Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        PTPN IV PalmCo Libatkan Ritual Baremah dalam Peremajaan Sawit, Jaga Tradisi Masyarakat

        PTPN IV PalmCo Libatkan Ritual Baremah dalam Peremajaan Sawit, Jaga Tradisi Masyarakat Kredit Foto: Ist
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PTPN IV PalmCo melalui Regional V melibatkan masyarakat adat Dayak dalam ritual Baremah sebelum pelaksanaan kegiatan peremajaan kebun kelapa sawit di Kalimantan Barat. Langkah ini menjadi bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal sekaligus upaya perusahaan menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.

        Ritual Baremah merupakan tradisi masyarakat Dayak untuk memohon restu kepada Sang Pencipta atau Jubata serta menjaga keseimbangan antara manusia dan alam. Pelibatan ritual adat tersebut menegaskan bahwa kegiatan perkebunan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai sosial, budaya, dan spiritual masyarakat setempat.

        Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Kembayan, Thomas S.Pd., M.Si., mengapresiasi komitmen PTPN IV PalmCo yang dinilai konsisten menghormati adat istiadat masyarakat Dayak dalam kegiatan operasional perkebunan.

        Menurut Thomas, tradisi Baremah merupakan warisan leluhur yang memiliki makna penting dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat dengan alam dan Sang Pencipta.

        “Tradisi Baremah ini adalah warisan leluhur kami untuk menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta,” ujar Thomas.

        Ia menilai pelibatan masyarakat adat dalam kegiatan perkebunan menunjukkan penghormatan perusahaan terhadap identitas budaya lokal.

        “Kami sangat mengapresiasi dan menaruh hormat kepada PTPN IV PalmCo yang terus secara konsisten melestarikan kearifan lokal ini dalam setiap langkah operasional mereka. Ini bukan sekadar tentang peremajaan sawit, tetapi tentang bagaimana perusahaan hadir, menghargai, dan menyatu dengan adat istiadat kami. Harmoni seperti inilah yang menjamin keberlanjutan alam dan kedamaian di masyarakat,” katanya.

        Ritual Baremah dilaksanakan sebelum aktivitas yang berkaitan dengan pembukaan atau peremajaan lahan. Dipimpin tokoh spiritual adat setempat, ritual ini menjadi simbol doa dan harapan agar seluruh proses berjalan lancar, aman, serta membawa manfaat bagi perusahaan dan masyarakat sekitar.

        Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo, Arya Sandhiyudha, menegaskan bahwa penghormatan terhadap adat istiadat merupakan bagian dari komitmen perusahaan untuk membangun hubungan harmonis dengan masyarakat di wilayah operasionalnya.

        “Bagi kami di PTPN IV PalmCo, keberlanjutan bisnis tidak bisa dilepaskan dari dukungan dan keharmonisan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi kami,” kata Arya.

        Ia menyebut keterlibatan perusahaan dalam tradisi Baremah di Kalimantan Barat sebagai wujud komitmen untuk tumbuh bersama masyarakat, sekaligus menjaga keseimbangan sosial dan lingkungan.

        “Keterlibatan dalam tradisi seperti Baremah di Kalimantan Barat adalah komitmen nyata kami untuk tumbuh bersama masyarakat. Kami meyakini bahwa menjaga tradisi berarti merawat keseimbangan ekosistem dan sosial. Ini adalah standar operasional kami: maju bersama kemajuan zaman, tanpa pernah melupakan atau meminggirkan kearifan budaya yang telah menjaga alam ini selama berabad-abad,” ujarnya.

        Bagi masyarakat Dayak, tanah tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga berkaitan erat dengan kehidupan sosial dan spiritual. Karena itu, pelibatan masyarakat adat dalam kegiatan perkebunan menjadi salah satu cara untuk menjaga penghormatan terhadap nilai-nilai budaya setempat.

        Pendekatan yang mengedepankan dialog dan penghormatan terhadap tradisi juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perusahaan dan masyarakat serta meminimalkan potensi konflik sosial di sekitar wilayah perkebunan.

        Komitmen PTPN IV PalmCo dalam melibatkan masyarakat adat melalui tradisi Baremah mencerminkan upaya menyelaraskan kegiatan usaha dengan aspek sosial dan budaya. Praktik tersebut diharapkan dapat menjadi referensi bagi pengelolaan industri perkebunan yang lebih memperhatikan kearifan lokal, lingkungan, dan keberlanjutan hubungan dengan masyarakat adat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Ferry Hidayat

        Bagikan Artikel: