Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harga Minyak Dunia Melemah, Kebijakan Trump Buka Peluang Pasokan Rusia Bertambah

Harga Minyak Dunia Melemah, Kebijakan Trump Buka Peluang Pasokan Rusia Bertambah Kredit Foto: SKK Migas
Warta Ekonomi, Jakarta -

Harga minyak dunia melemah pada perdagangan Senin (19/10/2026), setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memberikan pengecualian terhadap sanksi dan tarif untuk Rusia. 

Kebijakan tersebut berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar Rusia ke pasar global sehingga memengaruhi prospek pasokan energi dunia.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$1,43 atau 1,30% menjadi US$108,43 per barel pada pukul 23.40 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$0,53 atau 0,52% menjadi US$100,88 per barel.

Sebelumnya, harga Brent ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Harga minyak sempat menyentuh US$110 per barel untuk pertama kalinya sejak Mei, seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan ancaman terhadap keamanan jalur pelayaran yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Pada Jumat, Trump menandatangani perintah eksekutif yang memberikan pengecualian terhadap sejumlah sanksi dan tarif utama berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai Graham Act. Undang-undang tersebut ditandatangani bulan lalu atas desakan sejumlah anggota parlemen yang ingin meningkatkan tekanan terhadap Moskow terkait perang di Ukraina.

Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Trump akan menggunakan waktu hingga 60 hari untuk mengevaluasi dampak ekonomi dari kebijakan pengecualian tersebut.

Kebijakan itu muncul setelah Trump mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait ekspor diesel ke Amerika Serikat. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy menilai langkah AS tersebut akan merugikan Ukraina.

Di sisi lain, ketegangan di Timur Tengah masih menjadi faktor yang membayangi pergerakan harga minyak. Peningkatan serangan terhadap kapal komersial telah mengganggu arus pengiriman minyak mentah dari kawasan Teluk.

Perusahaan analitik Kpler dalam catatannya pada Jumat menyebutkan, rata-rata aliran minyak mentah dari kawasan Teluk selama tujuh hari pada pekan lalu turun tajam menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari. Angka tersebut merosot dibandingkan lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Kpler juga mencatat sedikitnya 10 insiden yang terkonfirmasi melibatkan kapal komersial sepanjang pekan lalu.

Baca Juga: Harga Minyak Turun Tipis, Pasar Cermati Rencana AS Longgarkan Sanksi Armada Kapal Bayangan

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun, Investor Cermati Prospek Pasokan dan Konflik Timur Tengah

Meningkatnya ketegangan regional turut terlihat dari pernyataan Mesir yang menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepada Arab Saudi untuk menjaga keamanan dan stabilitasnya dari ancaman kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran.

Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian terhadap prospek pasokan minyak dunia. Di satu sisi, potensi peningkatan ekspor bahan bakar Rusia dapat menambah pasokan di pasar global.

Namun, di sisi lain, gangguan pengiriman minyak akibat konflik di Timur Tengah masih berisiko memperketat pasokan energi dan memengaruhi pergerakan harga minyak ke depan.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra