Kredit Foto: Istimewa
Penguatan industri China pada September 2026 berlangsung bersamaan dengan pemulihan aktivitas manufaktur Indonesia. Namun, di balik perbaikan kedua negara, terdapat perbedaan pada indikator produksi, permintaan, dan investasi yang perlu dicermati untuk melihat posisi industri Indonesia di tengah persaingan regional.
Berdasarkan data Biro Statistik Nasional China, produksi industri negara tersebut tumbuh 5,5 persen secara tahunan pada September 2026, meningkat dari 5,2 persen pada Agustus. Sementara itu, penjualan ritel naik 1,1 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 0,4 persen pada bulan sebelumnya.
Secara keseluruhan, ekonomi China tumbuh 4,5 persen secara tahunan pada kuartal III 2026. Secara kuartalan, pertumbuhannya mencapai 1,2 persen.
Penguatan aktivitas industri terutama terlihat pada sektor manufaktur berteknologi tinggi. Nilai tambah industri manufaktur secara keseluruhan tumbuh 6 persen secara tahunan pada September, sedangkan manufaktur teknologi tinggi meningkat 15,3 persen.
Sejumlah sektor mencatatkan pertumbuhan lebih tinggi. Nilai tambah industri peralatan komputer, komunikasi, dan elektronik lainnya naik 16,4 persen, sedangkan industri peralatan khusus tumbuh 12,1 persen. Industri manufaktur otomotif juga mencatatkan pertumbuhan 6,7 persen.
Meski demikian, pertumbuhan industri tersebut belum diikuti penguatan seluruh indikator ekonomi. Investasi aset tetap China sepanjang Januari-September 2026 turun 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Khusus investasi manufaktur, penurunannya mencapai 2,1 persen.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa peningkatan aktivitas produksi masih berlangsung di tengah tekanan investasi. Konsumsi domestik juga belum menunjukkan penguatan yang sebanding dengan pertumbuhan produksi industri.
Manufaktur Indonesia Kembali Ekspansif
Di Indonesia, indikator aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan pada September 2026 setelah mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan survei S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia naik menjadi 52,4 pada September, dari 49,8 pada Agustus. Indeks di atas 50 menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi.
Kementerian Keuangan menyebut perbaikan tersebut didukung oleh peningkatan permintaan, produksi, tenaga kerja, aktivitas pembelian, dan persediaan input.
Pesanan ekspor baru juga meningkat selama dua bulan berturut-turut hingga September. Menurut data yang disampaikan Kementerian Keuangan berdasarkan survei S&P Global, pertumbuhan pesanan ekspor tersebut menjadi yang terkuat sejak Mei 2022.
Perbaikan ini menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur Indonesia kembali memperoleh momentum setelah mengalami pelemahan pada Agustus. Namun, kenaikan PMI belum bisa langsung diartikan sebagai peningkatan output industri dalam besaran yang sama karena indeks tersebut mengukur perubahan kondisi bisnis berdasarkan survei.
Untuk membandingkan aktivitas manufaktur kedua negara, data PMI juga perlu menggunakan sumber yang sama. Berdasarkan survei S&P Global, PMI manufaktur China mencapai 52,1 pada September 2026. Angka tersebut berbeda dari PMI resmi China yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional.
Dengan menggunakan indikator dari sumber yang sama, Indonesia dan China sama-sama berada di zona ekspansi pada September. Meski demikian, angka PMI tidak menunjukkan bahwa tingkat produksi kedua negara setara. Besaran output dan struktur industrinya tetap perlu dilihat melalui indikator produksi aktual.
Data China memperlihatkan bahwa pertumbuhan manufaktur masih ditopang sektor berteknologi tinggi. Sementara itu, perbaikan PMI Indonesia mencerminkan meningkatnya aktivitas bisnis secara lebih luas, termasuk permintaan dan produksi.
Baca Juga: Menperin Ungkap Fakta Industri Kaca RI, Pabrik Baru Terpakai 67%
China Masih Menjadi Pemasok Utama Impor Indonesia
Hubungan industri kedua negara juga terlihat dari perdagangan. China masih menjadi sumber utama impor Indonesia, sehingga perkembangan aktivitas produksi di negara tersebut relevan bagi rantai pasok industri nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor Indonesia pada Juli 2026 mencapai 26,09 miliar dollar AS. Dari jumlah tersebut, impor asal China tercatat sebesar 9,50 miliar dollar AS, dengan pangsa 36,41 persen dari total impor nasional.
Besarnya pangsa tersebut menunjukkan pentingnya China dalam memenuhi kebutuhan barang impor Indonesia. Namun, nilai impor secara keseluruhan belum cukup untuk menjelaskan seberapa besar ketergantungan industri nasional terhadap bahan baku, barang modal, maupun barang konsumsi asal China.
Pembedaan tersebut penting karena impor bahan baku dan barang modal dapat mendukung kegiatan produksi di dalam negeri. Sebaliknya, barang jadi yang bersaing langsung dengan produk lokal dapat menambah tekanan bagi produsen domestik, bergantung pada jenis barang, harga, dan kondisi pasarnya.
Penguatan industri China juga berpotensi membuka peluang bagi eksportir Indonesia apabila peningkatan aktivitas ekonomi di negara tersebut diikuti permintaan lebih besar terhadap komoditas, bahan baku, dan produk dari Indonesia.
Namun, peluang tersebut tidak otomatis muncul hanya karena produksi industri China meningkat. Pertumbuhan produksi dapat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik maupun pasar ekspor, sehingga dampaknya terhadap permintaan produk Indonesia perlu dilihat dari data perdagangan masing-masing komoditas.
Di sisi lain, kapasitas produksi China yang besar membuat perkembangan industri negara tersebut relevan bagi persaingan manufaktur. Untuk menilai dampaknya terhadap produsen Indonesia, diperlukan data impor menurut jenis barang, perkembangan harga, serta kinerja produksi pada sektor yang bersangkutan.
Dengan demikian, penguatan industri China dan pemulihan manufaktur Indonesia pada September 2026 menunjukkan dua perkembangan yang berjalan bersamaan. Tantangan bagi Indonesia bukan sekadar menjaga aktivitas manufaktur tetap ekspansif, melainkan memastikan perbaikan tersebut diikuti peningkatan kapasitas produksi, daya saing, dan kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.
Peluang ekspor dan tekanan persaingan dari China pada akhirnya akan bergantung pada struktur perdagangan kedua negara serta kemampuan industri Indonesia menghasilkan produk dengan harga, kualitas, dan kapasitas pasokan yang kompetitif.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Ilham Nurul Karim
Editor: Istihanah
Tag Terkait: