Paris Membara! Demo Berubah Jadi Ajang Penjarahan Brutal Toko Brand Mewah, Ternyata Ini Alasan Sebenarnya!
Kredit Foto: Twitter/Robert Spencer
Gelombang demonstrasi menentang mahalnya biaya hidup di Prancis berubah menjadi kerusuhan besar yang menyasar gedung publik, pertokoan, hingga kendaraan. Sedikitnya 1.200 orang ditangkap dan lebih dari 150 polisi terluka dalam aksi yang berlangsung di berbagai kota pada Sabtu (17/10/2026).
Dilansir AFP dan Reuters, Minggu (18/10/2026), demonstrasi awalnya diikuti ratusan ribu warga yang menyuarakan keresahan terhadap kenaikan biaya hidup dan memburuknya layanan publik. Namun, sejumlah kelompok massa terlibat bentrokan dengan polisi, membakar bangunan, serta menjarah butik mewah dan supermarket.
Kerusakan dilaporkan terjadi di sejumlah kota. Di Limoges, balai kota dibakar, sedangkan di Marseille sekelompok demonstran menerobos kantor wali kota dan merusak bangunan dengan grafiti. Di Lyon, kantor pariwisata juga menjadi sasaran pembakaran.
Kemunculan demonstrasi ini berawal dari protes pelajar sekolah menengah di pinggiran utara Paris sejak bulan sebelumnya. Keluhan mengenai kekurangan guru dan buruknya fasilitas pendidikan kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas, dengan tuntutan terkait ketimpangan sosial, pengeluaran publik, upah, dan kenaikan biaya hidup.
"Kami berjuang karena biaya hidup terlalu tinggi, karena harga bahan bakar terlalu mahal, karena siswa sekolah menengah diserang dan dilukai secara brutal di seluruh negeri hanya karena mencoba memprotes dan meminta lebih banyak guru dan kondisi belajar yang layak," kata Lola, pengunjuk rasa berusia 19 tahun di Paris.
Kemarahan juga disuarakan para pekerja yang merasa pendapatan mereka tidak sebanding dengan biaya hidup. "Kami sudah muak bekerja keras dengan upah yang sangat rendah, sementara biaya sewa terus naik," ujar seorang guru bernama Regine Monfroid kepada AFP di Strasbourg.
Di Paris, para perusuh membakar mobil, menghancurkan bank, serta menjarah sejumlah toko, termasuk Lacoste dan gerai telepon seluler SFR. Polisi menggunakan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa, sementara sebagian demonstran melemparkan benda dan menyalakan kembang api ke arah petugas.
Penanganan aparat turut menuai kritik setelah seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan tangan kanannya akibat ledakan granat pengendali massa di Saint-Etienne. Lembaga pengawas kepolisian dilaporkan tengah menyelidiki puluhan dugaan kekerasan yang melibatkan aparat.
Perdana Menteri Prancis Sebastien Lecornu menegaskan pemerintah tidak akan tunduk pada intimidasi dan menyalahkan kelompok sayap kiri ekstrem serta pelaku kriminal atas kerusuhan tersebut. Presiden Emmanuel Macron juga berjanji menuntut pihak-pihak yang menyerang institusi dan merusak ketertiban umum.
Baca Juga: Demo Biaya Hidup di Paris Berujung Penjarahan, 1.200 Orang Ditangkap
Kementerian Dalam Negeri memperkirakan sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh negeri, sedangkan serikat pekerja CGT menyebut jumlahnya mencapai 800.000 orang. Kerusuhan berlangsung sekitar enam bulan sebelum pemilihan presiden yang dijadwalkan pada 2027, menambah tekanan politik terhadap pemerintah.
Gelombang protes serupa juga terjadi di sejumlah negara Eropa. Di Belgia, Portugal, dan Italia, demonstrasi terkait biaya hidup dan pendidikan berlangsung di beberapa kota, sementara di Albania massa turun ke jalan untuk memprotes korupsi, minimnya lapangan kerja, dan buruknya standar pendidikan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Christian Andy
Editor: Christian Andy
Tag Terkait: