Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
PT Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) memperkirakan IHSG berpotensi naik 18,6% ke level 5.925 jika saham-saham yang masuk dalam daftar high shareholding concentration (HSC) dikeluarkan dari perhitungan indeks. Angka tersebut lebih tinggi 928 poin dibandingkan posisi IHSG pada Senin (19/10/2026) yang berada di kisaran 4.997.
Managing Director Research Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su menjelaskan saham-saham HSC mengalami penurunan paling dalam sehingga menjadi salah satu penekan utama IHSG.
Meski begitu, pemulihan IHSG masih bergantung pada pergerakan investor asing. Selama investor asing terus melakukan aksi jual, indeks berpotensi tetap tertekan. Terlebih, porsi kepemilikan asing pada saham-saham HSC relatif terbatas.
“Selama asing masih keluar dari market kita, tentunya indeks kita masih akan tertekan, terutama karena asing tidak memiliki banyak kepemilikan di saham HSC,” ujar Harry dalam risetnya, seperti diberitakan Selasa (20/10/2026).
Bobot Saham HSC 18% Terhadap IHSG
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) memutuskan untuk mengecualikan 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari penghitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, kebijakan tersebut merupakan bagian dari dua inisiatif baru untuk memperkuat transparansi dan integritas pasar modal Indonesia. Langkah itu disampaikan setelah BEI menggelar pertemuan daring dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin (19/10/2026).
“Untuk memberikan gambaran yang lebih wajar dari IHSG, kami akan mengeluarkan seluruh saham dalam HSC dari IHSG. Saat ini kisarannya 18%,” ujar Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Senin (19/10/2026).
Saham yang masuk kategori HSC memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi sehingga porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan secara luas atau free float dapat terbatas. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi pembentukan harga saham dan representasi pergerakan pasar dalam indeks.
Dengan kebijakan ini, pergerakan harga saham yang masuk daftar HSC tidak lagi diperhitungkan dalam penghitungan IHSG. Meski demikian, pengecualian tersebut bukan berarti penghapusan pencatatan atau delisting. Saham-saham tersebut tetap tercatat dan dapat diperdagangkan di BEI.
Jeffrey mengatakan, bursa akan mengumumkan lebih lanjut waktu efektif penerapan kebijakan tersebut.
“Kedua inisiatif tersebut kami harapkan dapat memberikan transparansi yang lebih baik dan data pasar yang lebih berintegritas,” katanya.
Sebelumnya, BEI telah mengecualikan saham-saham HSC dari sejumlah indeks unggulan, seperti IDX30, LQ45, dan IDX80. Ke depan, kebijakan serupa akan diperluas ke IHSG.
Kebijakan ini akan memengaruhi saham-saham yang saat ini menyumbang sekitar 18% terhadap bobot indeks, termasuk PT DCI Indonesia Tbk (DCII), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
Selain mengecualikan saham HSC dari penghitungan IHSG, BEI akan menambahkan informasi mengenai status afiliasi pemegang saham dengan kepemilikan sebesar 1% atau lebih.
Baca Juga: Bobotnya 18% di IHSG, Ini 80 Saham Masuk Daftar HSC! Banyak Punya Konglo
Baca Juga: BEI Keluarkan Saham HSC dari Perhitungan IHSG, Ini Dampaknya
Baca Juga: Usai Bertemu MSCI, BEI Siapkan Dua Langkah Baru untuk Benahi Pasar Modal
Informasi tersebut akan menunjukkan apakah pemegang saham terkait merupakan pihak terafiliasi atau tidak terafiliasi. Dengan demikian, investor diharapkan memperoleh gambaran lebih jelas mengenai struktur kepemilikan emiten dan hubungan di antara para pemegang saham.
Kedua inisiatif tersebut menjadi bagian dari reformasi integritas pasar modal Indonesia, terutama dalam memperkuat transparansi kepemilikan saham dan meningkatkan kualitas informasi bagi investor.
Pertemuan BEI dengan MSCI pada Senin juga membahas berbagai persoalan terkait pasar modal Indonesia. Namun, Jeffrey belum mengungkapkan secara terperinci isi pembahasan maupun kesimpulan pertemuan tersebut.
“Seperti yang rekan-rekan ketahui bahwa menyusul pengumuman yang disampaikan oleh MSCI hari Jumat kemarin, hari ini kami telah bertemu secara online dengan MSCI. Membicarakan banyak hal, tetapi seperti pertemuan-pertemuan sebelumnya dengan MSCI, kami tidak dapat mengungkap detail maupun kesimpulan dari pertemuan tersebut,” ujarnya.
Berikut daftar 80 Saham HSC yang akan dikecualikan dari penghitungan IHSG, antara lain:
- PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO)
- PT Akasha Wira International Tbk (ADES)
- PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA)
- PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI)
- PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
- PT Asia Sejahtera Mina Tbk (AGAR)
- PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA)
- PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
- PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA)
- PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS)
- PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA)
- PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII)
- PT Bank Mega Tbk (MEGA)
- PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
- PT Bank of India Indonesia Tbk (BSWD)
- PT Bank Permata Tbk (BNLI)
- PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN)
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN)
- PT Berdikari Pondasi Perkasa Tbk (BDKR)
- PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE)
- PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP)
- PT Bayan Resources Tbk (BYAN)
- PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)
- PT Charnic Capital Tbk (NICK)
- PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)
- PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP)
- PT Citra Putra Realty Tbk (CLAY)
- PT DCI Indonesia Tbk (DCII)
- PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA)
- PT Diamond Food Indonesia Tbk (DMND)
- PT Duta Pertiwi Tbk (DUTI)
- PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
- PT Enseval Putera Megatrading Tbk (EPMT)
- PT FAP Agri Tbk (FAPA)
- PT Famon Awal Bros Sedaya Tbk (PRAY)
- PT Global Digital Niaga Tbk (BELI)
- PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
- PT Golden Flower Tbk (POLU)
- PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
- PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING)
- PT Hotel Fitra International Tbk (FITT)
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH)
- PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET)
- PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
- PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)
- PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE)
- PT Kota Satu Properti Tbk (SATU)
- PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI)
- PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO)
- PT Mahkota Group Tbk (MGRO)
- PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI)
- PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE)
- PT Multi Spunindo Jaya Tbk (MSJA)
- PT Multipolar Technology Tbk (MLPT)
- PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI)
- PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI)
- PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN)
- PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL)
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)
- PT Royalindo Investa Wijaya Tbk (INDO)
- PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)
- PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME)
- PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)
- PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)
- PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ)
- PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO)
- PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
- PT Sillo Maritime Perdana Tbk (SHIP)
- PT Siantar Top Tbk (STTP)
- PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
- PT Steady Safe Tbk (SAFE)
- PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
- PT Temas Tbk (TMAS)
- PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI)
- PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI)
- PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS)
- PT Golden Eagle Energy Tbk (SMMT)
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan