Kredit Foto: PT Phapros Tbk (PEHA)
PT Phapros Tbk (PEHA) berhasil mengawali tahun 2026 dengan performa keuangan yang impresif. Emiten farmasi anak usaha PT Kimia Farma Tbk ini membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 112,86% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal I-2026.
Pencapaian ini sekaligus melanjutkan tren positif Perseroan setelah pada tahun 2025 lalu mencetak pertumbuhan laba bersih sebesar 109%.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, Phapros mengantongi laba bersih Rp761,49 juta pada tiga bulan pertama tahun ini, berbanding terbalik dengan periode yang sama tahun 2025 yang masih mencatatkan kerugian sebesar Rp5,92 miliar.
Pertumbuhan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar 10,17% menjadi Rp221,09 miliar, dibandingkan kuartal I-2025 yang sebesar Rp200,67 miliar. Di sisi lain, Perseroan berhasil menekan biaya produksi di mana beban pokok penjualan (COGS) hanya tumbuh 5,04%, jauh di bawah pertumbuhan penjualan.
Plt. Direktur Utama PT Phapros Tbk, Ida Rahmi Kurniasih, mengungkapkan bahwa di tengah dinamika global, Perseroan tetap konsisten menjalankan strategi optimalisasi di semua lini guna menjaga profitabilitas berkelanjutan.
“Phapros konsisten menjalankan strategi optimalisasi semua chanel penjualan, menjaga kestabilan ketersediaan produk serta terus mengedepankan efisiensi biaya di semua lini. Tentu dengan tetap mengedepankan standar mutu yang tinggi dan kepatuhan kepada regulasi,” ujar Ida dalam keterangan resminya, Rabu (21/4/2026).
Segmen OGB Jadi Penopang
Kontributor utama penjualan pada kuartal I-2026 berasal dari segmen Obat Generik Bermerek (OGB) yang melonjak 59% menjadi Rp128,70 miliar. Produk seperti Obat Anti Tuberkulosis serta Tablet Tambah Darah menjadi tumpuan utama dalam mendukung program pemerintah di bidang kesehatan.
Selain performa laba, kondisi likuiditas Perseroan juga menguat. Arus kas (cashflow) operasional per 31 Maret 2026 tercatat positif Rp37,2 miliar, melesat 289% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang masih minus Rp19,6 miliar. Saldo kas akhir periode juga tercatat naik 165% secara tahunan.
Ida menambahkan, Perseroan telah menyiapkan langkah mitigasi untuk menghadapi tantangan geopolitik yang berpotensi menaikkan harga bahan baku.
Baca Juga: Rugi Kimia Farma (KAEF) Terpangkas 60%, Sisa Rp334,9 Miliar di 2025
Baca Juga: PPG Perkuat Rencana Bisnis Distribusi Farmasi dan FMCG di Indonesia
“Menyikapi dampak geopolitik yang menyebabkan kenaikan harga bahan dan biaya, kami sudah melakukan mitigasi risiko dengan kontrak pembelian sejak awal tahun. Tujuannya agar target penjualan, biaya dan laba bersih hingga akhir tahun sesuai RKAP bisa diamankan,” tegasnya.
Sebagai informasi, Phapros saat ini memproduksi lebih dari 200 item obat dan merupakan pemimpin pasar di kategori obat mabuk perjalanan melalui merek unggulannya, Antimo. Komposisi saham Perseroan saat ini dimiliki oleh PT Kimia Farma Tbk sebesar 56,77% dan sisanya oleh publik.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: