Disorot Greenpeace soal Bencana, Pemerintah Beberkan Operasi Modifikasi Cuaca di 4 Provinsi
Kredit Foto: Ist
Pemerintah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di empat provinsi untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga Selasa (20/10/2026) pukul 06.00 WIB, operasi tersebut berlangsung di Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.
Pelaksanaan OMC dilakukan melalui penyemaian bahan tertentu untuk mendukung pembentukan hujan. Bahan yang digunakan antara lain natrium klorida (NaCl) dan dry ice atau es kering, dengan penerapannya menyesuaikan kondisi atmosfer di wilayah operasi.
Di antara empat provinsi tersebut, Kalimantan Barat mencatat jumlah penerbangan terbanyak berdasarkan laporan operasional yang tersedia. Operasi yang berlangsung sejak 22 Agustus 2026 itu telah mencapai 107 sorti penerbangan dengan penggunaan 98.800 kilogram NaCl.
Volume curah hujan yang dihasilkan selama operasi di Kalimantan Barat tercatat mencapai 471,2 juta meter kubik. Laporan kejadian hujan pada Senin (19/10/2026) juga mencatat hujan di sejumlah daerah, termasuk Sanggau, Kubu Raya, Sambas, Landak, Kayong Utara, Pontianak, Bengkayang, Kapuas Hulu, Kota Singkawang, dan Ketapang.
Di Kalimantan Selatan, operasi modifikasi cuaca telah berlangsung sejak 10 Oktober 2026. Hingga 20 Oktober pukul 06.00 WIB, tercatat 23 sorti penerbangan dengan penggunaan 23.000 kilogram NaCl, sementara volume curah hujan yang dihasilkan dilaporkan mencapai 222,67 juta meter kubik.
Sementara itu, OMC di Kalimantan Tengah telah berjalan sejak 26 Agustus 2026. Hingga 20 Oktober, tercatat 48 sorti penerbangan dengan total penggunaan 43.800 kilogram NaCl dan volume curah hujan yang dihasilkan mencapai 67,45 juta meter kubik.
Laporan lapangan dan pengamatan alat penakar hujan otomatis menunjukkan hujan turun di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah, antara lain Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kapuas, Gunung Mas, dan Barito Timur. Operasi di wilayah ini juga mendapat dukungan dari posko Kalimantan Selatan untuk mengatasi kendala jarak pandang yang menghambat penerbangan.
Di Sumatra Selatan, operasi modifikasi cuaca berlangsung sejak 16 Oktober 2026. Hingga Selasa pagi, tercatat delapan sorti penerbangan dengan penggunaan 1.600 kilogram NaCl dan 4.000 kilogram dry ice.
Baca Juga: Pemerintah Kombinasikan Dry Ice dan OMC untuk Tangani Karhutla
Dukungan dari Posko Lampung juga diberikan untuk mengantisipasi kendala jarak pandang di Palembang. Operasi menggunakan dry ice dari posko tersebut berlangsung pada 15 hingga 18 Oktober 2026 dengan enam sorti penerbangan dan total penggunaan 4.800 kilogram bahan semai.
Berdasarkan laporan operasional, pelaksanaan OMC di Sumatra Selatan menunjukkan penurunan konsentrasi PM2.5 serta peningkatan jarak pandang. Hasil tersebut diharapkan mendukung kelancaran operasi udara dalam penanganan karhutla, meski data tiap wilayah menggambarkan capaian operasional yang berbeda.
Rincian upaya tersebut disampaikan di tengah sorotan Greenpeace Indonesia terhadap persoalan lingkungan dan penanganan bencana. Dalam aksi di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026), Greenpeace membentangkan spanduk bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”
Menanggapi kritik tersebut, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan pemerintah terus berupaya menangani bencana, termasuk karhutla. “Kita semua berusaha sekeras-kerasnya, semua dilakukan,” ujar Prasetyo dalam keterangannya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama
Tag Terkait: