Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Dedi Mulyadi Soal Jabar Tinggi PHK: Saat Berhenti Ramai Bercerita, Pas Masuk Kerja Diam Saja

        Dedi Mulyadi Soal Jabar Tinggi PHK: Saat Berhenti Ramai Bercerita, Pas Masuk Kerja Diam Saja Kredit Foto: PHK
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Barat (Jabar) tidak melulu soal angka statistik pengangguran dan nilai investasi, melainkan juga menyoal realitas sosiologis dan psikologis masyarakatnya yang ternyata dapat mempengaruhi data angka dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

        Dikutip Kamis (22/10/2026) Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti sebuah fenomena unik namun ironis yang kerap mewarnai siklus ketenagakerjaan, yakni kecenderungan perilaku para pekerja yang sangat vokal menggemakan keluhan saat terkena pemutusan kerja namun mendadak bungkam ketika mereka berhasil mendapatkan pekerjaan baru.

        Baca Juga: Kubu Jokowi Ungkap Jaringan 'Penumpang Gelap' di Isu Ijazah Gibran: Aktornya Muncul Satu Per Satu...

        Dedi menjelaskan bahwa meskipun gelombang pemutusan kerja tidak bisa dipungkiri keberadaannya, roda rekrutmen di perusahaan-perusahaan lain sejatinya terus berputar seiring dengan masuknya investasi ke Jawa Barat.

        Ia mengamati bahwa perputaran tenaga kerja, di mana seseorang kehilangan pekerjaan hari ini namun diterima di pabrik lain beberapa bulan kemudian, adalah hal yang sangat lazim terjadi. Sayangnya, informasi yang beredar di tengah masyarakat kerap kali terdistorsi oleh perilaku selektif dalam berbagi informasi.

        “Ada yang berhenti, ada yang masuk. Dan ingat, ketika ada yang berhenti, setelah berhenti, mereka masuk lagi kerja. Ada yang berhenti waktu berhenti, mereka bercerita; waktu masuk kerja, mereka tidak bercerita,” ungkap Dedi.

        Menurut Dedi, kebiasaan masyarakat yang hanya memviralkan nasib buruk (PHK) tanpa mempublikasikan keberhasilan mereka saat kembali diserap oleh industri, telah menciptakan persepsi keliru bahwa lapangan kerja di Jawa Barat.

        Padahal, dari hasil inspeksi dan pengecekan silang yang dilakukan oleh jajaran pemerintah provinsi, banyak buruh terdampak pemutusan kerja yang sebenarnya telah kembali bekerja di sektor atau perusahaan lain yang baru membuka operasionalnya.

        “Ini juga catatan penting yang saya dapatkan ketika mengecek ketersediaan lapangan kerja,” tekannya.

        Ia menekankan bahwa kebijakan pemerintah didasarkan pada data lapangan yang riil, bukan sekadar opini yang viral di media sosial.

        Gubernur yang dikenal gemar blusukan ini berharap masyarakat bisa lebih objektif dalam melihat ekosistem ketenagakerjaan di Jawa Barat.

        Pemerintah provinsi menyadari betul bahwa transisi antar-pekerjaan (frictional unemployment) membawa dampak psikologis bagi buruh. Oleh karena itu, sang gubernur meminta seluruh elemen, baik serikat pekerja maupun masyarakat umum, untuk turut menyebarkan optimisme ketika peluang kerja baru berhasil diraih.

        Baca Juga: Kubu Dokter Tifa Cium Alasan di Balik Gelagat Jokowi Sengaja Hindari Sidang Kasus Ijazah

        Dedi meyakini kondusivitas sosial di Jawa Barat akan semakin terjaga. Hal ini pada akhirnya akan memberikan sinyal positif bagi para pemodal asing maupun dalam negeri bahwa provinsinya bukan hanya tempat yang menguntungkan secara bisnis, tetapi juga didukung oleh ekosistem pekerja yang tangguh, adaptif dan berpandangan maju.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: