Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Masih Dibayangi Rupiah dan MSCI, Keputusan BI Jadi Penentu Arah Pasar

        IHSG Masih Dibayangi Rupiah dan MSCI, Keputusan BI Jadi Penentu Arah Pasar Kredit Foto: Antara/Muhammad Adimaja
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berupaya bangkit di tengah tekanan jual investor asing, pelemahan rupiah, dan ketidakpastian evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI). Keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu (21/10/2026) menjadi salah satu katalis yang dinantikan investor untuk menentukan arah pasar selanjutnya.

        Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta menilai IHSG secara teknikal telah menyelesaikan fase awal pola gelombang wave 5/(C)/Y. Indikator Stochastic K_D dan Relative Strength Index (RSI) menunjukkan sinyal positif, disertai peningkatan volume perdagangan.

        “Penguatan IHSG di tengah tekanan jual asing menunjukkan adanya daya serap dari investor domestik. Namun, rebound ini belum serta-merta menandakan kepercayaan pasar telah pulih sepenuhnya,” kata Nafan dalam riset hariannya, Rabu (21/10/2026).

        Dia menyebut, tekanan pasar masih signifikan. Net foreign sell harian mencapai Rp2,13 triliun, sedangkan secara kumulatif sepanjang tahun berjalan mencapai Rp116,45 triliun. IHSG juga tercatat melemah 38,95% secara year to date (ytd).

        Investor domestik, yang menguasai sekitar 56% transaksi, berperan menopang indeks, terutama melalui saham-saham berkapitalisasi besar. Koreksi tajam sebelumnya turut membuka peluang bargain hunting. Meski demikian, ketidakpastian terkait evaluasi MSCI masih membayangi pasar.

        Penyesuaian batas Auto Rejection Bawah (ARB) oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dan pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG berpotensi meredam tekanan jual. Namun, pemulihan berkelanjutan tetap membutuhkan perbaikan transparansi, tata kelola, likuiditas, dan kredibilitas pasar modal.

        Keputusan BI dan Stabilitas Rupiah Jadi Perhatian

        Dia menyebut, pasar saham juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur BI. Konsensus ekonom dalam bahan analisis memperkirakan BI berpotensi menaikkan BI-Rate menjadi 6,00% untuk merespons tekanan terhadap rupiah. Dalam data yang disampaikan, rupiah terapresiasi 0,30% ke level Rp17.992 per dolar AS.

        Jika BI mempertahankan suku bunga dengan komunikasi yang meyakinkan mengenai stabilitas rupiah, sentimen saham perbankan dan obligasi berpotensi membaik. Sebaliknya, kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pendanaan dan menekan pertumbuhan kredit. 

        "Alternatifnya, BI dapat mempertahankan suku bunga sembari mengoptimalkan intervensi valuta asing, instrumen lindung nilai, dan pengelolaan likuiditas, selama tekanan nilai tukar masih terkendali," jelas Nafan.

        Dari sisi penopang pasar, rencana buyback sejumlah emiten, peningkatan partisipasi investor institusi domestik, serta rencana pembelian saham oleh Danantara dan konsorsium yang dikaitkan dengan Jusuf Hamka berpotensi memperkuat permintaan. Namun, dampaknya bergantung pada realisasi, besaran dana, dan konsistensi pelaksanaan.

        Baca Juga: IHSG Meroket 5,6%, Saham BUMN dan Korporasi Jumbo Kompak Menguat

        Baca Juga: Pengamat: Pejabat Sebaiknya Jangan Bicara Lagi soal Karhutla, IHSG, dan Rupiah

        Baca Juga: Tanpa Saham HSC, IHSG Diperkirakan Bisa Tembus 5.925

        Sentimen global turut memberikan dukungan. Harga minyak Brent turun 0,42% menjadi US$109,09 per barel setelah muncul laporan tawaran kompromi baru dalam mediasi AS-Iran. 

        "Penurunan ini berpotensi meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb. Sementara itu, laporan keuangan kuartal III-2026 sejumlah emiten AS menunjukkan hasil beragam: Equifax naik hampir 11%, Hasbro menguat lebih dari 9%, dan 3M naik sekitar 6%, sedangkan General Motors turun 8,5%," ungkap Nafan.

        Nafan memetakan level support IHSG di 5.111 dan 4.907, serta resistance di 5.333 dan 5.597. Kemampuan indeks bertahan di area support dan menembus resistance akan menjadi indikator penting bagi keberlanjutan rebound.

        “Investor sebaiknya mengakumulasi saham-saham pilihan yang memiliki fundamental solid, neraca keuangan sehat, prospek pertumbuhan jelas, serta likuiditas perdagangan yang kuat, dengan tetap menerapkan manajemen risiko secara disiplin,” tutup dia.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Dian Ihsan
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: