Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Pemerintahan Prabowo Subianto genap berumur dua tahun pada 20 Oktober 2026. Perspektif penguatan ketahanan pangan nasional pun menunjukkan hasil melalui peningkatan produksi beras dan jagung sepanjang 2025, pengadaan beras dalam negeri yang melampaui target pada 2026, serta penguatan cadangan pangan pemerintah.
Langkah tersebut ditopang kebijakan harga gabah, pembangunan irigasi, dukungan sarana produksi, dan inovasi pertanian di berbagai wilayah Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi nasional sepanjang 2025 mencapai 60,21 juta ton gabah kering giling (GKG), meningkat 13,29% dari 53,14 juta ton pada 2024.
Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi mencapai 34,69 juta ton, bertambah 4,07 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya. Luas panen padi juga meningkat 12,69% menjadi 11,32 juta hektare.
Kinerja positif turut terlihat pada komoditas jagung. Menurut BPS, produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen pada 2025 mencapai 16,16 juta ton, naik 6,74 persen dari 15,14 juta ton pada 2024. Hasil tersebut menjadi bagian dari penguatan pasokan bahan pangan dan pakan, sekaligus memperlihatkan pentingnya diversifikasi produksi di luar beras.
Baca Juga: Puja-puji Bahlil di 2 Tahun Prabowo-Gibran
Pada sisi penyerapan hasil panen, Perum Bulog melaporkan pengadaan gabah dan beras dalam negeri telah mencapai 4.131.492 ton setara beras hingga 11 Oktober 2026. Realisasi tersebut setara 103,29% dari target pemerintah sebesar 4 juta ton, sekaligus mencatatkan pengadaan tertinggi sepanjang sejarah Bulog. Capaian ini juga melampaui realisasi pengadaan sepanjang 2025 yang mencapai 3.191.969 ton setara beras.
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menegaskan bahwa keberhasilan melampaui target merupakan hasil kerja bersama berbagai pihak di sentra produksi. “Keberhasilan melampaui target ini menjadi bukti bahwa dengan kerja bersama, amanah Pemerintah dapat kita jalankan secara optimal,” ujar dia.
Penguatan pengadaan tersebut diikuti upaya menjaga cadangan dan keterjangkauan pangan. Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) berada pada kisaran 4,6 juta ton per 18 September 2026.
Pemerintah juga melanjutkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan menyiapkan alokasi bantuan pangan beras bagi 33,24 juta penerima untuk periode Oktober–Desember 2026, masing-masing 10 kilogram per bulan. Program tersebut disiapkan untuk disalurkan secara bertahap sesuai ketentuan kepada masyarakat yang menjadi sasaran.
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya cadangan beras untuk menjaga akses pangan masyarakat.
“Stok kita di Bulog, hari ini masih ada 4,6 juta ton,” ujarnya. Untuk menjaga kepentingan petani, pemerintah juga mempertahankan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram melalui kebijakan pengadaan dalam negeri.
Baca Juga: 2 Tahun Prabowo-Gibran, Menko Airlangga Klaim Politik-Ekonomi Stabil
Untuk mendukung produktivitas, Kementerian Pekerjaan Umum merealisasikan pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi yang melayani sekitar 589.606 hektare pada 2025, serta menargetkan cakupan 750.000 hektare pada 2026.
Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, “Seluruh capaian ini merupakan wujud komitmen Kementerian PU dalam memastikan infrastruktur mendukung ketahanan pangan, pendidikan, dan pertumbuhan ekonomi daerah.”
Modernisasi pertanian turut diperkuat melalui pemanfaatan teknologi digital. Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) mendorong penggunaan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan artifisial untuk membantu petani mengukur kondisi lahan dan mengelola pemupukan secara lebih tepat.
Pada contoh penerapan di Sragen, Jawa Tengah, penggunaan sensor tanah dilaporkan mampu menekan pemakaian pupuk dari sekitar 1.600 kilogram menjadi 750 kilogram per hektare atau sekitar 53 persen. Di Sukabumi, Jawa Barat, teknologi IoT juga dimanfaatkan pembudidaya ikan nila untuk menjaga kondisi air dan mendukung produksi.
Pemerintah menyadari penguatan cadangan dan produksi tetap perlu dibarengi pengendalian harga di tingkat konsumen, kelancaran distribusi antardaerah, perlindungan pendapatan petani, serta antisipasi cuaca ekstrem. Data BPS menunjukkan produksi beras Agustus 2026 masih mengalami penurunan secara tahunan sehingga kesinambungan produksi, penguatan irigasi, dan pengelolaan cadangan tetap menjadi prioritas hingga akhir tahun.
Memasuki tahun ketiga, pemerintah melanjutkan langkah lintas kementerian dan daerah agar hasil produksi tidak hanya meningkat, tetapi juga terserap dengan baik, tersimpan secara memadai, dan dapat diakses masyarakat dengan harga terjangkau. Dengan kontribusi sentra pangan dari Sumatera hingga Papua, ketahanan pangan nasional diarahkan menjadi fondasi kemandirian ekonomi sekaligus perlindungan masyarakat di tengah tantangan global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: