategi yang dipertimbangkannya tidak hanya mengandalkan kenaikan harga saham. Dia juga melihat potensi pendapatan rutin dari dividen apabila saham-saham tersebut dipertahankan dalam portofolio.
Baca Juga: IHSG Ambruk 11,57%, Rupiah Tembus Rp18.027, BI Rate Terancam Naik?
Baca Juga: IHSG Ambruk 11,57% hingga Trading Halt, Asing Borong GOTO Rp288 Miliar, BBCA Dilepas Rp2,33 Triliun
Baca Juga: Airlangga Heran MSCI Umumkan Evaluasi Bursa RI Lebih Cepat
Menurutnya, investor dapat memperoleh keuntungan dari dua sumber, yakni pembagian dividen dan potensi kenaikan harga saham apabila pasar kembali menguat.
"Sehingga kalau harga sahamnya naik, kita juga bisa jual," katanya.
Dia menilai saham perbankan besar layak dipertimbangkan karena memberikan peluang untuk memperoleh dividen setiap tahun. Jusuf juga menyebut status Bank Mandiri sebagai bank milik pemerintah menjadi salah satu pertimbangannya.
"Jadi kita pegangin aja barang ini mendapat dividen setiap tahun," ujarnya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri