The Legacy Relay 2026: Merawat Warisan Tokoh Bangsa, Menyiapkan Masa Depan Indonesia
Kredit Foto: Yayasan Kartini Heritage Center (KHC)
Yayasan Kartini Heritage Center (KHC) menyelenggarakan kegiatan menyelenggarakan THE LEGACY RELAY 2026 - Special Sumpah Pemuda Forum di Gedung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, pada Rabu (21/10/2026), yang didukung oleh Forum Dialog Nusantara (FDN), dukungan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) serta Jawapos.com . Kegiatan ini mempertemukan pemimpin lembaga, keluarga penerus tokoh bangsa, pelaku industri, akademisi, penggerak masyarakat, dan generasi muda untuk mendiskusikan warisan yang hendak ditinggalkan bagi Indonesia menuju 2045.
Mengusung pertanyaan utama “What Will Our Generation Leave Behind?”, forum tersebut dirancang sebagai ruang dialog lintas generasi yang menghubungkan semangat persatuan Sumpah Pemuda 1928, keberanian berpikir R.A. Kartini, keteladanan integritas Mohammad Hatta, dan visi ilmu pengetahuan serta inovasi B.J. Habibie dengan tantangan yang dihadapi generasi Indonesia hari ini. Pembicaraan tidak hanya diarahkan pada penghormatan kepada sejarah, melainkan juga pada penguatan tanggung jawab untuk meneruskan nilai melalui pendidikan, kreativitas, kepemimpinan, dan karya.
Pembukaan Forum dan Penghormatan kepada Tokoh Bangsa
Dalam pembukaan kegiatan, penghormatan disampaikan kepada Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya; Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiri Fauzi yang diwakili dalam forum oleh Dewa Ayu Laksmi; Kepala Perpustakaan Nasional RI Prof. E. Aminudin Aziz; putri Mohammad Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta, Halida Nuriah Hatta; canggah R.A. Kartini sekaligus Ketua Yayasan Kartini Heritage Center, Joddy Mulyasetya Putra; putra B.J. Habibie sekaligus Ketua Dewan Penasihat FDN, Ilham Akbar Habibie; serta Direktur Eksekutif FDN, Justin Djogo. Apresiasi juga ditujukan kepada seluruh tamu undangan, pembicara, peserta, dan mitra pendukung.
Rangkaian pembukaan menempatkan gagasan tentang warisan sebagai tanggung jawab bersama: pengetahuan yang tidak berhenti pada satu generasi, nilai kebangsaan yang tetap relevan, dan kesempatan yang perlu terus diperluas bagi generasi berikutnya. Perpusnas menjadi ruang penting untuk mempertemukan pengetahuan sejarah dengan pemikiran baru serta mendokumentasikannya secara berkelanjutan. The Legacy Relay 2026 juga merupakan bagian dari rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 atau Konferensi Dunia tentang Ekonomi Kreatif.
Baca Juga: Pascagempa Manggarai, Mustika Ratu Dukung Pemulihan dan Pendidikan Anak
Special Speaker dan National Challenger: Kreativitas sebagai Kekuatan Bangsa
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dalam kapasitas sebagai Special Speaker dan National Challenger. Sesi ini mengangkat tantangan mengenai bagaimana ide, budaya, kreativitas, dan teknologi generasi muda dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi Indonesia. Dialog turut menghadirkan perspektif mengenai ekosistem, kesempatan, dan kolaborasi yang dibutuhkan agar potensi generasi muda dapat berkembang secara berkelanjutan.
Melalui format National Challenger, pertanyaan yang diajukan kepada pembicara dimaksudkan sebagai pemantik refleksi dan dialog, bukan sekadar mencari satu jawaban tunggal. Peserta diajak melihat bahwa membangun Indonesia 2045 memerlukan keterhubungan antara gagasan kreatif, kebijakan, kapasitas usaha, serta partisipasi masyarakat.
The Legacy Table: Ilham Habibie, Halida Hatta dan Joddy Mulyasetya Putra
Salah satu sesi yang menjadi inti refleksi lintas generasi dalam The Legacy Relay 2026 adalah The Legacy Table, yang mempertemukan Ilham Akbar Habibie, putra B.J. Habibie sekaligus Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara; Halida Nuriah Hatta, putri Mohammad Hatta sekaligus Ketua Yayasan Hatta; serta Joddy Mulyasetya Putra, canggah R.A. Kartini sekaligus Ketua Yayasan Kartini Heritage Center. Kehadiran ketiganya mempertemukan tiga jejak pemikiran penting dalam perjalanan Indonesia: keberanian memperjuangkan pendidikan dan kesempatan, keteguhan nilai kebangsaan dan integritas, serta keyakinan pada ilmu pengetahuan dan inovasi.
Melalui The Legacy Table, warisan para pendahulu ditempatkan bukan semata-mata sebagai sejarah keluarga atau nama besar yang dikenang, melainkan sebagai tanggung jawab yang perlu dimaknai kembali oleh generasi masa kini. Sesi ini membawa pertanyaan tentang bagaimana nilai-nilai yang diwariskan R.A. Kartini, Mohammad Hatta, dan B.J. Habibie tetap relevan di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, serta tantangan Indonesia menuju 2045.
Perjumpaan tersebut menegaskan pesan utama The Legacy Relay 2026: setiap generasi menerima warisan pemikiran dan perjuangan, tetapi juga memiliki kewajiban untuk menerjemahkannya menjadi kesempatan, keberanian, karya, dan kontribusi nyata. The Legacy Table menjadi pengingat bahwa meneruskan warisan bangsa bukan berarti sekadar mengulang pencapaian masa lalu, melainkan membangun sesuatu yang dapat diwariskan kembali kepada generasi mendatang.
The Spark: Dara Sarasvati dan Pertanyaan tentang Warisan
Dara Sarasvati tampil dalam sesi The Spark — Pemantik The Next Generation, dengan tajuk “Jangan Menjadi Generasi Terakhir”. Sesi ini mengangkat hubungan antara budaya, identitas, kreativitas, dan peran generasi muda dalam meneruskan warisan yang diterima. Melalui pengantar reflektif tersebut, peserta diajak memasuki pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan generasi sekarang terhadap nilai, pengetahuan, dan identitas budaya yang telah diwariskan.
The Spark menjadi penghubung dari pembacaan nilai para pendahulu menuju pembahasan yang lebih luas mengenai pilihan generasi hari ini: mempertahankan hal-hal yang berharga, membuka ruang inovasi, dan memastikan bahwa warisan dapat terus hidup serta berkembang di tengah perubahan zaman.
Generation Builders: Dialog Lintas Profesi, Industri, dan Generasi
Pada rangkaian Generation Builders: Lightning Relay, para narasumber hadir dari berbagai latar bidang dan membahas pertanyaan yang telah disiapkan sesuai fokus keahlian masing-masing. Tema yang diangkat mencakup ekonomi riil, industri kreatif, kesempatan usaha, profesi masa depan, partisipasi publik, pemberdayaan perempuan, budaya, lingkungan, dan kesetaraan. Setiap sesi mempertemukan beragam perspektif yang relevan bagi peran pemuda dalam membangun Indonesia.
Cecep M. Wahyudin, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Peternakan, hadir dalam pembahasan mengenai peran pangan, produksi, industri, dan ekonomi riil dalam kehidupan Indonesia di tengah perkembangan ekonomi digital. Ibnu Riza, Ketua Umum IESPA, berada dalam dialog mengenai esports, kemunculan profesi baru, ekonomi digital, dan kesiapan generasi muda menghadapi dunia kerja yang terus berubah.
Tsamara Amany Alatas, Staf Khusus Menteri Pemuda dan Olahraga, berpartisipasi dalam dialog mengenai suara generasi muda serta peran mereka dalam perubahan sosial dan politik. Handoko Hendroyono, pendiri dan CEO Filosofi Kopi serta Mbloc Group, hadir dalam pembahasan bagaimana gagasan dapat bertumbuh menjadi komunitas, bisnis, dan gerakan kreatif yang berkelanjutan.
Lutfi Dipa Nawahasta, Ketua Umum BEPRO, terlibat dalam sesi mengenai kepemimpinan pemuda, kewirausahaan, perkembangan ekonomi digital, serta kebutuhan kompetensi masa depan. Dzaki Adinda Husna, pendiri The Mantra Group, berada dalam pembahasan mengenai usaha generasi muda yang mampu membuka kesempatan kerja, kolaborasi, dan dampak ekonomi bagi generasi berikutnya.
Rian Fahardhi, kreator konten dan penggerak suara publik generasi Z, hadir dalam pembahasan mengenai literasi digital, kepercayaan publik, dan partisipasi kritis yang bertanggung jawab melalui media sosial. Mutiara Diah Asmara, Director Communications Djarum Foundation, berada dalam dialog mengenai pelestarian budaya, kepedulian lingkungan, dan tanggung jawab generasi masa kini terhadap masa depan.
Kusuma Ida Anjani, Direktur PT Mustika Ratu Tbk., turut hadir dalam pembahasan tentang bagaimana warisan budaya dan nilai perusahaan dapat terus dijaga sekaligus ditransformasikan agar relevan serta bernilai bagi generasi berikutnya. Elisa Sugito, pegiat hak perempuan dan anak, mengambil bagian dalam dialog mengenai kesempatan, perlindungan, kesetaraan, dan ruang partisipasi yang lebih inklusif dalam pembangunan Indonesia.
Kehadiran para narasumber memperkaya ruang dialog dan memberi dorongan kepada generasi muda untuk merefleksikan peran masing-masing. Forum ini tidak menempatkan satu bidang sebagai jawaban tunggal atas tantangan bangsa, melainkan mengajak peserta menghubungkan kemampuan, minat, dan kontribusi dari berbagai sektor.
60 Seconds for Indonesia: Suara Peserta untuk Masa Depan
Menjelang penghujung kegiatan, peserta memperoleh ruang untuk menyampaikan gagasan melalui sesi “60 Seconds for Indonesia”. Dalam kesempatan selama 60 detik, sejumlah peserta menyuarakan pemikiran, harapan, dan ajakan untuk berkontribusi bagi Indonesia. Gagasan yang disampaikan membentang dari kepedulian terhadap lingkungan, pemanfaatan teknologi dan inovasi, hingga kesiapan menghadapi perubahan dunia kerja atau future of work.
Sesi tersebut menegaskan bahwa The Legacy Relay 2026 bukan hanya menghadirkan pandangan para tokoh dan narasumber, tetapi juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan suara mereka sendiri. Berbagai pemikiran yang muncul menjadi bagian dari semangat penghimpunan gagasan untuk Indonesia 2045, yang selanjutnya akan melalui proses kurasi dan penyusunan buku The Legacy Relay 2026.
Keluaran Utama: Buku The Legacy Relay 2026 - 28 Gagasan untuk Indonesia 2045
Salah satu keluaran utama kegiatan ini adalah penerbitan buku “The Legacy Relay 2026: 28 Gagasan untuk Indonesia 2045”, yang disiapkan sebagai dokumentasi pemikiran lintas generasi. Melalui rangkaian penulisan surat kepada Indonesia 2045, gagasan peserta akan dihimpun dan dikurasi menjadi 28 gagasan terpilih untuk diterbitkan dalam buku tersebut.
Buku ini dirancang bukan sekadar sebagai kumpulan tulisan atau dokumentasi acara, melainkan sebagai ruang untuk menyimpan harapan, pertanyaan, pandangan, dan arah kontribusi generasi hari ini. Proses seleksi, penyuntingan, dan penerbitan menjadi tindak lanjut penyelenggara setelah forum berlangsung. Dengan demikian, gagasan yang lahir dari pertemuan 21 Oktober dapat dibaca kembali dan menjadi bahan pembelajaran bagi generasi mendatang.
Melalui semangat “From Legacy to Action”, KHC juga membuka ruang tindak lanjut kolaboratif agar gagasan yang terdokumentasi memiliki peluang untuk ditransformasikan menjadi kegiatan dan karya yang bermanfaat. Penerbitan buku menjadi komitmen utama yang menghubungkan dialog hari ini dengan warisan pengetahuan untuk masa depan.
Pameran “Dari Ikrar Menjadi Warisan”
Rangkaian The Legacy Relay 2026 turut didahului pameran “Dari Ikrar Menjadi Warisan” di Perpusnas pada 20–30 Oktober 2026. Pameran menampilkan koleksi foto, buku, dan literatur sejarah yang mengajak pengunjung menelusuri Sumpah Pemuda 1928 serta pemikiran R.A. Kartini, Mohammad Hatta, dan B.J. Habibie. Pameran dibuka pada 20 Oktober oleh Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Suharyanto, bersama Joddy Mulyasetya Putra.
Melalui pameran dan forum nasional, penyelenggara menghubungkan ingatan kolektif bangsa dengan tanggung jawab generasi masa kini. Nilai persatuan, pendidikan, integritas, ilmu pengetahuan, kreativitas, serta kepedulian sosial dan lingkungan diposisikan sebagai fondasi yang terus dapat diteruskan melalui kontribusi nyata.
Penghargaan kepada Sponsor dan Mitra Pendukung
Yayasan Kartini Heritage Center menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh sponsor serta pendukung penyelenggaraan The Legacy Relay 2026, yaitu Ragtadea melalui dukungan billboard, Bank BCA, Bank Mandiri, Ayam Gepuk Pak Gembus, Ayam Gepuk, Pak Gembus Spot, Unimix, PANDI, Bakti Lingkungan Djarum Foundation, PT Mustika Ratu Tbk dan Taman Sari Royal Heritage Spa atas dukungan dan partisipasinya dalam kegiatan ini. Seluruh dukungan tersebut turut memperkuat pelaksanaan kegiatan sekaligus memperluas penyampaian pesan tentang pentingnya kontribusi generasi muda bagi masa depan Indonesia.
Penghargaan juga disampaikan kepada Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Forum Dialog Nusantara, dan Yayasan Hatta; serta keluarga penerus tokoh bangsa, seluruh pembicara dan moderator, institusi pendidikan, komunitas, insan media, relawan, panitia, serta para peserta. KHC memandang kolaborasi lintas sektor ini sebagai bentuk kepercayaan bersama terhadap pentingnya ruang dialog yang terbuka, penguatan literasi, dan lahirnya pemikiran baru.
Bagi penyelenggara, dukungan sponsor dan mitra tidak berhenti pada keberhasilan pelaksanaan forum. Kolaborasi tersebut diharapkan terus memberi energi bagi proses kurasi, penyusunan, dan penerbitan buku The Legacy Relay 2026, serta bagi terbukanya kesempatan bekerja sama pada program-program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Baca Juga: Soal Spanduk di Bundaran HI, Polisi Ingatkan untuk Menjaga Cagar Budaya
Baca Juga: Astra Bangun Amphitheater di Desa Kemiren Banyuwangi, Lestarikan Budaya Osing dan Dongkrak Ekonomi
Dari Warisan Menuju Tanggung Jawab Generasi
The Legacy Relay 2026 mengingatkan bahwa setiap generasi menerima sesuatu dari masa lalu, tetapi juga memiliki ruang untuk menentukan apa yang akan ditinggalkan. Menjelang Indonesia 2045, generasi muda didorong tidak hanya menjadi pewaris gagasan, melainkan juga pelaku yang membuka kesempatan, merawat budaya, memajukan pengetahuan, serta menciptakan karya yang menjawab kebutuhan masyarakat.
Dengan semangat “We Inherit Their Legacy. Indonesia Will Inherit Ours.”, KHC menegaskan bahwa pertemuan lintas generasi ini bukanlah akhir dari sebuah percakapan. Estafetnya dilanjutkan melalui gagasan yang didokumentasikan, buku yang akan diterbitkan, serta pilihan dan tindakan yang dilakukan setelah acara selesai.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: