Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Investor Mulai Cemas, Kerusuhan Prancis Ancam Picu Sell-Off Obligasi

        Investor Mulai Cemas, Kerusuhan Prancis Ancam Picu Sell-Off Obligasi Kredit Foto: Twitter.com
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Investor obligasi pemerintah Prancis menghadapi risiko aksi jual baru pada Senin (19/10/2026) menyusul kerusuhan massal yang memperburuk ketidakpastian politik dan fiskal negara tersebut. Tekanan jual berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil (yield) obligasi, yang sebelumnya telah menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun.

        Mengutip The Telegraph, Senin (19/10/2026), ekonom memperkirakan yield obligasi pemerintah Prancis kembali meningkat setelah gelombang kerusuhan meluas di sejumlah wilayah. Kondisi ini memperbesar kekhawatiran investor terhadap kemampuan pemerintah menjalankan reformasi ekonomi dan mengendalikan utang negara.

        Andrew Kenningham, ekonom Capital Economics, memperkirakan yield obligasi pemerintah Prancis dapat naik hingga 0,1 poin persentase pada Senin. Kenaikan tersebut berpotensi membawa imbal hasil kembali mendekati level tertinggi dalam beberapa dekade.

        “Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menerapkan reformasi apa pun di Prancis, dengan munculnya anggapan bahwa Prancis tidak dapat diperintah,” kata Kenningham.

        Tekanan terhadap obligasi Prancis terjadi ketika kondisi fiskal negara tersebut masih rapuh. Pemerintah tengah berupaya mengesahkan anggaran yang mencakup penghematan sebesar €54 miliar untuk memperbaiki keuangan negara.

        Prancis saat ini menghadapi defisit anggaran lebih dari 5% terhadap produk domestik bruto (PDB), sedangkan rasio utang pemerintahnya mendekati 120% PDB. Situasi tersebut membuat pasar semakin sensitif terhadap ketidakpastian politik yang dapat menghambat pelaksanaan penghematan.

        Yield Obligasi Prancis Sudah Menyentuh 4,9%

        Tekanan jual di pasar obligasi Prancis bukan persoalan baru. Pada awal Oktober 2026, yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun sempat mencapai 4,9%, level tertinggi dalam 24 tahun. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan 3,2% pada akhir Februari.

        Saat ini, yield obligasi tersebut masih berada di kisaran 4,8%.

        Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya biaya pembiayaan pemerintah. Ketika investor menjual obligasi, harga obligasi yang beredar cenderung turun sehingga imbal hasilnya meningkat.

        Jika tekanan berlanjut, pemerintah Prancis berpotensi menghadapi biaya lebih tinggi ketika menerbitkan utang baru atau membiayai kembali kewajiban yang jatuh tempo. Dalam jangka panjang, kenaikan biaya utang juga dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah.

        Jonas Goltermann, kepala ekonom pasar Capital Economics, memperingatkan bahwa pasar keuangan berpotensi menghadapi gejolak yang lebih besar.

        “Gambaran situasinya akan terlihat buruk. Pasar obligasi secara umum sudah rapuh dan saat ini Prancis menjadi pihak yang paling terpukul,” ujarnya.

        Kerusuhan dan Pemilu Bayangi Pasar Utang

        Kerusuhan yang melanda Prancis menambah tekanan terhadap upaya pemerintah menjalankan kebijakan penghematan. Lebih dari 1.800 orang dilaporkan telah ditangkap setelah demonstrasi berubah menjadi kekerasan, termasuk pembakaran mobil, penjarahan toko dan restoran, serta kebakaran yang merusak sebagian besar gedung balai kota Limoges.

        Aksi protes awalnya berkaitan dengan kondisi sekolah, tetapi kemudian meluas ke persoalan biaya hidup dan kenaikan harga bahan bakar.

        Ketidakpastian politik juga meningkat menjelang pemilihan presiden Prancis pada musim semi mendatang. Pemimpin sayap kanan Marine Le Pen dan tokoh sayap kiri Jean-Luc Mélenchon dilaporkan memperoleh momentum dalam jajak pendapat.

        Kebijakan fiskal keduanya menjadi perhatian sebagian analis. Partai Rassemblement National yang dipimpin Le Pen telah menguraikan rencana penghematan untuk memperbaiki perekonomian, tetapi sejumlah analis mempertanyakan kelayakannya. Sementara itu, Mélenchon sebelumnya mengusulkan penghapusan sebagian besar utang pemerintah Prancis.

        Kenningham memperingatkan bahwa anggaran pemerintahan mendatang yang dinilai tidak kredibel oleh investor dapat memicu aksi jual obligasi yang lebih besar.

        Ia membandingkan potensi tekanan tersebut dengan gejolak pasar Inggris pada masa pemerintahan Liz Truss pada 2022.

        Goltermann menilai ketidakpastian kemungkinan bertahan hingga pemilihan presiden selesai. Kondisi tersebut dapat membuat investor terus memperhitungkan risiko fiskal Prancis sebelum mengambil keputusan investasi.

        Risiko Menjalar ke Pasar Eropa

        Tekanan di pasar obligasi Prancis juga berpotensi memengaruhi aset keuangan Eropa lainnya. The Telegraph melaporkan bahwa aksi jual obligasi Prancis dapat menambah tekanan terhadap obligasi pemerintah Inggris atau gilts, yang juga menghadapi tekanan dari faktor geopolitik dan kekhawatiran belanja pemerintah.

        Di pasar saham, indeks CAC 40 Prancis telah melemah sekitar 3% sepanjang tahun ini. Kinerjanya tertinggal dari indeks Stoxx Europe 600 yang menguat sekitar 7% pada periode yang sama.

        Goltermann memperkirakan saham Prancis juga berpotensi mengalami tekanan, terutama saham perbankan.

        Bagi investor, perkembangan selanjutnya akan bergantung pada kemampuan pemerintah mengendalikan gejolak sosial, mengamankan anggaran, dan memberikan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal. Jika ketidakpastian berlanjut, pasar obligasi Prancis berpotensi tetap menghadapi tekanan jual dan kenaikan biaya pembiayaan.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: