Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rupiah Tertekan, Ini Alasan BI Tetap Tahan Suku Bunga 5,75%

        Rupiah Tertekan, Ini Alasan BI Tetap Tahan Suku Bunga 5,75% Kredit Foto: Sufri Yuliardi
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada Oktober 2026, meski nilai tukar rupiah masih tertekan oleh ketidakpastian global dan sentimen pasar keuangan domestik.

        Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Firman Mochtar menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil karena bank sentral menilai inflasi ke depan masih akan berada dalam sasaran, yakni 2,5% plus minus 1%.

        Menurut Firman, pelemahan rupiah memang menjadi perhatian BI. Tekanan berasal dari tingginya imbal hasil aset keuangan negara maju, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), serta pergerakan arus modal asing.

        Dari dalam negeri, sentimen terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) turut menekan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

        “Jadi aliran modal keluar, tekanan global dan tekanan domestik, yang secara umum memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah,” ujar Firman dalam kegiatan Taklimat Media di Gedung Bank Indonesia, Jumat (23/10/2026).

        Meski rupiah menghadapi tekanan, BI menilai kondisi tersebut tidak otomatis mengharuskan bank sentral menaikkan suku bunga. Keputusan suku bunga juga mempertimbangkan dampak pergerakan nilai tukar terhadap inflasi ke depan.

        Inflasi masih jadi pertimbangan utama

        Firman menjelaskan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%. Angka tersebut masih berada di bawah batas atas sasaran inflasi BI, yakni 3,5%.

        BI juga telah menghitung berbagai skenario perkembangan ekonomi, termasuk kemungkinan meningkatnya tekanan dari luar negeri dan pelemahan rupiah. Berdasarkan perhitungan tersebut, inflasi ke depan dinilai masih berpeluang bertahan dalam sasaran.

        “Hitungan kita, inflasinya ke depan itu masih akan berada di dalam koridor. Masih di bawah 3,5,” jelasnya.

        Keyakinan bahwa inflasi tetap terkendali menjadi salah satu alasan BI mempertahankan BI-Rate di level 5,75%, meskipun bank sentral tetap mewaspadai gejolak nilai tukar.

        Pasalnya, pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi meningkatkan harga barang impor dan menambah tekanan inflasi. Karena itu, BI tetap memantau perkembangan nilai tukar serta berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas harga.

        Selain suku bunga acuan, BI juga mengoptimalkan instrumen kebijakan moneter lainnya untuk menjaga stabilitas rupiah dan memperkuat ketahanan eksternal perekonomian.

        Firman mengatakan, bank sentral perlu menjaga volatilitas nilai tukar sekaligus mendorong aliran modal masuk melalui strategi kebijakan dan insentif yang sesuai.

        “Kita pertahankan tetap di 5,75 karena kita yakin inflasinya itu ke depan akan terjangkar dalam kisaran, meskipun dengan berbagai skenario,” ungkap Firman.

        Dalam kesempatan yang sama, ia menjelaskan penyesuaian Giro Wajib Minimum (GWM) dan suku bunga Deposit Facility sebagai bagian dari upaya memperkuat transmisi kebijakan moneter.

        Baca Juga: Bank Indonesia Pertahankan Suku Bunga Acuan di 5,75%

        Baca Juga: Kredit Perbankan Tumbuh 13,69%, Tertinggi dalam 10 Tahun Terakhir

        Penyesuaian tersebut ditujukan untuk menjaga keseimbangan likuiditas di pasar uang dan perbankan, sehingga kebijakan suku bunga dapat tersalurkan lebih efektif ke aktivitas ekonomi.

        BI menilai pengelolaan likuiditas penting karena pertumbuhan kredit perbankan relatif lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK). Penyesuaian instrumen tersebut diharapkan membantu mendukung aktivitas ekonomi tanpa mengabaikan stabilitas harga.

        Firman menegaskan BI masih memiliki ruang untuk mendukung pertumbuhan ekonomi selama peningkatan aktivitas tidak memicu tekanan inflasi yang berlebihan.

        Namun, arah kebijakan ke depan tetap bergantung pada perkembangan inflasi, nilai tukar, dan kondisi eksternal. BI membuka kemungkinan menyesuaikan kebijakan apabila perubahan kondisi ekonomi mengharuskannya.

        “Ke depan Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen kebijakan moneter untuk memperkuat ketahanan eksternal,” ujarnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Merlina Aryanti
        Editor: Dian Ihsan

        Bagikan Artikel: