Kredit Foto: Phapros
Laba Phapros (PEHA) Melonjak 541%, Valuasi Saham di Bawah Rata-Rata Historis
PT Phapros Tbk. (PEHA) membukukan laba bersih Rp15,29 miliar pada semester I/2026, melonjak 541% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah pemulihan kinerja tersebut, valuasi saham perseroan tercatat rendah dengan rasio price to earnings (PER) 4,97 kali dan price to book value (PBV) 0,48 kali berdasarkan data yang disampaikan analis pasar modal sekaligus Founder MikirDuit, Surya Rianto.
Kinerja Phapros ditopang pertumbuhan penjualan, peningkatan margin kotor, pemulihan pendapatan lain-lain, serta penurunan beban keuangan. Perusahaan farmasi tersebut juga menargetkan pertumbuhan penjualan di atas 20% sepanjang 2026.
Surya mengatakan rasio PER trailing twelve months (TTM) Phapros berada di bawah rata-rata historis valuasi perseroan selama tiga tahun terakhir, yakni 15,7 kali. Sementara itu, PBV sebesar 0,48 kali juga berada di bawah rata-rata historis tiga tahunnya sebesar 0,56 kali.
“Dari segi price to book value (PBV) juga terdiskon secara historis. PBV PEHA sebesar 0,48 kali sudah berada di bawah rata-rata PBV band 3 tahunnya yang sebesar 0,56 kali,” ujar Surya, Rabu (21/10/2026).
Meski demikian, valuasi yang rendah tidak dengan sendirinya menjamin kenaikan harga saham. Prospek PEHA tetap bergantung pada kemampuan perusahaan mencapai target penjualan, mempertahankan margin, dan meningkatkan profitabilitas.
Berdasarkan laporan keuangan semester I/2026, Phapros mencatatkan penjualan Rp482,85 miliar, naik 5,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen over the counter (OTC), yakni obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter, menjadi salah satu pendorong pertumbuhan dengan penjualan Rp108,17 miliar atau meningkat 16,3%.
Sementara itu, segmen Obat Generik Berlogo (OGB) tetap menjadi kontributor pendapatan terbesar. Penjualan segmen ini mencapai Rp261,62 miliar, tumbuh 5,46% secara tahunan.
Pertumbuhan penjualan tersebut diikuti perbaikan efisiensi biaya produksi. Beban pokok penjualan hanya meningkat 0,38% menjadi Rp239 miliar, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan penjualan.
Kondisi tersebut mendorong margin laba kotor atau gross profit margin (GPM) Phapros naik menjadi 50,43% dari 47,96% pada semester I/2025.
Perbaikan margin juga terjadi pada kedua segmen utama. GPM segmen OTC meningkat menjadi 58,63% dari 49,41%, sedangkan GPM segmen OGB naik menjadi 39,18% dari 37,07%.
Pendapatan Lain Pulih, Beban Keuangan Turun
Faktor lain yang menopang peningkatan laba Phapros adalah pemulihan pendapatan lain-lain. Perseroan mencatatkan pendapatan lain-lain bersih positif Rp250,03 juta, berbalik dari kerugian Rp3,76 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemulihan tersebut antara lain didukung pemulihan piutang usaha senilai Rp277,39 juta dan pendapatan sewa Rp5,3 miliar yang tidak tercatat pada periode pembanding.
Dengan dukungan tersebut, laba usaha Phapros meningkat 24,22% menjadi Rp43,56 miliar.
Perseroan juga berhasil menekan beban keuangan sebesar 7,56% menjadi Rp22,87 miliar. Pada saat yang sama, pendapatan keuangan melonjak 269% menjadi Rp1,25 miliar.
Kombinasi pertumbuhan penjualan, peningkatan margin, pemulihan pendapatan lain-lain, dan penurunan beban keuangan menjadi faktor yang mendukung lonjakan laba bersih pada semester pertama tahun ini.
Dalam paparan publik, manajemen Phapros menargetkan pertumbuhan penjualan di atas 20% pada 2026, laba bersih tumbuh dua digit, serta belanja modal sebesar Rp68,7 miliar.
Dengan realisasi penjualan semester I/2026 sebesar Rp482,85 miliar, Phapros membutuhkan tambahan pendapatan Rp646,21 miliar untuk mencapai target penjualan yang disampaikan manajemen.
“Dengan realisasi penjualan semester I/2026 senilai Rp482,85 miliar, PEHA membutuhkan tambahan pendapatan senilai Rp646,21 miliar untuk bisa mencapai target. Lalu, perseroan perlu menjaga margin keuntungan bersih sekitar 3 persen agar laba bersih bisa tumbuh 23 persen menjadi Rp33,87 miliar,” ujar Surya.
Menurut Surya, prospek pertumbuhan laba bersih dua digit menjadi salah satu faktor yang membuat valuasi saham PEHA terlihat menarik dibandingkan rata-rata historisnya.
Namun, pencapaian target tersebut masih memerlukan pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi pada semester II/2026. Investor perlu mencermati realisasi pendapatan, keberlanjutan perbaikan margin, dan kemampuan perusahaan menjaga beban operasional serta keuangan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: