- Home
- /
- Kabar Finansial
- /
- Bursa
IHSG Anjlok 3,64% ke 4.996,60, Sebanyak 656 Saham Berakhir di Zona Merah
Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Senin (19/10/2026). IHSG turun 3,64% atau 188,49 poin ke level 4.996,60.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 4.907,37 hingga 5.012,86. Tekanan jual mendominasi pasar, dengan mayoritas saham berakhir di zona merah.
Tercatat sebanyak 656 saham melemah, sementara 100 saham stagnan dan hanya 43 saham yang berhasil menguat.
Di tengah tekanan tersebut, aktivitas perdagangan terbilang ramai. Volume transaksi mencapai 34,06 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp25,13 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 1,62 juta kali.
Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan sentimen global, mulai dari rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI, kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS), hingga konflik geopolitik yang masih berlangsung.
IHSG Masih Dibayangi Rencana Perubahan Status oleh MSCI
Tekanan terhadap IHSG diperkirakan masih berlanjut pada perdagangan Senin (19/10/2026). Pelaku pasar masih mencermati rencana MSCI mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Rencana tersebut memicu kekhawatiran investor dan turut menekan IHSG hingga anjlok 11,57% ke level 5.185,10 pada Jumat (16/10/2026).
Tekanan jual meluas di bursa domestik pada perdagangan Jumat. IHSG bahkan sempat merosot 678,68 poin hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau trading halt. Sebanyak 812 saham ditutup melemah.
Investor asing juga masih gencar melepas saham di pasar domestik. Pada Jumat, nilai jual bersih asing (net sell) mencapai Rp3,40 triliun. Secara kumulatif sejak awal tahun (year to date/YTD), nilai jual bersih asing telah menembus Rp110,77 triliun. Pada periode yang sama, IHSG tercatat turun 40,04%.
Senior Technical Analyst Mirae Asset, M Nafan Aji Gusta, menilai kejatuhan tajam IHSG mencerminkan terganggunya stabilitas pasar secara mendadak. Berdasarkan analisis teknikal, IHSG juga dinilai sedang menuju tahap akhir pola gelombang (wave) 5/(C)/Y.
Sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan momentum negatif. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) sama-sama mengisyaratkan pelemahan. Di sisi lain, peningkatan volume transaksi menjadi tanda bahwa tekanan jual masih cukup besar.
Kondisi tersebut membuat aksi jual panik (panic selling) berpotensi berlanjut dalam waktu dekat. Nafan pun memperkirakan pergerakan IHSG masih akan bergejolak, dengan risiko penurunan yang tetap terbuka.
“Level support IHSG pada 4.989 dan 4.785. Adapun level resistance berada di 5.318 dan 5.522 untuk perdagangan hari ini,” kata Nafan dalam keterangan resminya, Senin (19/10/2026).
Baca Juga: BEI Tegaskan Indonesia Masih Layak Berstatus Emerging Market, Ini Alasannya
Baca Juga: IHSG Makin Terpuruk ke Level 4.923,26 pada Sesi I, Waspadai Koreksi Selanjutnya
Baca Juga: IHSG Anjlok 43,72% Sepanjang 2026, Kembali ke Level Era Pandemi Covid-19
Menurutnya, arah IHSG selanjutnya tidak hanya ditentukan oleh kondisi teknikal, tetapi juga oleh perkembangan rencana MSCI dan respons pasar terhadap berbagai persoalan yang menjadi perhatian lembaga penyedia indeks global tersebut.
Transparansi dan Akses Investor Asing Jadi Sorotan MSCI
Sejumlah aspek yang menjadi perhatian MSCI meliputi keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham, keakuratan data free float atau porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik, tingkat likuiditas, serta akses investor asing ke pasar Indonesia.
Aspek-aspek tersebut penting karena memengaruhi kemampuan investor dalam menilai kondisi pasar dan melakukan transaksi saham secara transparan.
Nafan mengingatkan bahwa reformasi yang telah dilakukan belum tentu cukup untuk meredakan kekhawatiran MSCI apabila persoalan mendasar masih dinilai belum terselesaikan.
“Meski reformasi sudah berjalan, MSCI masih dapat mempertahankan freeze apabila menilai persoalan mendasar belum sepenuhnya terselesaikan. Tantangan Indonesia bukan hanya memperbaiki regulasi, melainkan juga membangun kredibilitas pasar,” ungkap Nafan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: