Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Prabowo Serukan Perlawanan usai Bursa Hancur Diserang MSCI: Kita Punya Kekuatan dan Rela Berkorban

        Prabowo Serukan Perlawanan usai Bursa Hancur Diserang MSCI: Kita Punya Kekuatan dan Rela Berkorban Kredit Foto: BPMI
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) sukses memporak-porandakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Saking suksesnya, hal tersebut membuat naik pitam sosok dari Presiden Prabowo Subianto.

        Prabowo menegaskan bahwa negaranya sangat siap berhadap-hadapan dan melawan balik dominasi narasi kapitalis asing dengan bermodalkan kekuatan fundamental bangsa dan kerelaan untuk berkorban. Ia menyoroti bagaimana bursa lokal terancam turun dari emerging market (pasar berkembang) menjadi stand-alone market (pasar mandiri).

        Baca Juga: PHK di Jabar Masih Tinggi Meski Investasi Melonjak Tajam, Ini Pengakuan Dedi Mulyadi

        Manuver ini dinilainya sarat akan tekanan politis dan ekonomi. Prabowo menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan dan pelaku pasar domestik untuk merapatkan barisan dan tidak mudah panik menghadapi gertakan institusi global.

        "Saudara sekalian, kita tidak takut. Kita punya kekuatan, kita punya keberanian, dan kita rela berkorban dan kita tidak mengenal menyerah," ungkap Prabowo dikutip Kamis (22/10/2026).

        MSCI sebelumnya menjadikan persoalan tata kelola bursa domestik sebagai dalih utama konsultasi downgrade. Ia menuduh pasar modal tanah air memiliki cacat struktural, mulai dari struktur kepemilikan emiten yang tidak transparan, penguasaan saham yang terlalu terkonsentrasi pada afiliasi tertentu hingga tudingan adanya praktik perdagangan yang terkoordinasi secara kotor.

        Dampak dari "surat peringatan" tersebut sangat fatal. Terjadi pendarahan hebat di lantai bursa akibat aksi panic selling. IHSG baru-baru ini hancur lebur usai anjlok 11,6 persen, menelan kerugian kapitalisasi pasar hingga Rp1.528 triliun.

        Menghadapi potensi terhentinya kucuran dana asing dalam jumlah raksasa, presiden telah menyiapkan skenario terburuk (worst-case scenario). Sikap "rela berkorban" yang didengungkan olehnya tidak hanya berhenti pada tataran retorika politik.

        Prabowo secara gamblang merumuskan strategi pertahanan fiskal paling radikal untuk menjaga agar mesin perekonomian negara tetap berputar tanpa harus bergantung pada belas kasihan portofolio asing.

        "Kalau perlu, kita adakan penghematan besar-besaran. Kita lebih hemat lagi nanti," tutur Prabowo.

        Baca Juga: Terlalu Beratkan Danantara, Prabowo Setujui Rencana Ubah Definisi Korupsi di Indonesia

        Langkah penghematan besar-besaran ini diyakini akan menyasar pemotongan anggaran operasional kementerian, penundaan proyek-proyek non-prioritas yang boros devisa, hingga rasionalisasi belanja negara untuk memperkuat cadangan kas nasional.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Aldi Ginastiar
        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: