Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Viral Slogan 'Bismillah, C’est les Ténèbres' di Demo Prancis, Ini Asal-usul dan Maknanya

        Viral Slogan 'Bismillah, C’est les Ténèbres' di Demo Prancis, Ini Asal-usul dan Maknanya Kredit Foto: Twitter/Robert Spencer
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” menjadi fenomena di kalangan pelajar dan mahasiswa yang menggelar demonstrasi di Prancis. Ungkapan campuran bahasa Arab dan Prancis tersebut ramai terpampang pada poster aksi serta menyebar luas melalui media sosial sejak awal Oktober 2026.

        Dilansir dari sejumlah media Prancis, termasuk Le Parisien dan Le Progrès, Minggu (18/10/2026), slogan itu bermula dari tangkapan layar percakapan di aplikasi Snapchat. Percakapan tersebut diduga berasal dari seseorang yang berusaha bergabung ke grup pelajar untuk memperoleh informasi mengenai rencana pemblokiran sekolah.

        Dalam pesan yang beredar, seseorang menggunakan kalimat “Bismillah, c’est les ténèbres” sebelum menanyakan jadwal aksi dan meminta dimasukkan ke grup koordinasi demonstrasi. Pesan itu juga memuat ungkapan yang mengesankan ajakan melakukan perusakan.

        Gaya bahasa dalam pesan tersebut dinilai janggal oleh sejumlah pelajar. Perpaduan bahasa Arab, bahasa Prancis, dan bahasa gaul yang dianggap berlebihan memicu kecurigaan bahwa pengirimnya sedang berusaha menyamar sebagai pelajar.

        Baca Juga: Kronologi Demo Prancis Berujung Rusuh: Balai Kota Terbakar, Toko Dijarah, Ribuan Orang Ditangkap

        Sebagian pengguna media sosial kemudian menduga akun tersebut dimiliki polisi yang berupaya menyusup ke grup percakapan demonstran. Namun, dugaan itu belum terverifikasi secara independen dan belum ada bukti yang memastikan identitas pemilik akun.

        Secara harfiah, bismillah merupakan ungkapan bahasa Arab yang berarti “dengan nama Allah”. Sementara itu, c’est les ténèbres dapat diterjemahkan secara kasar sebagai “inilah kegelapan”.

        Jika digabungkan, ungkapan tersebut terdengar tidak lazim dan tidak memiliki makna yang jelas dalam konteks percakapan yang beredar. Justru kejanggalan itulah yang membuatnya menjadi bahan lelucon di kalangan pelajar.

        Ungkapan tersebut kemudian diadaptasi menjadi meme, video parodi, dan tulisan pada poster demonstrasi. Slogan yang awalnya muncul dalam percakapan digital itu akhirnya berkembang menjadi simbol sindiran terhadap dugaan penyusupan ke dalam kelompok pelajar.

        Popularitasnya juga meluas ke luar media sosial. Menurut laporan Le Parisien, slogan tersebut muncul dalam aksi pelajar dan mahasiswa, bahkan digunakan oleh sejumlah tokoh serta kelompok politik dalam konteks demonstrasi.

        Di balik unsur humor, penggunaan slogan tersebut turut memunculkan perdebatan mengenai stereotip rasial dan identitas kelompok minoritas di Prancis.

        Pesan awal yang viral menggunakan nama, ungkapan, dan simbol yang diasosiasikan dengan komunitas keturunan Afrika Utara. Kombinasi tersebut dinilai sebagian pihak sebagai gambaran karikatural terhadap anak muda dari kawasan pinggiran kota Prancis.

        Karena itu, slogan tersebut tidak hanya menjadi lelucon, tetapi juga sarana untuk menyindir cara kelompok tertentu digambarkan dalam percakapan mengenai demonstrasi dan kerusuhan.

        Fenomena ini berlangsung ketika aksi pelajar dan mahasiswa di Prancis berkembang menjadi gerakan yang lebih luas. Para demonstran menyuarakan persoalan pendidikan, termasuk kondisi fasilitas sekolah, kekurangan tenaga pengajar, serta tuntutan perbaikan layanan publik dan biaya hidup.

        Penggunaan meme dan humor memperlihatkan bagaimana generasi muda memanfaatkan media sosial untuk membangun solidaritas sekaligus menyampaikan kritik. Namun, dugaan bahwa pesan awal berasal dari polisi tetap harus dibedakan dari fakta yang telah terbukti.

        Dengan demikian, viralnya slogan “Bismillah, c’est les ténèbres” mencerminkan pertemuan antara budaya internet, humor generasi muda, dan ketidakpercayaan terhadap aparat di tengah gelombang demonstrasi di Prancis.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Taufan Bara Mukti
        Editor: Taufan Bara Mukti

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: