Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Harga Minyak Dunia Melemah, Brent Turun ke US$109,06 per Barel

        Harga Minyak Dunia Melemah, Brent Turun ke US$109,06 per Barel Kredit Foto: Kementerian ESDM
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Harga minyak dunia melemah pada Selasa (20/10/2026) seiring pelaku pasar mencermati potensi pelonggaran sanksi Amerika Serikat (AS) terhadap ekspor energi Rusia. Di sisi lain, risiko gangguan pasokan akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah masih menjadi perhatian pasar.

        Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun 0,45% menjadi US$109,06 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November melemah menjadi US$103,32 per barel. Kontrak WTI yang lebih aktif untuk pengiriman Desember turun 0,47% menjadi US$98,08 per barel.

        Pelemahan tersebut terjadi setelah harga Brent sempat menyentuh level tertinggi dalam lima bulan, yakni US$110,70 per barel, pada perdagangan sebelumnya.

        Pasar merespons perintah eksekutif Presiden AS Donald Trump yang berpotensi memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi dan tarif terkait ekspor energi Rusia. Kebijakan tersebut dinilai dapat membuka peluang peningkatan pasokan bahan bakar Rusia ke pasar global.

        Namun, keputusan final mengenai pengecualian tersebut belum ditetapkan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan pemerintah masih membutuhkan waktu untuk mengevaluasi dampak kebijakan tersebut.

        Ketidakpastian mengenai besaran dan keberlanjutan tambahan pasokan Rusia membuat pelaku pasar belum dapat memastikan sejauh mana kebijakan itu akan menekan harga minyak dunia.

        Di sisi lain, produksi minyak Rusia sedikit meningkat pada September. Meski demikian, produksinya masih jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menurut Badan Energi Internasional (IEA).

        Sementara itu, perkembangan geopolitik di Timur Tengah terus membayangi prospek pasokan energi global. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman mengklaim telah melancarkan sejumlah serangan terhadap fasilitas energi dan militer Arab Saudi, termasuk fasilitas milik Aramco serta sejumlah bandara besar.

        Pihak berwenang Arab Saudi belum mengonfirmasi klaim serangan tersebut. Secara terpisah, serangan Houthi di Yaman dilaporkan menewaskan 58 orang dan melukai lebih dari 200 orang.

        Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah, Kebijakan Trump Buka Peluang Pasokan Rusia Bertambah

        Baca Juga: Bahlil Ungkap Subsidi LPG Bengkak Hampir Rp100 Triliun Imbas Lonjakan Harga Minyak

        Situasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur distribusi minyak di kawasan Teluk.

        Di Amerika Serikat, data awal menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah dan produk minyak. Perkembangan ini mengindikasikan permintaan energi yang masih cukup kuat, sehingga turut menjadi faktor yang diperhitungkan pelaku pasar dalam menilai keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dwi Aditya Putra
        Editor: Dwi Aditya Putra

        Bagikan Artikel: